Kajian Percerahan: Berlaku Adil lah

57
Ustadz M. Nashihuddin (Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Jakarta Timur) | IST
Ustadz M. Nashihuddin (Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Jakarta Timur) | IST

Oleh: Ustadz M. Nashihuddin (Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Jakarta Timur)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِا لْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh (bahwa) mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 8- 9)

Kajian ibnu katsir
Tentang adil
Al-Maidah, ayat (7)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (8) وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ}

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah. (Al-Maidah: 8)

Yakni jadilah kalian orang-orang yang menegakkan kebenaran karena Allah, bukan karena manusia atau karena harga diri.

{شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ}

menjadi saksi dengan adil. (Al-Maidah: 8)

Maksudnya menegakkan keadilan, bukan kezaliman.

وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ أَنَّهُ قَالَ: نَحَلَنِي أَبِي نَحْلا فَقَالَتْ أُمِّي عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهد رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَجَاءَهُ لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي فَقَالَ: “أُكَلَّ وَلَدِكَ نَحَلْتَ مِثْلَهُ؟ ” قَالَ: لَا. قَالَ: “اتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا فِي أَوْلَادِكُمْ”. وَقَالَ: “إِنِّي لَا أَشْهَدُ عَلَى جَوْر”. قَالَ: فَرَجَعَ أَبِي فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ.

Telah disebut­kan di dalam kitab Sahihain dari An-Nu’man ibnu Basyir yang men­ceritakan bahwa ayahnya telah menghadiahkan kepadanya suatu pem­berian yang berharga. Ibunya bernama Amrah binti Rawwahah ber­kata, “Aku tidak rela sebelum kamu mempersaksikan pemberian ini kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam” Ayahnya datang menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta kesaksian atas pemberian tersebut. Maka Ra­sulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bertanya: “Apakah semua anakmu diberi hadiah yang semisal?” Ayahku menjawab, “Tidak.” Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Bertakwa­lah kamu kepada Allah, dan berlaku adillah kepada anak-anak­mu.” Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda pula, “Sesungguhnya aku tidak mau bersaksi atas kezaliman.” An-Nu’man ibnu Basyir melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ayahnya pulang dan mencabut kembali pemberian tersebut darinya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا}

Dan jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. (Al-Maidah: 8)

Artinya, jangan sekali-kali kalian biarkan perasaan benci terhadap se­suatu kaum mendorong kalian untuk tidak berlaku adil kepada me­reka, tetapi amalkanlah keadilan terhadap setiap orang, baik terhadap teman ataupun musuh. Karena itulah disebutkan dalam firman selan­jutnya:

{اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى}

Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (Al-Maidah: 8)

Yakni sikap adilmu lebih dekat kepada takwa daripada kamu mening­galkannya. Fi’il yang ada dalam ayat ini menunjukkan keberadaan masdar yang dijadikan rujukan oleh damir-nya; perihalnya sama de­ngan hal-hal yang semisal lainnya dalam Al-Qur’an dan lain-lainnya. Sama halnya dengan pengertian yang ada di dalam firman-Nya:

{وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ}

Dan jika dikatakan kepada kalian.”Kembali (saja)lah” maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagi kalian. (An-Nur: 28}

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (Al-Maidah: 8) Ungkapan ini termasuk ke dalam pemakaian af’alut tafdil di tempat yang tidak terdapat pembandingnya sama sekali. Perihalnya sama de­ngan apa yang terdapat di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain, yaitu:

{أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلا}

Penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. (Al-Furqan: 24)

Yakni seperti pengertian yang terkandung dalam perkataan seorang wanita dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam kepada Umar Radhiyallahu Anhu, “Kamu le­bih kasar dan lebih keras, jauh (bedanya) dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ}

Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Me­ngetahui apa yang kalian kerjakan. (Al-Maidah: 8)

Maha benar Allah akan semua firmanNya.