Pembangunan Jaringan Interkoneksi Bawah Tanah MRT, Sejarah Baru Bagi Jakarta dan Indonesia

94
ubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menginisiasi pembangunan fasilitas interkoneksi bawah tanah pertama di jalur MRT sebagai upaya mewujudkan jaringan interkoneksi bawah tanah dan seamless urban mobility di kawasan berorientasi transit. | IST
ubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menginisiasi pembangunan fasilitas interkoneksi bawah tanah pertama di jalur MRT sebagai upaya mewujudkan jaringan interkoneksi bawah tanah dan seamless urban mobility di kawasan berorientasi transit. | IST
JAKARTASATU.COM – Jakarta berkomitmen untuk tumbuh sebagai kota yang berkelanjutan. Hal ini dibuktikan dengan tata kota berorientasi transit, di mana kemudahan dan kenyamanan nyata dirasakan warga dalam berpindah antarmoda transportasi publik. Sebagaimana komitmen yang dipegang teguh, kawasan berorientasi transit makin dikembangkan dengan terobosan dan inovasi baru. Paradigma pembangunan yang digunakan pun berubah, dari berorientasi kendaraan pribadi atau Car Oriented Development (COD) menjadi berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD).

Hari ini, Kamis (7/7), Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menginisiasi pembangunan fasilitas interkoneksi bawah tanah pertama di jalur MRT sebagai upaya mewujudkan jaringan interkoneksi bawah tanah dan seamless urban mobility di  kawasan  berorientasi  transit. Terowongan pejalan kaki yang menghubungkan antara Gedung Thamrin Nine UOB dan Stasiun Dukuh Atas BNI ini merupakan bukti nyata bahwa kerja kolaboratif, dalam hal ini fasilitas transportasi publik dan bangunan komersial di lahan privat, akan menghadirkan kemudahan bermobilitas.

““Ini hari yang bersejarah, ini sejarah baru di Jakarta dan Indonesia karena kita  memulai sebuah proyek pembangunan jalan pedestrian di bawah tanah, di mana penumpang MRT nantinya akan melewati tunnel yang langsung menjangkau gedung-gedung di sekitar stasiun. Terowongan ini akan menjadi permulaan dari terwujudnya jaringan interkoneksi bawah tanah di rute MRT yang bukan hanya memudahkan pola pergerakan tapi juga mengaktivasi ruang bawah tanah sebagai ruang produktif baru di Jakarta” terang Gubernur Anies dalam Pembukaan TOD Forum 2022 dan Pencanangan Pembangunan Interkoneksi Bawah Tanah Thamrin Nine UOB-Stasiun MRT Dukuh Atas BNI, Kamis (7/7).

Selain itu, pembangunan terowongan pejalan kaki ini juga merupakan gambaran masa depan terkait peningkatan integrasi transportasi publik yang selama ini dikerjakan oleh Pemprov DKI, di mana pada level 1 integrasi menghubungkan antarmoda seperti stasiun MRT dihubungkan dengan halte TransJakarta, stasiun KRL Commuter Line, dan angkutan umum lainnya. Sedangkan, pada level 2 integrasinya menghubungkan stasiun dengan tempat kerja.

“Kita ingin perpindahan dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum adalah perpindahan yang rasional, secara hitungan waktu dan biaya lebih murah. Dengan begitu, perhitungan waktu, biaya dan kenyamanan akan didapat semua. Bayangkan gedung yang tingginya 40 lantai punya akses ke stasiun, maka akan ada ribuan orang yang bekerja di gedung tersebut berpindah naik transportasi umum. Semoga pembangunan ini bisa selesai tepat waktu, tepat biaya dan berkualitas,” tandasnya.

Inisiasi pembangunan interkoneksi bawah tanah ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama tentang Pembangunan Bangunan dan Fasilitas Interkoneksi Thamrin Nine UOB–Stasiun Dukuh Atas BNI antara Direktur Pengembangan Bisnis dan Usaha PT MRT Jakarta (Perseroda), Farchad Mahfud dan Direktur Utama PT Wisma Kartika, Alvin  Gozali,  dan disaksikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dan Direktur Utama PT MRT Jakarta  (Perseroda), William Sabandar.

Akses pejalan kaki ini sepanjang 80 meter dengan lebar lima meter yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti retailstorage room, eskalator, dan elevator. Terowongan ini dibangun berdasarkan prinsip-prinsip  pengembangan  kawasan  berorientasi  transit  yang  universal, termasuk ramah terhadap penyandang disabilitas.

Pembangunan interkoneksi, seperti terowongan  pejalan  kaki  penghubung  Gedung Thamrin Nine UOB–Stasiun Dukuh Atas BNI ini, berpotensi meningkatkan angka keterangkutan (ridership) MRT Jakarta  serta  meningkatkan  jumlah  kunjungan  ke  pusat perkantoran/perbelanjaan yang terhubung, dan mengaktivasi ruang bawah tanah sebagai  ruang baru yang produktif. Seperti pengalaman akses layang di Blok M Plaza yang  meningkatkan kunjungan hingga 150% (megapolitan.kompas.com, 2019).

Terowongan ini melengkapi interkoneksi layang Stasiun Blok M BCA dan Blok M Plaza yang telah terbangun dan interkoneksi layang Stasiun Lebak Bulus Grab-Pondok Indah Square yang sedang dalam tahap konstruksi. Selain itu, terhadap 5 interkoneksi bawah tanah dan layang yang  saat ini sedang dalam tahap persiapan. Seluruh stasiun MRT sudah  dirancang  untuk  dapat terkoneksi dengan bangunan sekitar. Untuk itu, PT MRT Jakarta (Perseroda) mengundang para pemilik bangunan untuk berkolaborasi  dalam  mewujudkan  jaringan  interkoneksi  di  sepanjang jalur MRT.

Jakarta Pionir Pengembangan Kawasan Berorientasi Transit
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia-Jakarta, Doti Windajani, mengatakan, Jakarta layak disebut sebagai pelopor kawasan berorientasi transit karena kebutuhan Jakarta dalam mengantisipasi kemacetan melalui perbaikan infrastruktur transportasi, adaptasi perubahan iklim  melalui penerapan low emission zone, dan pengaturan dan perbaikan tata ruang dan  tata  bangunan  melalui urban regeneration dengan integrasi hunian, tempat kerja dan ruang sosial.

“Integrasi yang sudah baik bisa ditingkatkan, terutama detail  area  menuju  ke  Gedung UOB. Perlu perhatian terkait kebutuhan penyandang disabilitas. Hadirnya terowongan juga merupakan hal yang baik, semoga nantinya lebih seamless ke arah  Jalan  Blora.  Kemudian,  perlu juga perhatian untuk penataan UMKM di kawasan tersebut,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna. Ia menyebut, interkoneksi bawah tanah pada jalur MRT merupakan ide yang sangat menarik, karena gagasan integrasi dengan pusat perbelanjaan atau perkantoran akan memberikan nilai tambah pada pemanfaatan fungsi bangunan dan ridership jumlah penumpang MRT Jakarta.

“Pengalaman ini sudah dijalankan dengan mal Blok M,  berupa  integrasi  Stasiun  Blok  M BCA dengan pusat perbelanjaan. Nilai tambah yang didapat adalah jumlah pengunjung meningkat, tenant mendapatkan keuntungan karena pendapatan  usaha  meningkat,  serta  suasana  mal menjadi sangat ramai,” ujarnya.

Yayat menambahkan, terobosan integrasi antarfungsi bangunan di sekitar stasiun merupakan solusi cerdas yang semakin meningkatkan dua fungsi layanan, yaitu transportasi  dan jasa perdagangan/properti/retail. “Ini ialah  cara  terbaik  untuk  menghidupkan  kawasan berorientasi transit sebagai pusat ekonomi baru di Jakarta,” imbuhnya.

Di samping itu, Ketua Ikatan Ahli Perencanaan, Dhani Muttaqin menyatakan bahwa keberadaan pedestrian tunnel merupakan salah satu upaya mewujudkan kawasan berorientasi transit Dukuh Atas menjadi lebih nyaman bagi pejalan kaki dan pengguna angkutan umum. “Kami menyambut baik inisiatif pembangunan tunnel ini  sebagai  fasilitas  interkoneksi  MRT  Jakarta dengan kawasan sekitarnya. Tentunya, hal ini perlu ditopang dengan berbagai fasilitas lainnya, seperti trotoar yang berkualitas, ruang terbuka hijau yang memadai,  fasilitas  parkir,  dan  hunian bagi berbagai kelas warga kota,” tuturnya.

Direktur Jakarta Property Institute, Wendi Haryanto, menambahkan  bahwa  penting  bagi DKI Jakarta sebagai pelopor TOD untuk menerapkan praktik terbaik pengelolaan TOD karena statusnya sebagai ibu kota dan kota metropolitan akan membuat Jakarta menjadi sumber belajar bagi kota lain. “Pemangku kepentingan interkoneksi gedung  di  sekitar  kawasan  TOD  dengan stasiun MRT Jakarta perlu punya pemikiran yang sama untuk  membawa  kebaikan  bagi  kota.  Skema bisnis pengembangan interkoneksi merupakan huungan simbiosis mutualisme bagi semua pemangku kepentingan dan perlu bersifat atraktif  bagi  pemerintah  dan sektor swasta,”  jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa interkoneksi jelas akan membangkitkan perekonomian sejak tahap perencanaan hingga operasionalnya. “Interkoneksi dengan gedung-gedung berkonsep campuran (mixed-use buildings) di area TOD juga akan mengurangi kemacetan yang menjadi penyebab kerugian ekonomi, “tambahnya.

Seperti diketahui, pengembangan kawasan berorientasi transit Dukuh Atas telah dimulai sejak 2018 lalu oleh Gubernur Anies. Sejak saat itu, kawasan Dukuh Atas telah menjelma menjadi area pengembangan berorientasi transit  pertama  yang memberikan  harapan  atas  wajah  Jakarta di masa depan yang memprioritaskan pejalan kaki dan pesepeda. Kemudian, Terowongan Kendal dialihfungsikan menjadi area pejalan kaki dan ruang aktivitas seni dan budaya masyarakat Jakarta yang turut menghadirkan kemudahan berpindah moda transportasi.

Buka Potensi Kerja Sama Pengembangan Kawasan Berorientasi Transit
Sejalan dengan semangat memperbaiki wajah Jakarta, PT MRT Jakarta (Perseroda) juga menggelar TOD Forum yang dibuka langsung oleh Gubernur Anies. TOD Forum yang merupakan acara puncak dari TOD Fair–yang telah berlangsung sejak 10 Juni lalu melalui serangkaian acara seperti kompetisi foto dan reels Instagram, serta lomba sketsa kawasan berorientasi transit– dilakukan pada Kamis—Jumat, 7—8 Juli di Assembly Hall Menara Mandiri, Jakarta Selatan.

Dalam TOD Forum ini, PT MRT Jakarta (Perseroda) menggelar forum diskusi yang menghadirkan pembicara ahli di bidang pengembangan kawasan berorientasi transit. Melalui penyelenggaraan TOD Forum ini, diharapkan akan menjadi ajang untuk membuka kesempatan, mempertemukan, dan menjalin potensi kerja sama bisnis antara PT MRT  Jakarta  (Perseroda) dengan calon mitra pengembang, investor, serta institusi terkait.

“Selain kerja kolaboratif bersama pihak Thamrin Nine Complex membangun interkoneksi terowongan pejalan kaki ini, hari ini juga kami menandatangani nota  kesepahaman  dengan Samsung C&T Corporation terkait investasi TOD, skema pembiayaan pengembangan sistem perkeretaapian perkotaan dan peremajaan perkotaan dengan Standard Chartered Bank, dan partisipasi perusahan Jepang dalam penyelenggaraan TOD di Jakarta dengan Oriental Cons ultants Global,” ungkap Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William Sabandar.

“Sejauh ini, sejumlah gedung di sekitar stasiun MRT Jakarta sangat berpotensi untuk terkoneksi secara langsung, seperti Wisma  Nusantara  dan  Hotel  Pullman  dengan  Stasiun Bundaran HI, Sudirman 7.8 dengan Stasiun Setiabudi Astra, Wisma Intiland dengan Stasiun Bendungan Hilir, Menara Mandiri dengan Stasiun Istora Mandiri, dan yang sedang dibangun dan  akan diresmikan bulan depan, yaitu Poins Square dan Stasiun Lebak Bulus,” jelasnya.

“Jaringan interkoneksi ini akan berdampak dua hal, yaitu kenaikan angka keterangkutan MRT Jakarta dan keberlanjutan pelaku ekonomi di sekitar stasiun MRT Jakarta, terutama peluang bertumbuh,” pungkasnya. (Yos/Jaksat)