Buku Itu Dokter dan Obat Buat Ragam Perasaan Yang Tak Diakui Sebagai Penyakit

116
Ilustrasi Buku | pexels
Ilustrasi Buku | pexels

Oleh: Hendrajit, wartawan senior dan pengkaji geopolitik.

“Buku itu dokter sekaligus obatnya. Tapi sastrawan Franz Kafka punya pengertian yang lebih dahsyat tentang buku.”

Tulis Kafka dalam catatan hariannya:

“Sebuah buku seharusnya menjadi sebilah kapak yang sanggup memecahkan lautan beku dalam diri kita.”

Pernah dengar penulis Jerman Erich Kastner? Dia pada 1936 jelang meletus Perang Dunia II, menulis buku bertajuk Lyrical Medicine Chest. Semacam apotek syair2 puisi. Hah, buat apa? Untuk penyembuhan penyakit2 rohani, atau perasaan2 orang namun tak mau diakuinya sebagai penyakit.

Nah, Kastner yang punya bakat trans-persepsi, mampu menembus hati manusia dengan melihat dan mendengar, bisa merasakan apa cita2, kekhawatiran dan yang dirasa tak dimiliki seseorang. Dari situ Kastner memilihkan syair2 puisi yang pas dengan penyakit rohani seseorang sebagai terapi penyembuhan.

Berarti, seperti ungkapan Jean Perdu, tokoh utama dalam novel karya Nina George bertajuk The Little Paris Book Shop: “Aku memjual buku seperti obat. Ada buku yang cocok untuk sejuta orang, ada juga yang hanya untuk seratus orang. Bahkan ada juga buku yang ditulis untuk satu orang saja.”

Tentu saja hanya untuk satu orang, bukan dalam arti harfiah. Artinya, buat banyak orang yang membaca buku yang sama, efeknya biasa biasa saja. Namun buat seseorang, bisa mengubah kehidupannya 180 derajat

Kalau dipikir ada benarnya juga. Ada ratusan buku yang sudah dibaca Mahatma Gandhi, tapi karya2 Leo Tolstoy yang dibacanya, mampu memantik cara pandang baru Gandhi dalam memandang India sebagai jajahan Inggris. Sehingga kelak merupakan Bapak Pendiri India.

Vladimir Ulyanov Lenin, ketika membaca novel karya Cherneshevsky, What Have to be Done, memantik cara pandang dan wawasan baru dalam melihat akar krisis Rusia. Sehingga kelak jadi pemimpin besar revolusi Uni Soviet.

Buku dengan begitu juga bisa jadi obat asal sesuai dosis, untuk penyembuhan ragam perasaan orang namun yang tidak diakui sebagai penyakit. Yang artinya buat hal paling pribadi pada seseorang. Termasuk kenapa ya kok susah banget nyari karir kerjaaan yang cocok dan melayani pribadinya yang unik. Sering mudah gonta ganti pacar. Malah sampai ke hal paling dasar, misal di usiaku yang paruh baya saat ini, arah yang kutempuh dah benar belum sih. Yang bertanya tanya ke mana perginya separo perjalanan hidup mereka.

Maka buku tertentu yang kita baca bisa jadi sarana pembebasan, bukan sekadar terapi penyembuhan atau petunjuk. Asalkan memilih buku yang cocok untuk penyakit yang tepat. Di situlah letak inti soal buku sebagai terapi penyembuhan dan bahkan sebagai sarana pembebasan jiwa

Hendrajit, wartawan senior dan pengkaji geopolitik.
Hendrajit, wartawan senior dan pengkaji geopolitik.

Memang kalau saya rasakan secara pribadi sebagai pecinta buku hampir 40 tahun ini, ada buku2 tertentu yang entah kenapa sering saya baca ulang berkali kali, kurasakan ibarat teman seumur hidup yang penuh welas asih.

Tapi ada juga beberapa buku lama yang ketika kubaca kayak ortu yang tiba2 menjewer kuping seakan saya sudah berbuat hal yang nggak pantas. Tapi ada juga novel yang kubaca misalnya Kafka seperti saya kutip tadi, sontak merasa memasuki kekosongan yang menenangkan kayak lagi zikir, meski cuma sesaat.

Tapi ada beberapa buku novel, kalau saya boleh jujur, belakangan kusadari bukan saja terapi penyembuhan sesuai dosis yang pas. Bahkan mampu menciptakan “sarana istimewa”, bahwa yang mustahil itu bisa saja terjadi.

Antara lain, the fourth Protocol, novel karya Frederick Forsyth. Time to Kill dan the King of Tort, John Grisham. Dan tetralogi karya Pramudya Ananta Toer. Terutama Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.

Cuma ya itu tadi. Meminjam istilah Kafka. Buku-buku novel itu memang kurasakan sebagai sebilah kapak yang memecahkan lautan beku diriku. Tapi apakah ini juga sebilah kapak buat anda? Kalau bukan, carilah dan temukan buku yang merupakan sebilah kapak buatmu.

(Yos/Jaksat)