CABE (catetan babe): Fientje de Venick tewas depan rumah Snouck Hurgronje

40

(Photo Fientje de Venick)

Prostitusi di Jakarta baru abad 18 setelah bukit Tambora diruntuhkan. Itu behaviour pendatang. Lokasi yang mereka pakai dibekas reruntuhan bukit Tambora. Penduduk sebut tempat itu Rébo (bukan Rabu) artinya ramai.
WTS disebut cabo. Ini bahasa Latin America yang artinya perempuan. Mucikari disebut ba’tau, sakit kelamin disebut péhong. Keduanya saya tak tahu bahasa apa.
Masih di lokasi bekas bukit Tambora ada tempat first class namanya Macao Po. Di sini beroperasi WTS yang didatangkan dari Macao.
Bisnis prostitusi di luar kepentingan dan urusan native.

Menjelang akhir abad 19 muncul produk baru dunia hitam, namanya Soehian. Soehian rumah hiburan yang dimeriahkan gambang kromong. Yang kesini baik perempuan mau pun laki bukan native atau pun muslim. Perempuan soehian disebut lonté. Juga perempuan gendak atau bini piara. Tapi umumnya jobong, atau wanita nakal.
Dalam penelitian saya, saya belum pernah dengar ada jago Betawi yang jadi backing soehian atau pun tempat nge-top, perjudian.

Pada akhir abad 19 dan awal abad 20, di Palmera ada satu soehian. Sayang sekali tempat dengan toponim bersejarah: Palmyra, ibukota Assyria, dikotori soehian.

Pada suatu pagi di tahun 1911 di Jalan Kebon Siri orang pada kumpul di sekitar rumah Snouck Hurgronye di dekat jembatan Serong. Di kali sodetan ditemukan jenasah perempuan Belanda yang masih muda. Perempuan itu tampaknya dibunuh.
Polisi Belanda bertindak. Ditangkap seorang terduga. Ini kasus tak ada urusannya dengan Hurgronje penasehat Belanda urusan bumi putera, hanya saja terduga pernah melancong ke rumah Hurgronye.

Pelaku orang Belanda langganan soehian. Ia kenal korban: Fientje de Venick, yang tinggal di Kwitang, di soehian Palmera. Fientje memang kembang di soehian itu. Tapi de Venick tak tertarik dengan Belanda itu. Fientje dibunuh.
Kasus terbunuhnya de Venick membuat Belanda tutup semua soehian. Mungkin ada advis dari Snouck Hurgronje.

Ridwan Saidi.