WARNING BAHAYA CINA, NAGA BERANAK PINAK (Suatu analisis)

90
Memet Hakim, Pengamat sosial, | IST
Memet Hakim, Pengamat sosial, Ketum APIB | IST

WARNING BAHAYA CINA, NAGA BERANAK PINAK
(Suatu analisis)

Setidaknya yang dikenal 9 naga itu udah beranak pinak, entah jadi berapa naga dan anak naga sekarang. Mereka tergolong penduduk yang 1% tapi menguasai asset nasional sebanyak 50 % dari kekayaan Indonesia. Artinya 267.3 juta penduduk Indonesia (99%) memiliki sisanya. Nampak jelas, ada disparitas yang sangat timpang antara si kaya dan si miskin di Negri ini. Keturunan Cina yang baik dan merasa Indonesia menjadi negaranya tentu tidak termasuk dalam pembahasan ini.

Keturunan konglomerat Cina memiliki harta sebanyak itu mereka peroleh dengan cara ada yg baik tapi banyak dengan cara kotor. Walau tidak ikut berjuang, ayah dan kakek mereka masih mengenal bagaimana perjuangan pribumi lawan penjajah, sehingga mereka masih menahan diri, hanya cukup berdagang saja.

Saat ini keturunan ketiga banyak yang bersekolah tinggi bahkan di LN, mengganggap bahwa pribumi itu sang pemilik tanah air ini dianggap lebih rendah, mereka merasa derajatnya lebih tinggi dari pribumi. Turunan konglomerat ini tidak cukup hanya berdagang, mereka ingin kekuasaan juga. Ini yang menjadiasalah. Mereka berupaya dengan segala cara, membeli UU, peraturan, polisi, tentara, asn dan siapa saja yg bisa disuap akan disuap. Sialnya para pejabat di level bawah sampai pusat yang lemah iman dengan segala senang hati mau menghamba ke pengusaha cina ini.

Sebagai imbalannya turunan cina ini diberikan kemudahan dalam segala hal, atau dijadikan penasihat/ rekanan di instansi mereka. Tanpa disadari duit rakyat akhirnya mengalir kepada mereka. Tentu keturunan pengusaha cina ini tidak bodoh, jika mereka keluar uang, tentu dapat proyek atau jabatan atau privilage lainnya. Perijinan merupakan lahan basah intuk pemberi ijin, dan pengusaha Cina ini memanfaatkan kelemahan oknum pejabat pribumi ini.

Dikala harta menjadi ukuran kesuksesan, akhirnya setahap demi setahap Cina menguasai asset, perekonomian dan politik di Indonesia. Ada contoh menarik misalnya di Bandung, pengusaha Cina merobohkan cagar budaya di Jalan Cihampelas, Walikota dan Gubernurnya tidak berdaya mencegahnya, begitu juga KPK sering tidak Berdaya terhadap koruptor nonpri. Sama tidak berdayanya presiden menghadapi pejabat RRC dan para naga*

Ketidak berdayaan menegakkan aturan itu merupakan indikasi adanya duit haram telah masuk ke kantongnya.

Selama pejabat butuh duit dan ingin kaya, selama itu pula pengusaha Cina dengan mudah memperbudak pribumi. Memang tentara, polisi, asn yang sekarang semuanya bukan pejuang seperti bapak dan kakeknya dulu, sehingga mudah tergoda oleh duit.

Di akhir abad ke 13, Khubilai khan (1286 & 1293) 2 x mencoba menyerang Indonesia, tapi keduanya gagal. Sekarang tentara berkedok tka yang konon kabarnya sudah diatas 30 juta orang tinggal di tanah air. Peranakan Cina yg setia pada RRC juga banyak, sama dengan kacung-kacung pribuminya. RRC dan kaki tangannya berupaya sedemikan rupa ingin agar para pemimpinnya dari kalangan mereka. Bupati sudah beberapa daerah yg berhasil, Gubernur demikian juga walau hanya pengganti, mereka ingin juga jadi presiden. Parahnya presiden dan jajaran menterinya dengan senang hati ingin membantu RRC untuk mewujudkan keinginannya. Sampai akhirnya UUD45 diganti menjadi UUD 2002. Inilah mimpi RRC dan generasi muda konglomerat cina yang ingin menundukkan Indonesia lewat duit lewat para penghianat pribumi.

Tapi sejarah telah membuktikan Cina belum pernah berhasil mengalahkan pribumi Indonesia. Itulah sebabnya kenapa umat muslim yang mayoritas dimusuhi oleh penguasa. Dengan segala cara ulamanya dikriminalisasi. Aparat yg haus darah dan duit inilah yang menjadi ujung tombak keluarga naga. Mereka menjelma menjadi ular ular besar dan kecil yang siap mematuk dan menelan mangsanya.

Seandainya terjadi letupan akan banyak sekali korban, seluruh peranakan Cina penghianat tentu kembali diusir dari Indonesia. Generasi kedua dan ketiga konglomerat cina, harus bertanggung jawab penuh jika ada tindakan rasialis yang mereka ciptakan sendiri.

Generasi keturunan ini banyak yg belajar menembak, entah buat apa. Menguasai lahan sebanyak banyaknya, termasuk reklamasi, Mereka juga ada yg membuat partai dan memiliki stasiun tv sendiri. Bisnis haram seperti prostitusi, judi dan narkoba mereka punya juga. Usaha-usaha dibidang strategis terkait pangan sudah dimasukinya pula. Celakannya uang yang mereka putar diambil dari uang pribumi yg disimpan di bank termasuk bank pemerintah lewat pemimpinnya yg lemah iman. Jadi pimpinan bank tidak bisa berlepas diri dari dosa ini. Kredit bank untuk pribumi disiapkan untuk sekedar pemanis saja. Bank syariah terbesar bahkan telah mereka dirikan. Konglomerat cina ini tidak suka atas eksistensi muslim yang mayoritas, tapi duitnya suka banget. Prinsipnya uang pribumi dikumpulkan untuk mereka kuasai.

Nasib konglomerat generasi kedua dan ketiga ini tentu tergantung pada sikap mereka juga. Jika tetap serakah, merasa jadi warga negara kelas 1 dan masih menginginkan kekuasaan atas bumi, tanah dan air ini dengan segala cara, mereka yang harus tanggung akibatnya.

Indikasi keberanian keturunan cina ini meningkat adalah *pembantaian seorang mantan Dandim di Lembang dan penganiayaan seorang mayor di Tanggerang. Sebelumnya seorang nonpri berani menghina pribumi tolol, warga Indonesia asli memang pantas untuk disingkirkan, presiden harus orang cina (Beritahukum.com, 2016), 90% pribumi jadi budak cina (Pojoksatu.id, 2018) pernyataan nonpri juga menyebut ‘dasar pribumi tiko’ ke Gubernur NTB (Merdeka.com, 2017) dan banyak lagi tentunya.

Supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, keluarga naga generasi kedua dan ketiga harus mawas diri, menahan kerakusannya, dan stop merusak aparat. Negara Indonesia tidak ingin dan tidak akan menjadi seperti Singapura.

Negara Indonesia merdeka oleh para pejuang pribumi dimana darah nya mengalir, Tidak seharusnya jika naga-Naha muda tiba tiba ingin menjadi pemimpin di negeri pribumi ini, walau dikawal oleh ratusan ribu ular-luar besar dan kecil.

Semoga tulisan ini sedikit banyak dapat mengingatkan kembali sejarah usaha Khubilai khan untuk menjajah Indonesia. Semoga juga yang merasa menjadi ular segera sadar.

Bandung, Nov 2022
Memet Hakim
Pengamat Sosial