Refleksi 17 Agustus di Terminal Purwokerto

71
Muslim Arbi Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indoensia Bersatu | Dokpri
Muslim Arbi Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indoensia Bersatu | Dokpri

Oleh: Muslim Arbi
Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indoensia Bersatu

Hari ini, 17 Agustus 2022. Bangsa Indonesia memperingati dan merayakan Kemerdekaan Negara Republik Indoensia yang ke 77. Usia kemerdekaan yang sudah mau menanjak 80 tahun.

Tiga tahun lagi, 17 Agustus 2025. Indonesia akan akan memasuki usia kemerdekaan yang ke 80 tahun. Usia 77 dan 80 tahun nanti adalah masa yang cukup tua jika di ukur dengan usia seorang manusia.

Mencapai Usia 77 tahun Indoensia merdeka, masih banyak persoalan yang merundung di bangsa ini yang menjadi kontemplasi dan refleksi saat menunggu bis Sinar Jaya untuk menuju Ibu Kota.

Kehidupan kemerdekaan di alam bebas merdeka ini masih terbelenggu oleh sejumlah tindakan penguasa yang membuat usia kemerdekaan 77 ini terasa menyasakkan dada di banyak anak bangsa.

Kasus Roy Suryo yang menyampaikan kritikan soal Patung Buddha di Candi Borobudur karena mahal nya tiket masuk dan ada editan wajah yang mirip Jokowi oleh orang lain. Malah Roy Suryo jadi pesakitan.

Padahal hal yang sama saat ada mengedit patung Buddha mirip Presiden Abdurahman Wahid. Sipelaku nya tidak bernasib seperti Roy Suryo.

Kasus Roy ini dan dibanding dengan Luhut Binsar Panjaitan dan Ruhut Sitompul yang mendapat kritikan pedas dan cibiran masyarakat. Toh. Bebas dan lenggang kangkung.

Perlakukan penegak hukum terhadap Roy, Luhut dan Ruhut nampaknya berbeda. Padahal kalau di lihat dari posisi kasus nya. Hampir sama. Ada pelanggaran UU ITE di situ.

Dari kasus Roy Suryo ini. Di usia negara yang hampir mencapai 80 tahun. Kemerdekaan dan kebebasan yang kritis. Setiap saat akan berhadap dengan aparat kepolisian. Padahal kasus Roy mesti di bawa ke pertimbangan Dewan Pers dulu. Tapi toh status tersangka segera di tetapkan dan di tahan. Sedangkan nasib Luhut dan Ruhut, apakah karena pejabat dan pendukung rezim. Sehingga bebas dan aman. Tidak di proses hukum?

Jika rezim ini ingin mendapat dukungan dan simpati dari publik luas. Semesti nya kasus Roy ini tidak perlu terjadi. Roy tidak dapat menikmati makna  kemerdekaan di hari 17 Agustus ini.

Dari sisi ekonomi, hutang yang di klaim oleh rezim sebanyak Rp 7000 Triliun lebih sedangkan menurut Cacatan Muhammad Misbakum, Anggota DPR dari Golkar itu, posisi utang kita saat ini adalah Rp 17.500 Triliun.

Hutang menumpuk dan menggunung ini sudah pasti menjadi beban Rakyat dan Beban Negara..

Kehidupan Rakyat, bagaimana mau sejahtera ekonomi nya jika akibat hutang yang numpuk itu, pemerintah lebih banyak fokus bayar hutang dan menaikkan Harga2. Lalu, dimana peran pemerintah mensejahterakan Rakyat kalau beban Rakyat makin terjepit dengan mahal nya Harga2 kebutuhan bahan pokok?

Secara konsitusi rakyat yang tidak mendapat hak nya menjadi sejahtera. Pemerintah bisa di tuntut dan di gugat karena abai perintah konsitusi untuk mensejahterakan Rakyat.

Rakyat pasti merayakan kemerdekaan hari ini, dengan nada pilu dan duka. Meski di berbagai pelosok ada berbagai lomba peringati kemerdekaan.

Mesti nya kemerdekaan di usia nya 77 tahun. Bangsa dan negara ini di kelola oleh penguasa yang lebih pro rakyat. Bukan pro kaum pemilik modal atau Oligarki yang hanya segelintir orang itu.

Makna kemerdekaan mestinya lebih substantif lagi. Rakyat berdaulat dalam iklim demokrasi dan mencapai kesejahteraan di bidang sosial dan ekonomi. Sebagai amanat rumusan dalam butir2 Pancasila.

Akhir nya, kemerdekaan ini patut di syukuri dan di pertahankan. Meski berbagai problem kebangsaan yang mendera Rakyat negeri ini. Kita harus pekik. Sekali merdeka tetap merdeka. Bukan setelah merdeka kita pun mati karena terhimpit utang negara dan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Lalu di mana makna kemerdekaan yang sejati dan hakiki itu?

Menutup refleksi ini. Bis yang akan saya tumpangi datang dan saya harus balik ke Ibukota kembali.

Wallahu’alam

Purwokerto, 17 Agustus 2022