Menteri Minyak Goreng

0
140

Menteri Minyak Goreng

Judul di atas meminjam rekaman khalayak. Marak perbincangan. Menandai Zulkifli Hasan (ZulHas) dilantik menjadi Menteri Perdagangan RI. Menggantikan M. Luthfi. Satu opsi Rabu pahing, tradisi Jokowi.

Sebutan “menteri minyak goreng” marak di jagat maya. Berlanjut obrolan warung kopi. Nyaris sepanjang hari. Tak melulu plesetan mirip gunjingan. Terjulur harapan yang belum kesampaian. Apalagi, kalau bukan soal minyak goreng. Surut ketersediaan dan harga mendaki tinggi. Rakyat alit menjerit.

Harapan itu disandarkan di pundak ZulHas. Label “menteri minyak goreng”, menguatkan ekspektasi warga. Sengkarut minyak goreng bagai tajuk utama. Pun sederet masalah kebutuhan pokok lainnya. Ketersediaan dan harga yang tengah “trend” naik tangga. ZulHas dituntut berlari kencang. Ngebut, deh.

Menteri perdagangan dengan tugas berat di antara sorot mata publiknya. Perlu sesegera melahirkan kebijakan-kebijakan populis. Pro-rakyat sebagai keniscayaan. Dituntut menginspirasi agregasi kepentingan rakyat. Langkah inovatif dan progresif. Berkemajuan lebih baik. Tak semata perbaikan. Sebuah pendekatan ultramodern.

Berbekal pengalaman legislatif, ZulHas dalam sorotan kamera. Tak sebatas perbincangan. Langkah keberhasilan yang kelak menjadikanya “hero”. Gagah berani, berkorban dan membela. Di balik itu adalah antisipasi ancaman inflasi. Hal yang juga tengah jadi perhatian ZulHas. Demi harapan itu, kursi legislatif — Wakil Ketua MPR RI — ditanggalkan. Kini sebagai menteri perdagangan berplat RI-32.

Dari arah mana pun, sengkarut minyak goreng wajib jadi prioritas. Ketersediaan dan harga merakyat. Tak sebatas terjangkau, dalam arti luas. Pada kesempatan pertama, ZulHas sudah memotret itu. Ingin melangkah secepat harapan. “Kalau lama-lama, kan kasihan rakyat,” katanya usai pelantikan sebagai menteri anyar. Sinyal tancap gas.

Publik menanti kebijakan mutahir sang menteri. Boleh jadi diawali membuat daftar inventarisasi masalah (DIM). Mengompilasi hingga membangun sinerji antar”stake-holders”. Tak kurang, perlunya langkah simultan. Merangkul para pelaku pasar. Pun kerja lapangan, menjemput bola di pasar-pasar tradisi. Berliku di antara tanjakan. Tuntutan akan “speed and endurance”. Tak semata tancap gas bin “ngebut”. Nah..! ***

Imam Wahyudi
Wartawan senior di Bandung.