CABE (Catetan Babe*): Istana Negara

59
Photo di California 1971. Ki-ka Taiwan, USA, RS, Korsel, USA | RS
Photo di California 1971. Ki-ka Taiwan, USA, RS, Korsel, USA | RS

Bung Karno tahun 1963 sepakat USA menjadi penengah dalam perundingan soal Irian Barat dengan Belanda.
Jaksa Agung Robert Kennedy, adik Presiden John Kennedy, diutus ke Jakarta. Selain bertemu BK, Robert juga ceramah umum di UI. Tatkala melintas halaman, mahasiswa CGMI (onderbouw PKI) melempari Robert dengan tomat busuk.
Dubes USA ketika itu Howard P Jones.
Pada suatu rapat raksasa di Main Stadium BK dari pentas pidato teriak memanggil-manggil Dubes USA, Jones where are U. Dubes Jones berdiri, come here. Dubes naik pentas. BK cuma minta confirmasi perundingan Irian Barat sedang berlangsung. Dubes Jones manggut lalu kembali ke tempatnya.
Keterlaluan! Hanya untuk confirmasi Dubes dibegitukan.

Beberapa bulan jelang Gestapu meledug Howard P Jones kembali. Penggantinya Marshall Green. Saya bertemu dengan beliau di Jakarta, kemudian di Washington tahun 1971. Saat itu beliau sudah di Kemlu USA. Saya menemui beliau dengan rekan2 dari negara2 ASEAN. Aku kaget bukan main, dalam jarak 10 meter Marshal Green memanggil namaku sambil senyum, Saidi.
Pada tanggal 28 September 1965 BK gelar jamuan, dubes2 berhadir.
Bung Karno menawarkan durian pada Dubes Green sambil diantarkannya ke meja Dubes. Semua orang tahu kalau orang Barat tak suka durian karena aromanya. Protokol istana sudah siapkan pemandu sorak, makan makan makan. Teriakan ini menggema di ruang Istana. Dubes Green dengan tenang santap itu duren.
Mungkin yang diharapkan Dubes Green muntah2, dan itu tak terjadi.
2 hari kemudian 30 September 1965 Gestapu/PKI meledug.

Indonesia ramah tamah, itu motto pariwisata kita. Kenapa hal2 terurai di atas mesti terjadi dan masih terjadi up to now. Dan itu kepada USA saja.

Belum lama seorang menteri ceramah di Singapore puji2 China dan hajar USA tanpa jelas urusannya. Dan ada lagi mentri nantang2 embargo USA. Urusannya apa sih?

Kelakuan model begini tak patut dipelihara, karena risiko rakyat yang pikul.

*) Ridwan Saidi.