CABE (Catetan Babe*): Marras: Kambing Peru?

80
Marras| IST
Marras| IST

JAKARTASATU.COM – Marras: Kambing Peru? Sepertinya bukan. Meski tampang sama, marras bukan kambing. Politikus pengekor tak disebut marras.

Marras bukan kambing, photo atas. Ini hewan khas pegunungan Machu Pichu, Peru.
Orang Peru diperkirakan migrasi ke Andunisi sejak VIII/IX M. Mereka sendiri menyebut diri orang Lima, kota di Peru, yang kemudian jadi IKN.

De Lima akhirnya menjadi buah delima. Sebaran orang Peru cukup merata. Umumnya di Andunisi mereka retailer.

Ke Andunisi mereka membawa daun mint. Aturan pakai: cuci dulu daun itu, kemudian rebus. Lalu minum airnya dan tubuh terasa hangat. Dalam Melayu lama hangat itu padang. Dalam bahasa serat Pararaton mint itu palapa.

Mint tumbuh di kawasan pegunungan. Misalnya Gn Padang, Cianjur. Di puncak Gn Padang ada barisan batu panjang. Yang melingkar itu paquita uchicus incanan, makam wanita. Yang persegi panjang macho uchicus incanan, makam pria. Makam2 ini ada di Lampung, juga di Cipari, Kuningan. Di Jakarta pernah ada dan disebut gong, Teluk Gong. Lingkaran bebatuan itu di tengahnya ada sebuah batu. Permukaan gong. Di Depok jug disebut gong. Orang Betawi menyebut instrument gong jadi go’ong.

Di Gunung Padang tak ada pyramid seperti dulu pernah di-tebak2 arkaeolog UI. Pyramid itu peradaban Maya. Sedangkan orang Peru itu Inca.

Di Jakarta hunian Peru disebut Jamba Tana Lima, atau Jembatan Lima. Tapi ada juga yang sebut Kampung Lima saja seperti di Kebon Siri.

Kalau di Sunda Kalapa hunian orang Peru disebut . Pakar Belanda permak jadi Batterij.
Orang2 Peru itu umumnya Katolik.

Peradaban Inca juga melintas Carribea. Misalnya perkataan tabu (larangan) itu Carribea. Orang-orang Carribea seperti Colombia yang membawa perkataan kali.

Bagaimana keakraban mereka dengan native?
Untuk menjawabnya saya kutip lagu kanak-kanak Betawi:

Sim sim ka lima lima ka sim.

Ka kata perangkai, tarjamahnya:

Selamat selamat orang2 Peru.

Artinya, native suka dengan orang-orang Peru khususnya dan bangsa-bangsa peradaban Inca umumnya.

*) Ditulis oleh Ridwan Saidi,
budayawan Betawi, sejarawan, dan intelektual Islam

(Yos/Jaksat)