CABE (Catetan Babe*): Toko Banzai di Pasar Baroe

11
Photo Pasar Baroe 1950-an | RS
Photo Pasar Baroe 1950-an | RS

Pasar Baroe dibuka tahun 1820. Di samping toko2 berjualan tekstil dan barang2 keperluan hari2 juga ada tempat untuk jualan ayam di ujung utara blok timur. Masih blok timur tak jauh dari pasar ayam ada pasar kelinci. Penyanyi Lilies Suryani tahun 1970-an sempat salah prakira dalam lyric lagunya yang sempat bekend Gang Kelinci, Lilies menduga dulunya itu kerajaan kelinci.

Setelah PD I banyak dibuka toko2 orang India, salah satunya Toko Bombay. Sejak itu toko orang India dimana pun disebut Toko Bombay.
Menjelang PD II di Pasar Baroe muncul toko2 orang Jepang, salah satunya Toko Banzai. Ternyata di kota2 besar di Jawa juga muncul toko2 Jepang. Biasanya mereka membuka Photo Studio.
Awak toko Jepang berpenampilan rapih. Mereka berdasi.
Tak jelas nasib toko2 Jepang setelah mereka kalah dalam PD II.

Tahun 1950-an Pasar Baru selain tempat belanja juga tempat santai yang popular. Orang sudah cukup terhibur dengan jalan2 sambil me-lihat2 dari ujung ke ujung Pasar Baru. Telinga pun terhibur mendengar lagu2 Doris Day dan Jullie London yang diputar gramophone Toko Tio Tek Hong.
Itulah kehidupan jaman Demokrasi Liberal yang sering di-maki2 Orde Lama.
Tanpa ada larangan, pada waktu kampanye pemilu 1955 tak ada partai yang tempel tanda gambar di dinding toko. Juga tak ada spanduk yang digantung di jalan Pasar Baru. Ini disiplin social .
Jaman Orde Lama nama2 toko bahasa asing harus diIndonesiakan. De Zon toko di Pasar Baru yang paling besar dan ramai pengunjungnya harus ganti nama. De Zon bahasa Belanda.
Juru parkir tetap bilang atret, dari bahasa Belanda achteruit = mundur.
Kalau kondektur sesuai jaman Orla yang gemar akronim. Di tengah penumpang yang berdiri bersesakan sedangkan kondektur harus kutip ongkos, maka ia berjalan selap-selip sambil teriak “durkit, durkit”. Itu akronim mundur sedikit.

Pembesar suka ke pasar2. Jalan2 keliling pasar perlu bila setelahnya membuat evaluasi. Hendaknya jangan sekedar ayun dengkul atau dalam ungkapan Betawi, adu dengkul léwa2.

Belakangan ini saya pernah ber-jalan2 di Pasar Baru. Hatiku terluka dilanda sepi.

*) Ridwan Saidi.