CABE (Catetan Babe*): Administrasi Kampung Betawi

37
Litho 1610. Dua jaga labuhan dengan senapan api lagi cengkerama dengan penduduk | IST
Litho 1610. Dua jaga labuhan dengan senapan api lagi cengkerama dengan penduduk | IST

JAKARTASATU.COM – Kampung2 wilayah budaya Betawi yang dalam peta Pangeran Panembong berlokasi antara Cisadane-Citarum. Kampung-kampung itu memiliki:

1. Gerbang yang dalam Betawi disebut Betawi, Kendal, dan Kaca2.
Betawi: nama suku
Kendal: nama sungei di Tanjung Priuk.
Kaca2: nama gang di Pasar Baru.
2. Parung: pos jaga
3. Jondol: fasilitas umum berupa bangunan sederhana dengan bale2 untuk santai.
4. Ulu Jami: tonggak penanda permulaan kampung.
5. Wates: penanda batas antar kampung.
6. Langgar, atau mushala. Tapi tak di semua kampung.
7. Sumur Bor, sumur untuk umum, tidak di semua kampung.

Nomenclatur pimpinan kampung:
Mula2 Le Deng, atau Che Deng. Ada juga yang menyebut Le Gok dan Le Dug. Isteri pimpinan kampung disebut Mak Poco. Biasanya Mak Poco tukang mencarikan jodoh.
Di masa terkemudian pimpinan kampung disebut Serean.

Sanpai dengan masa VOC unit2 organisasi kampung tidak ada filial kecuali era Majakatera, mereka di bawah Patih. Patih tandem (mitra kerja) Syahbandar. Kalau di Jakarta kuasa adat dijabat Patih. Patih selaku kuasa adat berhak membuat rayonisasi pemukiman, termasuk terhadap migran. Tidak ada yang boleh memiliki tanah, melainkan hak pakai saja.

Bekerja bersama untuk kepentingan kampung istilahnya bukan gotong royong tapi Rambate Rata, Hayu. Ini pengaruh bahasa Melani yang artinya Semua Sama, Mari.

*) Ditulis oleh Ridwan Saidi,
budayawan Betawi, sejarawan, dan intelektual Islam

(Yos/Jaksat)