ABW SEMAKIN BERKIBAR, BAGAIMANA DENGAN PARTAI ? (Suatu analisis)

148

JAKARTASATU.COM — Tidak dapat dipungkiri nama Anies Rasyid Baswedan (ARB), Gubernur Indonesia, semakin berkibar. Semakin ditekan dan difitnah, semakin dicintai. Pendukungnya juga semakin banyak dan merata di seluruh Indonesia. Nama ABW menjadi magnit tersendiri dan juga menjadikan lawan semakin berang serta kuatir.

ABW merupakan simbol perlawanan rakyat, sehinga mendukung ABW merupakan dukungan terhadap perubahan. Ingat ABW bukan oposisi, tapi gerakannya yg terkesan pro rakyat sangat tampak. ABW berada ditengah, yg berlawanan sikap saja, tetap dirangkul dan diajak berdiskusi.

Prestasinya sudah banyak kita ketahui, tidak ada penghargaan abal – abal. Didukung oleh kalangan Islam dan non Islam, agamis dan nasionalis. Lahir di tatar Sunda dan besar di Yogyakarta ini juga banyak berkecimpung di dunia pendidikan, sehingga kinerja, karakter, ahlak dan jaringannya tidak udah diragukan lagi, semuanya baik.

Diprediksi partai manapun yg mendukung ABW diprediksi akan bertambah suaranya. Sebaliknya partai yg sering menyerang bahkan ingin menjegalnya akan berkurang. Ini akibat logis dari magnit. Biasanya tokoh dalam hal ini ABW yg dibesarkan partai, kali ini partai dibesarkan ABW.

Partai manapun yang mendukung ABW akan dipilih & didukung rakyat. Kalkulasinya sbb.:
Partai pendukung ABW

Partai Nasdem, walau ditinggal beberapa pengurusnya seperti di NTT dan Bali, pemilihnya akan lebih besar.

Partai Demokrat walau dicoba dipecah belah, akan juga semakin besar, apalagi SBY akan turun gunung.

PKS, partai Islam yg satu ini selalu konsisten bela rakyat, tentu akan membesar, bahkan mungkin diatas perhitungannya sendiri.

PPP jika bergabung dengan ABW mungkin bisa meraup sejumlah suara juga.

Partai Golkar yang diketahui ingin mencalonkan ketua partainya sendiri dan telah berkoalisi dengan partai lain, jika saja terang benderang mendukung ABW seperti Nasdem, masih punya peluang bertahan.

Partai pengusung bukan ABW :

Parai Gerindra partai kedua terbesar setelah PDIP, agak lain analisisnya. Partai ini telah meninggalkan ulama dan umat Islam serta emak-emak yg setia bahkan telah membantu logistik secara spontan pada pilpres 2019 yl, sangat besar peluangnya untuk turun peringkat. Apabila PS sebagai Ketua legowo mendukung ABW (menjadi mentornya) diperkirakan akan tetap besar.

PKB demikian juga, diperkirakan akan jeblok, karena track recordnya tidak berpihak pada rakyat, bahkan Yenny Wahid sudah minta agar para pendukung Gus Dur memilih ABW.

PDIP walau saat ini suaranya palling besar, karena jumawa dimana para kadernya banyak menyakiti rakyat dan menjadi koruptor akan nyungsep. Di Jabar kasus pengghinaan terhadap bahasa Sunda oleh AT kader PDIP, belum hilang dari ingatan, sulit untuk diobati. Adanya keinginan merubah Pancasila, Omnibus law, aksi “mematikan mik” dan korupsi termasuk bansos, tentu membuat rakyat menghindar. Keturunan komunis di PDIP mungkin kelak menjadi tulang punggung PDIP. Nasionalisnya secara bertahap akan beralih haluan.

Rakyat sudah sangat cerdas, uang recehan yang dulu mampu menghipnotis rakyat kecil, sekarang uang besarpun belum tentu berhasil. Kecurangan di KPU juga sulit berjalan mulus walaupun kotak kardus diganti kantong kresek sekalipun, karena mayoritas rakyat hatinya sudah terpaut pada sosok ABW.

Pada pilpres 2024, jika semuanya berjalan normal, rakyat akan memilih ABW bukan memilih partai. Partai pendukung ABW pasti akan dipilih rakyat. Bagaimana dengan Cina pendatang yang konon jumlahnya nya sampe 30 jutaan ? Ini soal lain, jika KPU nya setia pada negara, tentu mereka dilarang ikut pemilu. TKA hanya ikut bekerja, tidak boleh disamakan dg WNI. Memberikan kesempatan pada TKA Cina untuk memilih itu merupakan kejahatan dan penghianatan pada negara & bangsa.

Yang jelas Oligarki dengan kekuatan uangnya, harus mulai berpikir akan tetap setia dengan rejim sekarang atau bergabung dengan ABW. Yang pasti ABW tidak dapat dijadikan boneka. Ini memang pilihan berat bagi konglomerat. Nyungsep atau mau bertahan.

Kasus ABW mirip Jokowi, fenomenal. Bedanya Jokowi dibesarkan media dengan pencitraan, ABW dibesarkan rakyat karena prestasi dan dibully.

Bandung, Oktober 2022
Memet Hakim

Memet Hakim, Pengamat sosial, Ketum APIB | IST
Memet Hakim, Pengamat sosial, Ketum APIB | IST

Pengamat Sosial
Ketua APIB