ZulHas Didaulat Capres, PAN Unjuk Akomodatif

52
Zulkifli Hasan/IST

ZulHas Didaulat Capres, PAN Unjuk Akomodatif

Oleh Bagus Lanang

Nama Zulkifli Hasan menggema di Istora Senayan, Jakarta, malam Minggu. ZulHas, nama popnya — disebut berulang-ulang. Ketum PAN itu didaulat bakal capres 2024.

Menandai akhir Rakernas PAN 2022, ZulHas disambut gempita para kadernya. Sekira 10.000 orang memenuhi arena olahraga bersejarah itu. Tepuk tangan riuh rendah mengantar prosesi ZulHas. “Saya terharu, sekaligus bahagia menyaksikan gemuruh semangat para kader PAN,” sapanya dengan suka cita. Menggandeng sang istri, Soraya — menuruni anak tangga. Menuju mimbar utama, di antara sejumlah petinggi PAN lainnya.

Tentu saja, PAN ingin mengusung ketumnya sendiri. Calon kandidat Pilpres 2024 mendatang. Namun secara kelembagaan, ZulHas tidak dalam posisi tunggal. Tercatat delapan bakal calon lainnya yang dipentaskan. Adalah Airlangga Hartarto, Suharso Monoarfa, Erick Thohir, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Khofifah Parawansa, dan Puan Maharani.

Semangat Akomodatif

Produk Rakernas PAN 2022, tampak sebagai hasil olah diskusi dan sejulur pertimbangan. PAN memilih jalur “bebas hambatan” menuju Pemilu Serentak 2024. Memompa semangat akomodatif. Mendorong kesempatan yang sama. Menuju keterpilihan pemimpin nasional. Mereka adalah figur yang selama ini bergulir di ruang terbuka.

Airlangga Hartarto, Ketum Partai Golkar dan Suharso Monoarfa, Ketum PPP dalam satu kesatuan KIB. ZulHas mengutamakan soliditas poros
Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dalam menjemput agenda Pilpres 2024. Trio ketum itu secara otomatis menjadi bakal capres. Tak kurang, membuka ruang bagi Erick Thohir (Menteri BUMN). Lanjut saat “injuri time”, muncul surprise. Tertulis nama Ketua DPR RI, Puan Maharani yang juga Ketua PDIP.

Empat lainnya adalah para gubernur. Anies Baswedan (DKI Jakarta), Ganjar Pranowo (Jateng), Ridwan Kamil (Jabar) dan Khofifah (Jatim).

PAN tampak tak ingin buru-buru mematok. Membuka lapaknya di antara kalkulasi dan spasi waktu ke depan. Pun dinamika dan eskalasi yang tak mudah diprediksi. Dalam posisi itu, PAN bakal lebih fleksibel menentukan arah yang ingin dituju. Seirama gendang KIB nanti, yang dimungkinkan mengerucut. Tak kecuali, pertimbangan elektabilitasnya. Kita tunggu.***