CABE catetan babe: Kerajaan Samudera Pasai dan “kerajaan” Tarumanagara

0
50

(Photo Coin mas Samudera Pasai)

Banyak kerajaan2 yang tampil tanpa bukti.
Misalnya Tarumanagara yang katanya kerajaan abad IV M. Prof Dr RM Ng Purbo Tjaroko claim legalitas histori Tarumanagara dibuktikan dengan prasasti Kebon Kopi II dan Prasasti Tugu. Di Tugu Priuk tak ada prasasti. Prasasti yang dia maksud di Batu Tumbu, Priuk.
Baris ke-3 Kebon Kopi berbunyi:

Srimatah Purnawarmanah Tarun-a-naga.

Mestinya letterlijk diartikan Baginda Purnawarman Naga Taruna. Naga Taruna julukan raja.
Kedua prasasti dari medio XIII M, Purnawarman raja Khmer yang tewas dalam Cyam Çoda, serangan Siam di abad itu. Dia bukan orang Bekasi seperti claim Pak Purbo.
Selanjutnya Pak Purbo tarjamah Batu Tumbu, kata dia Batu Tumbu berkisah tentang penggalian parit dari sungai Chandrabagha hingga sungai Gomati. Kemudian, kata Pak Purbo, Purnawarman pesta dengan sembelih 1000 (se-céng) ekor kerbau.

Chandrabagha kutipan dari Batu Tumbu. Artinya sinar bulan purnama yang jatuh ke taman. Purnawarman terluka dalam perang lalu direbahkan di taman.
Gomati di Cakung bukan sungai tapi genangan air. Gomati bahasa Swahili yang artinya gadis jelita. Mungkin genangan air ini indah.
Lagi pula di Bekasi di abad IV M apa ada populasi kerbau mencapai 1000 ekor? Pak Purbo, Pak Purbo.

Time line kelahiran Samudra Pasai, yang didirikan oleh Merah Silu atau Malikus Saleh, sangat jelas. Dan itu tertera dalam coin logam: 1250.
Indicator power system adalah econ. Tak ada power system sebelum peredaran uang. Harus jelas juga apa bisnis kerajaan yang di-claim berhadlir somewhere di Andunisi (nama sebelum Indonesia).

Peredaran alat tukar di zona2 econ yang berpusat di labuhan niaga. Ada sekitar 22 zona econ dari Banda Aceh hingga Bandaneira. Banda artinya zona econ. Kata lain banjar dan rang pada Semarang dan Amurang.
Sulit membayangkan kerajaan yang berlokasi di pinggir sungai bisa tutup APBN pengeluarannya. Kerajaan pinggir sungai itu bukan mayor power system. Kalau minor power system masuk di akal. Makanya tak ada jejak. Membiayai pasukan reguler tidak murah. Bikin istana dan perawatannya pun tak murah. Mana mau abdi istana diupah dengan jeruk purut.

Pasai itu zona econ. Arus alat tukar sudah sejak VII M masuk Lamuri, Aceh. Bukti di meseum Banda Aceh dan Fadli Zon Library.

Tidak semua zona econ menjelma jadi kerajaan. Misal Semarang yang membiayai pembangunan candi Borobudur, expedisi Mataram era Sultan Agung ke Jakarta, dan perang Diponegoro.

Narasi sejarah itu logika, kalau tak logis bukan sejarah.

Ridwan Saidi.