CABE (Catetan Babe*): Masnah, Sang Maestro

102
Masnah bernyanyi diiringi Gambang Kromong Setia Nada | IST
Masnah bernyanyi diiringi Gambang Kromong Setia Nada | IST

JAKARTASATU.COM – Sudah lebih 10 tahun Masnah tiada. Ia adalah seorang maestro penyanyi gambang. Gambang kromong itu bukanlah China tapi musik Indochina, persamaannya dengan gambang kromong pada instrument. Cuma China tak ada gendang/kendang. China ‘kan ada rebab? Yes. Tapi rebab gambamg tiga jenis: te’yan, sukong, kong ahyan.

Tapi pemain gambang ‘kan umumnya China Benteng? Betul. Apa mereka China daratan? Lidah China Benteng Melayu 100%. Bahwa sejak mereka migrasi ke sini, pada XIII M membawa blood China, bisa saja.

Benteng bukan kasteel seperti ditebak-tebak banyak pakar. Benteng bahasa Melayu lama artinya pelosok. Dalam Betawi lama pelojok. Lokasi Neglasari, Tangerang, kampung Masnah, ditilik dari Poris, Tangerang, adalah benteng.

Memang beberapa arkaeolog Indonesia banyak yang terobsesi kasteel Batavia yang tak pernah ada. Kalau rencana saja, memang VOC pernah bikin di atas kertas.

Lagu gambang ada tiga peringkat:
1. Phobin, klasik
2. Dalem, semi klasik
3. Sayur, pop.

Masnah ahli menyanyikan lagu Dalem semisal Kramat Karem, Kodéhél ari gudempal, Cénté manis dipatok burung.

Limabelas tahun lalu saya bertemu Masnah di Pasar Baru Tangerang, pas maleman Imlek. Ia lagi mentas. Saya tanya, apa ‘ncim Masnah punya anak didik? Dia jawab, ada dua.

Dia cerita, kalau mau jadi cokek, penyanyi, yang bagus kudu (mesti) banyak puasa dan sering-sering jarah (ziarah) ke makam Emak Dato di Tanjung Kait, Tangerang.

Masnah pergi bersama lagu Dalem. Setelah itu marak lagu Sayur. Baik pop maupun dangdut dimainkan gambang dengan rentak Sayur. Bintang gambang yang beken saat ini salah satunya Pipit. Ia bernyanyi dengan iringan Gambang Sinta Nara dari Kampung Wates, Tangerang.

Rokok keretek
Jato di empang
Yang gemuk pendek, kokoooh…
Yang saya senang.

*) Ditulis oleh Ridwan Saidi,
budayawan Betawi, sejarawan, dan intelektual Islam

(Yos/Jaksat)