Sketsa Pilpres 2024: “Telur Dulu, Ayam Dulu?”

44
Ilustrasi Kursi Singgasana Penguasa/IST

Sketsa Pilpres 2024: “Telur Dulu, Ayam Dulu?”

Ganjar Pranowo diborgol. Puan Maharani masih dipingit. Prabowo Subianto gandeng Muhaimin Iskandar. Anies Baswedan pun didaulat awal jadi pengantin tunggal.

Pilih kelir, acak corak. Silakan mau pilih yang mana. Mumpung masih suasana pasar Tanah Abang. Boleh dilirik, sebelum dipikat.

Masih ada nama lainnya. Anda sudah tahu. Ada Andhika Perkasa, Sandiaga Uno, Erick Thohir, dan Ridwan Kamil. Ada lagi Khofifah Indar Parawansa dan La Nyala Mataliti. Dua bakal calon dari timur Jawa. Ada pula Rizal Ramli. Boleh pilih yang mana. Bebas. Mumpung belum last order.

Tak cuma nama-nama itu dijajakan. Masih mungkin muncul nama lain.

Sederet nama dengan pernak-perniknya. Direka, supaya punya daya tarik. Pun daya pikat yang bisa mengingat. Tak mengikat, juga boleh. Ini yang membedakan dengan transaksi pasar Tanah Abang. Apalagi pasar tradisi yang kerap becek di musim hujan. Sarat adu tawar emak-emak.

Sederet nama boleh jadi berlomba. Apa lagi, kalau bukan agenda Pilpres 2024. Berebut tiket pasangan, baru cari perahu. Atau lebih dulu perahu, baru cari teman bulan madu. Yang pasti, bekal PT 20% harus sudah ada di saku. Ya, ambang batas yang praktis jadi kendala pencalonan. Bila modal dan bekal itu terpenuhi, berangkat deh. Ke KPU sebagai terminal pemberangkatan.

***

Pascalebaran tempo hari, bergulir Koalisi “Bertiga Bersatu”. Trio Golkar, PAN dan PPP. Sontak bikin geger peta politik nasional. Trio parpol ini mengikat Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Diplesetkan Kuning Ijo Biru. Dideklarasikan di pelataran Senayan, 04 Juni 2022. Karuan ketiganya mendorong ketum masing-masing sebagai bakal capres.

Menyusul KIB, bergulir manuver Gerindra dan PKB. Menawarkan poros baru. Menjajakan paket Prabowo – Muhaimin. Terakhir Nasdem merilis Anies Baswedan sebagai bakal capres. Nasdem mencoba menarik PKS dan Partai Demokrat. Itu sinyal bakal ada tiga poros kontestasi. Ditambah PDIP, dimungkinkan empat poros.

Di antara itu, dimungkinkan pula cuma tiga poros. Publik berharap minimal lebih dari dua pasangan kandidat. Tentu, agar terhindar dari polarisasi. Berupa “benturan” antardua kelompok pendukung. Berkonsekuensi biaya sosial tinggi dan berpanjang lakon.

Ketiga agenda politik terkini tadi kadung bergulir. Tak lepas dari komentar, analisis dan catatan kritis. Bermanuver-lah, mencuri start-lah. Tentu ada yang nyinyir pula. Hal biasa dalam dinamika politik. Bagian dari eskalasi. Padahal masih dua tahun lagi. Bila kemudian dipersoalkan, mengapa tidak sekalian saja dibuat aturannya. Katakanlah diberlakukan secepatnya setahun sebelum hajat demokrasi. Lagian, publik pun terbilang jenuh karenanya. Betapa pun pembelajaran politik. Publik dihadapkan wacana politik yang berputar sepanjang tahun. Dari pilpres ke pilpres berikutnya. Nyaris tanpa jeda.

Manuver parpol adalah keniscayaan. Belum lagi soal internal parpol itu sendiri. Terkait coat-tail effect (efek ekor jas -pen) terkait Pemilu Legislatif. Pengaruh pilihan kandidat Pilpres terhadap konstituen. Hampir pasti bikin puyeng penjaga gawang partai. Pilpres atau Pileg? Pileg atau Pilpres? Keduanya terkandung risiko alias konsekuensi.

Manuver tadi, terkait pemberlakuan “ambang batas” prasyarat. Apa hendak dikata, harus saling merangkul lebih dulu. Bahkan lebih awal, demi capaian koalisi. Kalau tidak begitu, berisiko “ketinggalan kereta”. Baru kemudian menetapkan calon kandidat. Lagi, mungkin pula dengan cara sebaliknya. Selebihnya, mirip tebakan alias puzzle. Atau serupa TTS. Telur dulu atau ayam dulu? Nah!***

@ iW