“KOPERASI MENGGUGAT”: KOPERASI Vs KAPITALISME

69

Oleh : Setya Dharma Pelawi. Senator ProDem

Pada tanggal 12 Juli 2022 bangsa Indonesia baru saja memperingati hari koperasi. Seperti biasanya peringatan hari koperasi tidak semeriah perayaan hari proklamasi. Bahkan senyap nyaris tidak ada pemberitaan yang mencolok berkaitan dengan momen penting dalam sejarah sistem perekonomian bangsa ini. Padahal bukankah koperasi selalu disanjung sebagai alat perjuangan ekonomi kolektif yang dapat membawa bangsa ini menuju kemakmuran yang berkeadilan?

“Koperasi adalah soko guru perekonomian Indonesia”, demikian Adalah istilah yg sering kita dapat dalam berkegiatan koperasi yg dilaksanakan oleh masyarakat mau pemerintah. Bahkan dalam struktur pemerintah selalu ada satu kementrian yang dibentuk untuk mengurusi tata kelola koperasi. diwujudkan ada. Sungguh begitu ideal. Makna dari koperasi sebagai sokoguru perekonomian diartikan sebagai basis bagunan dasar penyangga utama” ekonomi nasional.

Sayangnya praktik berkopersi nasibnya nyaris sama dengan praktik berdemokrasi. Di sisi lain dirujuk sebagai arah kehidupan berbangsa dan bernegara namun disisi lain selalu tersingkir dan dipurukan oleh kepentingan individu atau sekelompok orang yang bernafsu melanggengkan sistem yang kapitalistik. Sistem yang.memyediakan beragam kemudahan bagi mereka untuk mengakumulasi kekayaan dengan cara yang menghisap serta mengabaikan kepentingan publik.

Begitu ironi, jika dalam kehidupan sehari hari kita menemukan rakyat jelata yang terjerat bunga hutang yang berlipat dari sebuah lembaga keunganan yang bernama koperasi simpan pinjam. Namanya koperasi tapi prakteknya tak beda dengan lintah darat sisa sisa jaman kolonial. Lantas apa kerja Kementrian koperasi selama ini? Apakah koperasi masih memiliki masa depan dalam tatanan kehidupan kapitalis berbulu sosialis yang terus berusaha mempertahankan kekuasaan ekonominya?

Pikiran sinis dan pesimistis diatas tidaklah harus membuat kita benar benar pesimistis. Mewujudkan ekonomi koperasi yang dicita citakan tetap harus dilanjutkan. Bangsa ini begitu membutuhkan kekuatan dahsyat pelopor yang dapat bergerak secara militan untuk membangun koperasi yang sejati. Sosok Hatta yang fenomenal harus dirujuk sebagai panutan generasi masa kini dalam hal pengembangan ekonomi. Pikiran pikirannya perlu digali dan disebarluaskan secara massif. Tentu saja perlu aktualisasi agar relevan dengan situasi obyektif hari ini.

Gerakan koperasi adalah salah satu potensi tulang punggung perubahan untuk meruntuhkan otoritarianisme oligarki. Kaum fasis kapitalistik telah menguasai kehidupan berbangsa dan bernegara hingga tulang sumsum kebijakan kebijakan yang mendasar. Kobarkan terus semangat berkoperasi . Berkoperasi adalah melawan.

Dalam rangka meniti jalan perjuangan ekonomi tersebut maka pada tanggal 12 Juli 2022 lalu sekelompok aktifis gerakan lintas generasi berkumpul di makam Bung Hatta. Hadir dalam kegiatan peringatan hari koperasi itu hadir diantaranya Prof Jimly Asshiddiqie, Ferry Juliantono, Syahganda Nainggolan, Setya Dharma Pelawi, Hendry Harmen, Lieus Sungkarisma, Wahyono, Andrianto, Zukri Saad dan lain lain. Mereka merupakan aktifis yang terus menerus menggaungkan perlawanan terhadap oligarki dan rejim yang menopangnya.