Makrifat Pagi: Pelangi Indonesia

28
Ilustrasi pelangi | pexels
Ilustrasi pelangi | pexels

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, dalam agama cinta (rahmat bagi semesta), kebenaran dan keadilan tak mengenal penganut dan bukan penganut. Cinta memeluk semuanya. Warga bangsa boleh berbeda keyakinan, tp cinta menyatukannya. Kekuatan mencintai dgn melampuai perbedaan inilah yg melahirkan pelangi Indonesia indah.

Harmoni dlm kemajemukan adlah cetakan dasar bangsa ini. Berbilang bangsa dlm zona keseragaman terguncang hadapi globalisasi keragaman. Bahkan bangsa maju kembali mengeja multikulturalisme scr tergagap. Tak sedikit gagal, berujung populisme dgn supremasi tribalisme anti-asing, anti-perbedaan.

Berutung, Indonesia banyak makan asam garam. Bangsa maritim di tengah persilangan arus manusia dan peradaban dunia, terbiasa menerima perbedaan. Jauh sbelum merdeka, para pemuda lintas etnis dan agama sudah menemukan penyebut bersama dlm keragaman bangsa. Saat dasar negara dan konstitusi dirumuskan, perwakilan bbg golongan terwakili, menghadirkan negara semua buat semua.

Dlm napak tilas refleksi diri bisa kita kenali hidup religius dgn kerelaan menerima keragaman tlah lama diterima sbg kewajaran oleh penduduk negeri ini. Sejak zaman Majapahit, doktrin agama sipil utk mensenyawakan keragaman agama telah diformulasikan oleh Mpu Tantular dlm Sutasoma, “Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrwa.”

Islam Indonesia sendiri, yg dianut sebagian besar penduduk, kendati—spt agama lainnya—tak luput dr sejarah kekerasan, dlm sapuan besarnya didominasi warna kedamaian dan toleransi kuat. Meskipun doktrin dan mazhab radikal memang selalu ada, ttp pengaruhnya relatif terbatas dan dilunakkan oleh ragam ekspresi komunitas Islam dan kehadiran ragam agama.

Clifford Geertz melukiskan etos klasik Islam kepulauan ini bersifat menyerap, adaptif, gradualistik, estetik dan toleran. Dgn begitu terbuka lebar kemungkinan utk melampaui perbedaan religio-kultural, memperlunak perbedaan itu dan menjadikannya pd batas toleransi yg memberi prakondisi kesiapan bekerjasama lintas-kultural.

Modal sosial terpenting bangsa ini terlalu berharga utk dikorbankan demi ambisi elit politik. Mari kita jaga dgn memperluas jaring interaksi dan kesetaraan dgn semangat bersatu dan berbagi.