CABE (Catetan Babe*): Crossboy ke Milenial

89
Band siswa SMP II Jakarta tahun 1957. RS ke-2 dari kanan | Dokpri RS
Band siswa SMP II Jakarta tahun 1957. RS ke-2 dari kanan | Dokpri RS

JAKARTASATU.COM – Crossboy usia di ambang matang. Usia berapa? Relatif. Tapi sering diasosiasi dengan status perkawinan belum kawin. Kalau jadi perjaka tidak matang-matang disebut tua kejemur.

Crossboy dapat disamakan pengertiannya dengan yang sekarang disebut generasi milinial.
Expresi generasi milenial kini sering dikaitkan dengan kemajuan tekno komunikasi.

Crossboy muncul sekitar tahun 1957. Expresi cenderung ke-baratbaratan. Film-film Hollywood berpengaruh dalam konteks ini dan juga music rock ‘n roll dengan bintangnya Elvis Presley. Gejala perkelahian antar kelompok bukan trade mark crossboy, walau itu kadang-kadang ada. Style tampilan dan gaul itu yang lebih dominan. Di rumah-rumah juga ada pesta muda mudi dengan hiburan plat gramaphone dan dansa. Se-waktu2 dimunculkan band, yang ketika itu sedang musim-musimnya.

Film-film Hollywood dengan tema western, love, perang ramai penonton. Apalaagi film Alfred Hitchkock yang realistis tapi penuh misteri. Saya heran film The Old Man and the Sea dengan Spencer Tracy ramai penontonnya juga. Padahal sepanjang tayang cuma kakek-kakek sendirian lagi mengail di laut.

Film India? Di bioskop-bioskop tertentu saja. Walau judul filmnya serem misal Aaphra Dikahoun? Siapa pembunuhnya, tetap tak masuk bioskop semacam Menteng, Capitol, Globe, atau Garden Hall. Apalagi bioskop Podium Cikini yang spesial putar film-film sebelum PD II. Dan tatkala rehat penonton dihibur dengan chamber music. Saddap.

Gaya crossboy meredup tatkala import film Hollywood distop yang disusul dengan larangan terhadap music rock ‘n roll yang disebut ngak ngik ngok. Ngik dalam Betawi artinya stop. Ngak ngok saya tak tahu. Lalu di jalan-jalan sering ada operasi celana jengki (blue jeans). Kedapatan pakai jengki ujung celana dua-duanya digunting.

Peminat lagu-lagu barat biasanya diam-diam stel radio Australia. Beriringan dengan econ yang sulit di era Orla itu, gaya berbusana juga disesuaikan dengan keadaan econ. Masa perpeloncoan sebagai tradisi masuk perguruan tinggi diganti dengan Masa Kebaktian Teruna.

Di tempat-temapt umum pun dilarang berbahasa Belanda sehingga “sub culture” Betawi Menteng pun meredup. Ketika muncul Orde Baru, life style crossboy, “sub culture” Betawi Menteng, bioskop Podium yang hilang sejak Orla tak kembali lagi kendati di jaman Orba.

*) Ditulis oleh Ridwan Saidi,
budayawan Betawi, sejarawan, dan intelektual Islam

(Yos/Jaksat)