Memperkuat Posisi Rakyat Sebagai Elemen Pergerakan

202
Diskusi Guntur 49 yang bertajuk
Diskusi Guntur 49 yang bertajuk "Menyatukan Indonesia Yang Compang-Camping akibat Pilpres, Capres-Capres dan Calo-Calo Capres" (Sabtu, 2 Juli 2022) | Yos-Jaksat

JAKARTASATU.COM – Kalau mau menyatukan berbagai komponen pergerakan bangsa, maka harus menyatukan dulu cara pandang dan pola pikir. Yaitu Pembukaan UUD 1945 yang dijiwai 5 Sila atau Pancasila.

Kata kunci yang berulangkali disebut dalam pembukaan UUD 1945 adalah kemerdekaan, kedaulatan dan keadilan sosial, demikian sampaikan Hendrajit di acara Diskusi Guntur 49 yang bertajuk “Menyatukan Indonesia Yang Compang-Camping akibat Pilpres, Capres-Capres dan Calo-Calo Capres” (Sabtu, 2 Juli 2022)

“Berarti saripati Pembukaan UUD 45 adalah: nasionalisme kerakyatan anti kolonialisme, sosialisme berwatak indonesia, dan taat pada agama keyakinan masing masing namun bersenyawa dengan karakteristik geografis masing masing daerah,” lanjutnya.

Nasionalisme anti kolonial berbasis kerakyatan, sosialisme berwatak Indonesia, dan beragama dan bersenyawa dengan karakteristik geografis masing-masing daerah, maka itulah yang menyatukan seluruh elemen masyarakat. Sekaligus jadi tolok ukur apakah tatanan sekarang berada dalam rel itu, atau sudah keluar dari rel itu.

“Maka itu, fokus bukan pada Jokowi dan pemerintahannya saja. Tapi pada tatanan dan sistem yang berlaku selama ini apakah mewakili aspirasi berbagai elemen dan klas masyarakat tadi,” tegasnya.

“Jika nasionalisme kerakyatan anti kolonialisme, sosialisme berwatak Indonesia dan masyarakat religius yang peka aspirasi masing-masing daerah tumbuh subur, akan tumbuh lapisan kepemimpinan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk ormas, lsm dan kepartaian,” imbuhnya.

“Maka otomatis rakyat semakin kuat baik posisinya maupun sebagai elemen pergerakan,” pungkas Hendrajit. (Yos/Jaksat)