CABE (Catetan Babe*): Moor dan Andunisi Arkaeologi Jakarta (V)

34
Photo Mesjid Moor di Kampung Baru, Pekojan, Tambora, dibangun th 1743 | IST
Photo Mesjid Moor di Kampung Baru, Pekojan, Tambora, dibangun th 1743 | IST

Nama Moor/Moro selain di mesjid Kampung Baru juga di situs betsheba pulau Bidadari: Mortelo atau Moro Telo, telaga Moro. Oleh arkaeolog disebut benteng. Untuk meyakinkan dirinya bahwa ini benar benteng (kasteel) mereka pajang beberapa meriam fitik (kecil) sebesar kuda2an kayu.

Pada abad 17 terbit kamus Melayu-Madagascar. Orang2 Moor merantau dengan pintu keluar Madagascar. Orang Moorv dari Afrika itu berbahasa Swahili. Indonesia dari bahasa Swahili artinya kenegerian Ibu Suri. Nama Nusantara tak dikenal dalam peta navigasi mau pun migran.
Apa kata
Andunusi dikenal
native?
Andunisi nama yang shahih. Dipakai oleh mukimin, pemukim, kita di Mekah XVIII s/d awal XX M. Ini reaksi atas penamaan Belanda kepada mereka sebagai kontingen Jawa. Padahal pemukim itu ada Al Banjari. Al Minangkabawi, Al Falimbani, Al Batawi. Di antara mereka ada yang memakai Andunisi yaitu pengarang kitab Al Mazhab Syekh Abdul
Kadir Abdul Mutalib Al Andunisi.

Kita pun akrab dengan kata andunusi. Anduang dalam Minang itu ibu suri. Perahu Pinisi itu lintas negri.
Nama2 hari yang lima juga dari Moro:

1. Senen, awal hari
2. Selesa, nyaman
3. Rebo, ramai
4. Kemis, kasih sayang
5. Jumahat, berkumpul.

Saptu dan minggu muncul ketika sepekan jadi 7 hari.
Ini pengaruh pedagang2 Islam yang datang ke zona2 econ.
Minggu dari mango atau mangga. Pasar penjual mangga dan buah2an lain Pasar Minggu.
Diperkirakan abad XV/XVI orang Portugis yang datang mulai tahun 1485 juga menghitung sepekan itu 7 hari.

*) Ridwan Saidi.