Tingkat Kepercayaan terhadap Polisi

36

Tidak mudah mengukur tingkat kepercayaan publik terhadap POLRI, tapi terkait kasus FS dan pembantaian seorang Letkol (Purn) MM oleh Cina -seorang pengusaha pupuk- di Lembang

mengesankan bahwa masih banyak POLRI tidak mampu menjamin dan memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Dalam polling (Polscape) yg dibuat secara cepat dan terbatas dengan pertanyaan *Siapakah Kapolri yg dapat memperbaiki Instansi Kepolisian ?*, tiga (3) figur yg diajukan yakni
1. Jendral Listyo Sigit Prabowo (Kapolri)
2. Habib Bahar bin Smit (Ulama)
3. Brigjen Yunior Tumilaar (TNI ) diperoleh jawaban sangat mengejutkan. Ternyata, figur no 1 yang nota bene Kapolri saat ini hanya mendapat 4% sementara *Yg tertinggi diperoleh Habib Bahar bin Smith yang seorang ulama yakni 59%* dan no 3 Brigjen Yunior Tumilaar seorang TNI yg patuh pada sumpahnya mendapat 37%.

Meskipun hasil ini belum menjadi kesimpulan karena jumlah peserta pollingnya masih rendah, tapi setidaknya ada indikasi bahwa kepercayaan pada personal polisi itu rendah.

Hal ini merupakan tantangan tidak ringan bagi siapapun yang menjadi Kapolri untuk bisa melakukan penertiban jajaran dan lembaga yang dipimpinnya.

*Budaya setor* dari bawah ke atas akhirnya menyandera atasan. Atasan tidak dapat menindak bawahan yang berbuat salah. Contoh nyata pada kasus FS bagaimana seorang Kapolri mendapat kesulitan menindak FS yg membunuh anak buahnya secara terbuka, bahkan kasus ini belum bisa diungkap secara terang benderang. Demikian juga dengan kasus pembunuhan Letkol MM di Lembang, nampak atasan melindungi bawahan. Lebih dari itu, atasan seolah tidak berkutik terhadap bawahannya.

Ternyata, diperlukan keberanian lebih dari seorang Kapolri untuk bisa mendapatkan kepercayaan (kembali) dari rakyat agar lembaga kepolisian ini bisa tampil bersih dan berwibawa membawakan tugas dan tanggung jawabnya. Menghilangkan budaya setor serta mengganti personil yg menghambat perintah bahkan melakukan pembangkangan ternyata terhalang oleh suasana ewuh pakewuh dalam tubuhnya sendiri.
Senyatanya, rakyat Indonesia berharap banyak momen terjadina dua kasus yang ditangani POLRI ini harus menjadi titik awal rekondisi instansi Kepolisian menjadi polisi yang sebenar- benarnya milik rakyat.

Bandung, September 2022
Memet Hakim
Pengamat sosial