CABE (catetan babe) Kapan China ungguli Taiwan?

88
Photo ki-ka RS, istri RS, Shumanasar India tahun 1980 di Taiwan mengikuti Konferensi Pemuda se-dunia Anti Komunis) | IST
Photo ki-ka RS, istri RS, Shumanasar India tahun 1980 di Taiwan mengikuti Konferensi Pemuda se-dunia Anti Komunis) | IST

(Photo ki-ka RS, istri RS, Shumanasar India tahun 1980 di Taiwan mengikuti Konferensi Pemuda se-dunia Anti Komunis).

Awal Agustus 2022 Ketua DPR AS Nancy Pelosi berkunjung ke Taiwan. China kheki. Setelah Nancy usai berkunjung baru China bikin latihan perang2an di perairan mereka.
Tapi pemberitaan kalangan media buzzerist disini se-akan2 China hajar habis Taiwan.
China di jaman Mao Tse Tung pada tahun2 1954, 1955, 1958, dan 1960 memang menyerang pulau Quemoy dan Mitsu’i yang terletak di selat Taiwan. Dari daratan China menghajar dengan meriam yang lebih modern dari si Jagur yang dipesan Portugis 1540 dari Macau hadiah untuk Wa Item Sunda Kalapa. Tapi Taiwan membalas serangan itu. Chiang Kai Sek masih ada, kok.

Insiden Quemoy sejak 1954 menjadi perhatian Senator John F Kennedy. Bahkan ketika 1960 terjadi debat capres USA 1960 Kennedy vs Nixon Quemoy menjadi salah satu tema debat.
Ketika Kennedy terpilih, ia selesaikan Quemoy. Sejak itu sampai kini China tak ganggu Taiwan. Bahkan orang2 di Taiwan pun menikmati hidupnya.

Belum lama Presiden RI menyatakan dukungannya untuk one China policy. Benar sih benar cuma issue ini sudah selesai. Taiwan tidak memakai nama China karena kepulauan Formosa (lokasi Taiwan) itu masuk dalam orbit culture Micronesia. Mereka Indo Pacific.

Sementara yang saya pahami Indo Pacific adalah region, bukan regional organization. Dalam pertemuan Menlu Asean plus baru2 ini di Pnompenh texture gagasan ini makin jelas. Menlu RRC dan Rusia yang hadir di situ, di waktu senggang daripada bengong, mereka bertemu 4 mata.
Sementara di Indonesia dihembuskan ramalan Amerika resesi, minimal resesi teknis, bahkan ada yang meramal dunia resesi tapi Indonesia ‘ndak. Memang ‘ndak kok. Wong tahun 1929-1931 dunia resesi kita ‘ndak. ‘Ndak lho, mas. Wong kita ini gunaken bukan istilah resesi, tapi malaise.

Ridwan Saidi