CABE (Catetan Babe*): Becokok Glodok vs Ja’man Jago Betawi

38
Photo ki-ka: Effendi, adik, Maemuna, nyai saya, dan RS | dokpri RS
Photo ki-ka: Effendi, adik, Maemuna, nyai saya, dan RS | dokpri RS

JAKARTASATU.COM – Ja’man asli Gg Bédeng Sawah Besar. Ketika Ja’man wafat nama Gg Bédeng diganti Gg Ja’man. Jaman Orla Gg Ja’man jadi Jl Batu Ceper V.
Dari perkawinannya dengan Cang Ema, Ja’man mendapat beberapa putra dan seorang putri nama Munaini.

Ja’man berguru sejak muda pada Guru Cit. Ketika khatam berguru kemudian Ja’man juga mengajar maen pukulan.

Dari salah seorang muridnya orang Pondok Bambu Bang Dayat saya mendapat cerita bahwa pukulan Ja’man seperti mitraliur. Maksudnya tingkat kecepatannya tinggi. Atas pertanyaan saya, kata Bang Dayat, Kong Ja’man yang dia ketahui tidak mengajarkan kena’at dan ngumbara.

Ja’man suatu hari duduk2 di warung kopi Pecenongan, tiba2 seorang pemuda turun dari ustin (oplet) dengan nerveus ia bicara pada Ja’man, Bang cilaka Pok Mune (nyai saya, RS) diganggu becokok Glodok. Pok Mune bedua anaknya Muhaya (mak saya, RS).

Ja’man loncat dan lari ke arah Glodok memburu becokok. Becokok itu bad guy. Setiba di lokasi kerumunan becokok itu dihajar Ja’man satu2. Ada yang rebah, ada yang ngabur. Ja’man ajak Pok Mune dan Muhaya pulang.

Kemudian hari Ja’man di-cari2 polisi Belanda. Nyai Mune bilang, Ja’man ke kampung Kerendang Jembatan Lima. Ia bersama kontingen Jembatan Lima pimpinan Cing Sairin.

It’s sorry to say kalau saya belum pernah dengar baik di lingkungan keluarga besar Sawah Besar, atau keturunan Guru Cit, nama Pitung disebut. Ém sori, ém sori. Kalau nama Bang Puasa sering disebut. Bang Puasa guru maen pukulan dari Gg Mendung, Kwitang. Ia dihukum gantung Belanda tahun 1821 karena fitnah polisi Belanda.

Ja’man melintasi era Husni Thanrin. Apalagi rumah mereka di Sawah Besar dekat2 saja.
Di hari tua Ja’man terkena gangguan penglihatan. Yang orang heran, kok masih mampu meloncati kali.

*) Ditulis oleh Ridwan Saidi,
budayawan Betawi, sejarawan, dan intelektual Islam

(Yos/Jaksat)