CABE (Catetan Babe*): Memompa Wibawa

95
Bung Karno blusukan di sebuah pasar sekitar tahun 1953/1954 | IST
Bung Karno blusukan di sebuah pasar sekitar tahun 1953/1954 | IST

JAKARTASATU.COM – Dino Pati Jalal, ex Wamenlu RI, menyayangkan Presiden Putin yang lagi-lagi bombardemen Ukraine. Ini, kata Dino, pertanda Presiden Rusia itu abaikan misi perdamaian Presiden Jokowi.

Bukan hanya Dino, beberapa pakar juga bicara sama seperti Dino sebelumnya, dan digemakan sejumlah media dan media sosial. Misi Jokowi kesimpulan mereka membawa misi damai.

Kunjungan Jokowi minggu lalu katanya misi perdamaian yang bahkan kasus Tentara Rusia tinggalkan Snake Island ada diantara mereka yang mengatakan akibat kedatangan Jokowi ke Ukraine. Padahal sejatinya itu usaha diplomasi Turki untuk lancarkan arus barang, dalam hal ini pangan dan pupuk dari Ukraine.

Dalam perjalanan minggu lalu Jokowi cuma berseru hentikan perang. Berseru hentikan perang tidak jadi agenda bahasan pertemuan Jokowi dan Zalenski, juga Jokowi dan Putin. Dengan Zalenski, Jokowi janji bantu obat2an ke Ukrain. Zalenski bicara soal Rusia yang menyusahkan dunia.

Putin sejak Jokowi menginjak Moskwa, saat itu juga ia berkata tak bersedia bicara tentang Ukraine. Dan dalam konferensi pers bersama, Putin kasi usul pada Jokowi agar sudi apalah kiranya membawa soal konflik Rusia dan Ukraine ke forum2 Asean, G20, dan PBB. Giliran Jokowi bicara yang diutarakan lebih banyak soal pangan, pupuk, dan kerjasama tourisne.

Jokowi membawa misi perdamaian dalam kunjungan LN minggu lalu cuma tafsir sementara pakar dan media tertentu. Media luar bahkan sangat sedikit beri tempat pada kunjungan LN Jokowi. Malah ironisnya beberapa pakar asing berkata seruan stop perang beraroma gandum.

Machbub Djunardi, ex Ketua PWI, bercerita saat Bung Karno powerless di awal tahun 1966. BK undang Machbub dan BM Diah minum kopi pagi di serambi belakang istana. Diah terus menerus desak BK bertindak karena koran Merdeka dibreidel Orba. Dengan kesal BK merespon, Hey Diah kau pulang, naik ke gentemg rumahmu dan teriak Merdeka dibreidel…..

Bung Karno realistik dan tidak merasa perlu pompa wibawa. Kalau kantong udara kapasitasnya makin terbatas tak ada guna pompa-pompa wibawa orang.

“Everybody knows from where the power came, but nobody knows where the power gone to”.

*) Ditulis oleh Ridwan Saidi,
budayawan Betawi, sejarawan, dan intelektual Islam

(Yos/Jaksat)