Novel “Lebih Putih Dariku” Karya Dido Michielsen, Tentang Keberadaan Nyai di Hindia Belanda

67
Di antara banyak topik yang sering kali diangkat di dunia literasi Indonesia-Belanda adalah mengenai keberadaan Nyai di Hindia Belanda.
Tokoh Nyai sering kali diartikan ke dalam konotasi negatif, bahwa seorang Nyai selayaknya wanita penggoda para tantara/tokoh Hindia Belanda. Cukup sulit mencari buku yang mengangkat tokoh Nyai dalam artian positif.
JAKARTASATU.COM –  Fakta mengenai pandangan umum masyarakat terhadap tokoh Nyai ini menggelitik Dido Michielsen. Sebagai seseorang yang memiliki darah Indonesia dalam nadinya, Dido mendengar banyak sekali cerita Nyai yang berbeda dengan apa yang selama ini disajikan oleh buku-buku atau film-film yang beredar.
Oleh karena itu, Dido Michielsen mencoba untuk mengulik cerita nenek dan nenek buyutnya mengenai kehidupan Nyai di masa Kolonial Belanda di Indonesia.
Hasilnya, terbitlah novel yang berjudul “Lichter dan Ik” di Belanda dan dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Lebih Putih Dariku” pada Juni 2022 oleh Penerbit Marjin Kiri. Dalam rangka merayakan relasi literasi antara Indonesia dan Belanda tersebut, Yayasan 17000 Pulau Imaji bersama Erasmus Huis mengadakan program literasi ‘Book Discussion and Book Signing: Out of the Book Lebih Putih Dariku’ dengan menghadirkan Dido Michielsen, penulis novel Lebih Putih Dariku, pada Sabtu, 2 Juli 2022 pukul 16.00-18.00 WIB di Erasmus Huis, Jakarta.
Yani Kurniawan selaku Production Manager Yayasan 17000 Pulau Imaji mengatakan “suatu kebanggaan bagi kami dapat bekerja sama kembali dengan Erasmus Huis untuk merayakan keberagaman literasi Indonesia-Belanda yang saling bersinggungan. Ini merupakan tahun kedua kami mengadakan program literasi bersama, setelah di tahun Mengulik Nyai Bersama Dido Michielsen Bincang dan Penandatanganan Novel “Lebih Putih Dariku” 2021, kami menghadirkan beberapa penulis Indonesia dan Belanda, untuk hadir di sesi- sesi diskusi yang kami adakan di Yayasan 17000 Pulau Imaji dan Jakarta Content Week.
Kami sangat senang dengan hadirnya Ibu Dido Michielsen bersama kami hari ini untuk mendiskusikan buku Lebih Putih Dariku yang ditulisnya dengan sangat indah. Apresiasi kami untuk penerbit Marjin Kiri yang sudah bekerja dengan sepenuh hati untuk menghadirkan buku Dido Michielsen kepada para pembaca di Indonesia. Kami berharap apa yang kami lakukan bersama ini dapat menjadi sarana untuk bertukar pikiran yang saling menginspirasi satu sama lain dan mempererat hubungan antara Indonesia dan Belanda.
Semoga kerja sama antara Yayasan 17000 Pulau Imaji dan Erasmus Huis ini tetap terbangun dengan baik di masa mendatang. Salam literasi.” Yolande Melsert, Direktur Erasmus Huis menyampaikan kesannya bahwa “Novel ini adalah salah satu novel paling menyentuh dan berkesan yang saya baca beberapa tahun terakhir.
Dalam cerita ini Dido Michielsen mengkombinasikan fakta sejarah ‘Hindia Belanda’ (dengan hirarki sosial yang kuat di zaman kolonial) dengan cerita pribadi mengenai seorang perempuan Yogyakarta dalam proses mencari kehidupan yang bahagia.
Dido melakukannya dengan cara visualisasi yang sangat indah. Saya sangat senang bahwa – bersama dengan Yayasan 17000 Pulau Imaji dan Penerbit Buku Marjin Kiri – Erasmus Huis dapat menyambut kedatangan Dido Michielsen ke Indonesia, untuk dapat mempresentasikan bukunya dalam terjemahan Bahasa Indonesia dan bertemu dengan pembaca di Indonesia”
“Buku ini secara tidak terikat didasarkan pada kisah nenek buyut saya sendiri. Dengan adanya versi terjemahan ke Bahasa Indonesia dari buku ini , rasanya seperti saya membawanya pulang kembali. Orang Indonesia dan Belanda berbagi sejarah kuno yang berlanjut hingga hari ini. Saya berharap buku saya ini dapat menambah pengetahuan tentang sejarah yang saya tulis dari sudut pandang seorang perempuan Jawa” Ungkap Dido Michielsen selaku penulis dari Novel ini.
Ronny Agustinus, sebagai pendiri Marjin Kiri yang menerbitkan versi terjemahan Bahasa Indonesia buku Dido Michielsen menyatakan “Setelah membawa penulis Dido Michielsen ke Makassar International Writer Festival secara virtual, lalu ke Yogyakarta secara fisik, acara di Erasmus Huis ini akan menjadi puncak rangkaian booktour kali ini.
Sejauh ini respons pembaca terhadap novel Lebih Putih Dariku sangat baik. Mereka terkesan oleh prosa Dido dan penerjemahannya.” Buku ini menceritakan tentang Isah, yang merupakan penghubung antara alam pikiran masyarakat Jawa dengan semesta kolonial Hindia Belanda.
Melalui perannya sebagai seorang Nyai, kita tidak hanya bisa melihat betapa pahit dan penuh lika-likunya perjalanan hidup Isah, namun kita juga bisa melihat lanskap Hindia Belanda yang kompleks, tarik menarik antara nilai-nilai Jawa dan pandangan hidup Barat, antara kekuasaan absolut keraton dengan penindasan otoritas kolonial. Dan dalam kompleksitas lanskap tersebut, perempuan, apalagi perempuan pribumi, selalu berada dalam posisi yang rentan dan termarjinalkan. Pada sisi lain, tokoh Isah juga mengingkatkan kita kepada sejumlah literatur yang mengangkat persoalan Nyai di Hindia Belanda, seperti kisah Nyai Dasima yang populer karya Gijsbert Francis.
Berbeda dengan stereotip Nyai yang digambarkan Gijsbert Francis sebagai perempuan licik penuh tipu muslihat, Isah adalah Nyai yang punya pikiran unik. Ia bisa melihat feodalisme Jawa yang problematis sekaligus kolonialisme yang sangat hirarkis. Isah memang terbelenggu dalam dua dunia patriarki, patriarki Jawa dan patriarki kolonial, namun Isah tetap punya pikiran yang keluar dari kungkungan struktur sosial tersebut.
Bagi Anda yang belum dapat menyaksikannya secara langsung, kami akan menayangkan siaran ulangnya di website www.jaktent.com, pada kegiatan Jakarta Content Week 2022 yang akan berlangsung pada tanggal 11 – 13 November 2022.(YOS/JAKSAT)