Megawati Sukarno Putri Sedang Merajuk Jalan Menjadi Negarawan Besar ?

0
146

Megawati Sukarno Putri Sedang Merajuk Jalan Menjadi Negarawan Besar ?

By : Nur Lapong

Sebulan yang lalu pemirsa dunia medsos di kagetkan oleh pernyataan sdr. Mahfud MD MenKoPolKam di tengah berita2 copras-capres yang mulai saling menghadang dan menjegal dari masing relawan2 yang bermanuver, mulai dari relawan Gangjar Pranowo, Puan, Hartarto dan Anies.

Mahfud MD tiba tiba nyerocos dengan kalimat, Bangsa Indonesia Butuh Strong Leader bersamaan dengan kunjungan silaturrahmi Prabowo Subianto bertemu Kiai Kholil As’ad dan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember, Kiai Ahmad Muzaki Syaha di Ponpes Walisongo Situbondo Jawa Timur tanggal 3 Mei bulan lalu, dimana kedua Kyai besar itu mendoakan Prabowo mulus Nyapres 2024. Apakah kedua peristiwa ini berhubungan apa tidak? Pemirsa hanya bisa menduga duga? Namun bagi kawan saya, seorang spritual yang bermukim di Solo lebih melihatnya dalam ungkapan kebatinan, bahwa ini bukan sesuatu yang berjalan sendiri sendiri tanpa sebab, entah di design atau tidak, bagi kawan saya dia membacanya sebagai tanda-tanda alam ibu pertiwi.

Saya jadi berpikir mungkin kawan saya ini ingin mereview ingatan saya tentang pernyataan GusDur mengenai Prabowo, bahwa dia adalah sosok yang sangat sabar dan ihlas terhadap bangsa dan negara ini. GusDur yang menutup ceritanya saat itu dengan ramalan bahwa Prabowo akan menjadi presiden di Hari Tuanya, usianya sekarang ini.

Mahfud sebagai kader Top NU, Pompes Walisongo Situbondo NU yang bersejarah sebagai salah satu Pondok Keluarga Besar NU yang besar pengaruhnya dan GusDur Tokoh Sentral Generasi ke 3 NU, terkait dalam rekam jejak sepak terjang Prabowo seperti cerita di atas. Ada apa?

Entah peristiwanya berhubungan? Di zona lain perseteruan di PDIP antara Ganjar Pranowo dan pendukungnya semakin memanas, Ganjar ngotot memberi pesan kuat agar di dorong menjadi capres PDIP, tidak kurang simpang siur entah dari mana datangnya, Jokowi dikaitkan memberi sinyal restu sebagai pelanjutnya? Kontan Pengurus PDIP menjadi kepanasan, sdr. Masinton Pasaribu tampil menghakimi Ganjar Pranowo di depan publik dengan Statmen sebaliknya yang lebih kencang. Apakah karena restu dari Ketum PDIP Megawati Sukarno Putri tidak pernah membahas soal ini, apa lagi memberi semacam lampu kuning kepada Ganjar Pranowo?

Apakah ini karena desas desus kuat dikalangan internal PDIP yang terbaca oleh Publik Bahwa Puan Maharani Akan di pasangkan dengan Prabowo Subianto sebagai WapRes dalam Copras-capres mendatang, yang didahului kencangnya foto mereka berdua yang berseliweran tiap hari di dunia medsos, bahkan foto Bertiga mereka, Megawati, Prabowo dan Puang menjadi pemicu panasnya internal PDIP dan Relawan Ganjar yang dipersepsikan mendapat dukungan Jokowi?

Ini menjadi menarik saat yang sama gonjang ganjing di internal PDIP, tiba tiba ada pertemuan 3 Ketum Partai, Golkar – Hartarto, PPP – Soeharso Moenarfah, dan PAN – Zulkifli Hasan, yang ditengarai sebagai sinyal koalisi diluar PDIP dan Gerndra yang makin mesra. Hartarto pun bersikap hanya akan mencalonkan capres dari kader partai kami.

Esoknya SBY dan Surya Paloh tidak mau kalah ikut bertemu namun isi pertemuan, hanya disebut membahas soal bangsa dan negara, namun kepentingan spesifik belum dijelaskan.

Yang menjadi menarik adalah terhelatnya pertemuan Megawati dan Jokowi kemaren di Istana Presiden yang ditunggu tunggu khalayak ramai sebagai jawaban perseteruan di internal PDIP soal copras-capres, soal Puan, Soal Ganjar, soal hubungan Megawati dan Jokowi yang disebut sebut retak.

Alhasil Jokowi menyampaikan posisinya bahwa Megawati Sukarno Putri adalah seperti Ibunya sendiri, dan Megawati pun membalas Jokowi adalah sudah seperti keluarga, namun statement yang menarik dari pertemuan ini adalah sekali lagi dengan tegas menyampaikan kepada publik, seakan memberi nasehat kepada Ganjar Pranowo agar “DISIPLIN”. Apakah ini kode keras kepada Gangjar Pranowo dari Megawati Sukarno Putri sebagai orang jawa yang priyayi, yang bisa di interpretasikan sebagai penolakan halus terhadap Ganjar.

Walau akan banyak kemungkinan kemungkinan prediksi yang lahir atas situasi ini, yang perlu kita tahu adalah Copras-Capres adalah gawean dan perhelatan Partai-partai bukan perhelatan copras capres yang tidak punya partai, itulah logika Parlemen Treshold 20%. Capres siapa pun bisa saja populer tapi semua harus ingat setiap capres harus punya partai yang di dukung PT 20%.

Ada peristiwa akan berulang tapi ceritanya lain? Dulu Megawati mengalah menyerahkan tiket capresnya kepada sosok Jokowidodo dengan satu perhitungan taktis bahwa PDIP akan menjadi partai berkuasa dan Jokowi adalah petugas partainya, sekaligus dia bereksprimen dengan narasi (Persatuan) ayahandanya (NasAKom)? Bahwa dialektika Kiri, Kanan, dan Tengah (istilah pen. agar tidak mis konsepsi) oleh Megawati harus dicairkan dengan memberi Tiket kepada sosok Jokowi sebagai anak keturunan (Kiri) dimana mereka-mereka anak anak ini telah mengalami penderitaan panjang di era Orde Baru, setelah mungkin mendapat banyak masukan dari berbagai pihak yang kompoten (mis. Tokoh TNI dan Intelijen Negara) . Dengan memberi Jokowi kesempatan maka martabat dan harga diri dari mereka-mereka ini kembali secara total dan bersatu membangun kejayaan bangsanya. Respon dari momentum di atas tentu berbeda dengan sosok Ganjar Pranowo hari ini jika ingin memaksakan diri. Mungkin juga tali temali dengan sosok Puan sebagai Putri Mahkota (Sukarno) yang tidak kalah dari sosok Ganjar Pranowo juga harus di beri kesempatan, selain itu Ganjar Pranowo dimata publik dinilai tidak terlalu berprestasi apalagi dengan kasus Rakyat Wadas yang memilukan hati ?

Sekarang Megawati ingin mengulang dialektika narasi (persatuan) itu kembali, tentu dengan perhitungan yang matang oleh masukan berbagai pihak dan dari situasi yang berkembang saat ini. Ada dendam yang masih mencabik antara komponen Orde Lama dan Komponen Orde Baru, ada pula soal anak keturunan PRRI yang masih dendam kepada Republik ini karena opetasi militer di era Sukarno, dimana bapak Prabowo – Sumitro Djoyohadikusumo adalah tokoh pendiri PRRI, ini yang kira kira menurut banyak pihak khususnya Megawati menjadi batu sandungan bangsa ini untuk bisa bergerak lincah membangun Indonesia kedepan yang lebih maju, moderen dan sejahtera.

Jika analis ini benar? Mengapa harus Prabowo? Secara detil dapat di jelaskan, sebab Prabowo adalah Clan Cendana Suharto (Orde Baru / TNI), kriteria berikutnya Partai Prabowo sangat signifikan jika di gabung PDIP maka PT bisa mencukupi untuk tiket Copras capres 20 %. Kriteria berikutnya adalah Prabowo tipikal Strong Leader di banding dengan calon capres lainnya yang di nilai new comer tidak otoritatif dan terkesan nebeng, dan yang pasti tidak ada jaminan menang pilpres karena komponen support yang melatar belakanginya akan sangat meragukan dalam proses pertarungan wilayah dari Sabang sampai Mereuke. Dikuatirkan pula jika mereka menjadi pemimpin mereka-mereka hanya jadi boneka dari gesekan kanan kiri, atas bawah dari berbagai banyak kepentingan. Inilah hitung hitungan yang membuat Megawati makin pede jika pilihannya ini ternyata benar?

Hal lain adaLah sosok Prabowo yang ngotot tetap menjadi Capres yang ke 4 kalinya, yang dilihatnya (mempunyai obsesi besar) yang ingin diabdikan oleh seorang Prabowo kepada negeri ini, sekaligus keyakinan Megawati seorang sosok Prabowo yang militer yang berprestasi akan sanggup menjaga keutuhan NKRI sebagai harga mati dari ronrongan idiologi lain dan kepentingan asing. Bagi seorang Megawati ke utuhan NKRI sebagai warisan perjuangan Sukarno dan kawan kawannya adalah hal yang utama.

Jika runtutan cerita fakta di atas dengan analisis yang berkembang seperti ini dalam persfektif copras-capres, maka dialektika negara dan ibu pertiwi sedang menuju nasib dan takdir kepada pasangan Prabowo Subianto dan Puan Maharani untuk memimpin negeri ini. Hal ini selain Megawati menuntun negeri sedikit demi sedikit menjadi perekat persatuan Indonesia karena memang revolusi Indonesia belum selesai alias belom menjadi dalam satu simpul sekatan yang utuh, Megawati juga sekaligus membuka jalan untuk dirinya menjadi Negarawan Besar sebagai Legacy dari seorang Putri Sukarno.

Wallahualam bissawab?

Jika takdirnya ini terjadi! Prabowo Subianto jadi Presiden seperti ramalan GusDur di dampingi Puan Maharani sebagai paduan pas Sukarno – Suharto plus Sumitro. Tinggal satu pertanyaan apa yang mereka akan lakukan agar NKRI ini utuh atau tidak punah karena Rakyat salah urus seperti harapan para the Founding Fathers dan harapan Megawati ?

PN 9 Juni 2022