Mengunci Prabowo

182
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto/ist

Mengunci Prabowo

Capres (Calon Presiden) yang bernasib baik dan eletabilitas tinggi adalah Prabowo. Dianggap baik, jarang melakukan kampanye tapi citranya tetap bagus dimata publik. Dianggap baik, karena minim atau tidak punya musuh politik sama sekali. Dan paling penting, punya kenderaan sendiri untuk capres dari partai Gerindra.

Selain itu, Prabowo juga sudah punya gandengan, atau calon wakil Presiden, yaitu Muhaimin Iskandar, atau biasa dipanggil cak imin. Tinggal menunggu waktu saja, mereka berdua akan segera mendeklarasi pasangan calon Presiden yang diusung oleh PKB dan Gerindra.

Sebagai Capres, Prabowo sangat berbeda dengan GP (Ganjar Prabowo) ataupun Anies Baswedan. GP elektabilitas juga tinggi tapi tidak punya kenderaan partai. Meskipun GP itu kader partai PDI P tulen, tapi PDI P tidak mendukung GP sebagai Capres, malahan “memusuhinya” karena dianggap bukan berasal “darah biru” partai, dan terlalu dekat dengan Presiden Jokowi.

Begitu Juga dengan Anies. Biarpun tidak punya Partai, tapi masih bernasib baik dengan dapat “tebengan” Partai Nasdem, partainya Surya Paloh. Selain itu, ternyata Anies Punya musuh politik “segudang” dalam dunia persilatan capres. Anies banyak tidak disukai publik lantaran membawa bawa isu rasis atau politik identitas dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017.

Meskipun begitu, dalam hal lain Anies masih Bisa mengalahkan Prabowo. Dimana Anies sudah dideklarasi oleh Partai Nasdem. Sedangkan Prabowo sampai sekarang belum berani deklarasi bersama partai Gerindra. Prabowo lagi menunggu sinyal cuaca Politik yang baik untuk deklarasi sebagai capres.

Kabarnya, belum mau atau tidak berani Prabowo mendeklarasi sebagai capres, disebabkan belum mendapat “sinyal” dari dalam Istana. Mendapat sinyal dari istana ini penting, agar Prabowo tidak diganggu dalam pertarungan dalam pilpres 2024.

Bisa bisa juga, istana belum memberikan sinyal kepada Prabowo karena lagi sibuk menyiapkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, atau peta politik capres masih ruwet, seperti Anies dan Partai Nasdem belum “dibereskan” saat ini. Atau KIB (Koalisi Indonesia Bersatu) belum punya kesepakatan siapa capres mereka yang akan diusung.

Apalagi saat ini, ada dorongan dari relawan yang ingin menyatukan Prabowo – Jokowi sebagai capres dan cawapres (calon wakil Presiden). Siapa tahu, menyatukan Prabowo dengan Jokowi bisa berhasil, dan tidak melanggar Undang undang dasar. Ditambah PDI P setuju setuju saja, Jokowi sebagai wakil Presiden Prabowo.

Namun yang lebih penting dari cerita politik duatas, sebaiknya Prabowo dengan cak imin harus cepat cepat mendeklarasi diri sebagai pasangan capres. Kalau masih menunda nunda waktu, bisa bisa Prabowo sebagai capres terkunci, dan tidak bisa lagi, jangankan menjadi Presiden, untuk calon Presiden bisa batal dengan begitu saja

Oleh karena saat ini, orang orang NU yang berkantor di Kramat Raya maupun Lapangan Banten, berusaha dengan cara apapun melakukan “kudeta” atau merebut PKB dari cak imin. Mereka tidak suka cak imin maju sebagai capres nya partai PKB, dan sudah mempunyai capres dari kader NU Naturalisasi.

Kemudian, ketika Cak imin berhasil dikudeta oleh kader NU Naturalisasi sendiri, maka Koalisi Gerindra – PKB akan bubar. Dan PKB akan menarik diri dari koalisi, dan Partai Gerindra, tidak bisa lagi mengusung Prabowo menjadi capres lantaran presidential threshold tidak mencukupi.

Memang, bisa saja Gerindra mengajak partai lain bergabung ikut mendukung Prabowo menjadi Capres. Tapi itu membutuhkan cost yang tidak murah agar bisa membeli perahu untuk bisa mendukung Prabowo bisa menjadi capres.

Dan misal saja, Ada partai yang mau diajak Prabowo, maka belum tentu partai tetsebut, menyetujui pasangan wakil Presiden dari NU. Padahal, Prabowo tahu, dan sudah punya pengalamam dalam dua kali pertarungan Pilpres, ketika pasangan wakil presiden Prabowo bukan dari NU, Prabowo kalah di Jawa Tengah, dan Jawa Timur sebagai kunci untuk memenangkan Pilpres.

Uchok Sky Khadafi
Dirut CBA (Center For Budget Analysis)