Pengurus PSSI Wajib Mundur

37

PSSI wajib bertanggungjawab atas terjadinya Tragedi Kanjuruhan. Hentikan semua kompetisi sampai adanya pernyataan resmi FIFA.

Bukan cuma desakan. Begitulah seharusnya konsekuensi. Berkorelasi dengan sebab akibat. Baru klub Madura United membuat pernyataan itu. Tak perlu khawatir terhadap hal-ikhwal. Eksistensi klub semata prestasi. Bukan hal lain.

Presiden MU, Achsanal Qosasih lantang bicara. Induk organisasi sepakbola nasional itu wajib bertanggungjawab. Konsekuensinya, semua pengurus harus mundur.

Mundur dalam arti wajib bin kudu. Mundur sebagai bentuk empati terhadap para korban meninggal dan keluarganya.

Rasanya senada dengan pesan publik. Tragedi Kanjuruhan bukanlah peristiwa biasa. Tragedi di luar kepatutan. Tragedi kemanusiaan yang mengabarkan duka mendalam. Meliputi komunitas sepakbola mancanegara. Mengheningkan cipta dan pita hitam di lengan kostum tim para pemain, jelang laga nun jauh di Eropa sana.

Masyarakat sepakbola se-jagat raya unjuk berduka. Bahkan markas FIFA di Swiss mengibarkan bendera setengah tiang. Meliputi seluruh bendera negara anggotanya. Di tempat peristiwa (baca: Indonesia), justru tak ada pernyataan kibaran bendera yang menandai masa berkabung.

Tidak bijak dan ksatria, bila di sini — malah adem-adem saja. Implementasi sanksi adalah keniscayaan. Tak ada pilihan lebih bijak. Demi kehormatan sepakbola Indonesia di mata dunia. Sikap mundur pengurus, justru demi citra organisasi. PSSI harus harus tetap terjaga dan berwibawa. ***

– iW