#NGOPISIANG: Pakaian dan Kepalsuan. Ada Apa Indonesiaku?

45
Aendra Medita, Wartawan dan juga seorang Analis di Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKPPI).

OLEH AENDRA MEDITA KARTADIPURA

Ada Apa Indonesiaku? 

PEMILU SUDAH DEKAT. PENTING SUDAH MENYEBUT BAHWA KINI SAATNYA MENUNGGU SIAPA AKAN MAJU DI CAPRES, MESKI SUDAH BANYAK SEKALI CALON. TAPI FINAL NANTI ADALAH YANG RESMI DAFTAR DI KPU.

Kenapa banyak yang ingin jadi Capres? Ya dong, tak usah ya iyalah…pastinya ingin tahu siapa saja yang akhirnya maju di Capres 2024. Ah yang penting jalani saja hidup ini saat ini hidup dengan cukup dan mencukupi sudah harus bersyukur. Lantas apa kita harus tahu siapa pemimpin nanti yang akan pimpin bangsa ini?

Sekadar menyebut saja tanpa menyebut nama. Mereka calon-calon yang ingin maju adalah yang kini di Kabinet sebagai menteri, sibuk ngurus koalisi ada sekitar 4 menteri. Dari ekonomi, perdagangan, BUMN sampai pertahanan ini mimpin jadi capres. Siapa dia silakan cek di mbak google saja. Lantas ada Ketuanya DPR, juga pemimpin daerah (yang ini getol) main di Medsos sampai RT (rindu tampil) yang diutamakan. Dan yang baru pensiun kepala daerah (kalau yang ini sah saja) dan bahkan sudah deklarasi oelh salah satu partai. Bahkan diduga nih yang ini masih diduga, ketua lembaga yang sering nangkap para koruptor dan juga masih diduga yang strategis di lembaga tinggi angkatan.

Tapi ini ada dialog itu terjadi antara anak muda di sebuah kedai kopi, dimana saya #ngopi juga siang ini. Tapi ternyata kedua mengalah untuk tidak memasalahkan diskusi siapa pemumpin kelak yang tak penting dilanjut dari pada persahabatan ada juga diskusi soal asli palsu.

Diskusi bergeser ke yang lebih sensitif. Tapi saya tiba-tiba ingat sebuah kisah drama berjudul “Pakaian dan Kepalsuan” karya Arkady Timofeevich Averchenko. Sebuah drama sadurannya dibuat oleh Achdiat KartaMihardja. Dalam teks Inggris The man with the green necktie. Averchenko lahir di Prague pada tahun 1881. Averchenko aktif sebagai penulis dan editor di sebuah jurnal bernama Satyricon. Sebuah majalah yang banyak mengkritisi praktik kotor para politikus semasa pra-revolusi (irony) dan pasca-revolusi (satire). Averchenko menulis banyak artikel dan sudah lebih dari 20 buku di terbitkan.

Pasca revolusi Bolshevik jurnal Satyricon mendeklarasikan anti-soviet. Seluruh staff termasuk Averchenko mengambil langkah oposan bagi struktur pemerintahan yang tengah dibangun. The man with the green necktie merupakan salah satu buah renungan Averchenko atas situasi saat itu.

Dalam lakon ITu mengaNgkat fenomena sosial masyarakat yang masih konteks dengan realitas kehidupan masyarakat pada saat ini, yakni masyarakat ideal yang selalu melihat perspektif seseorang melalui pakaiannya tanpa tahu isi dalamnya. Perspektif seperti ini mempunyai implikasi lain terhadap masyarakat, yakni masyarakat yang paradoks. Paradoks yang dimaksud adalah, masyarakat yang mempunyai kecendErungan memberikan pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran.

Pakaian dan Kepalsuan yang mengalami situasi dilematis yakni sebuah konflik teologis dalam balutan problema kejiwaan. Pakaian dan Kepalsuan ini mengambil cerita dalam latar sosial kepadatan ibukota pada era reformasi. Pakaian Dan Kepalsuan mengajarkan nilai-nilai universal yang masih relevan hingga sekarang, yakni: bahwa dibalik sebuah pakaian sesunguhnya manusia memiliki jiwa dan watak yang berbeda.

Pakaian dan Kepalsuan sangat menarik terutama pesan-pesan dalam menghadapi fenomena masyarakat ibukota yang nota bene merupakan masyarakat indonesia pada umumnya. Pakaian dan Kepalsuan sarat dengan ketajaman filosofis yang menjadi kredo penulisnya dengan penuturan yang jauh dari kesan menggurui dan ‘menghakimi’.

Pakaian Dan Kepalsuan menengarai suatu kondisi dimana terdapat kelompok masyarakat yang punya jabatan tinggi. Monumental yang dimaksud adalah, dimana setiap individu menjalani kehidupan yang hanya sebatas perkataan tanpa bukti. Hipokrit, adalah istilah lain untuk menyebut orang-orang semacam ini, karena kemunafikan dapat menyelesaikan masalah dengan kemegahan dalam menjalani pekerjaan bagi individu-individu ini.

Pakaian Dan Kepalsuan, sehingga konflik dalam lakon seolah menjadi potret Indonesia di hari ini yang sangat sensitif dengan permasalahan politik, meskipun dengan perspektif latar belakang ideologi yang berbeda. Adanya kubu yang tak pernah cair. Bahkan cenderung akhinya ada yang saling cakar mencakar tapi tak jelas arahnya. Jauh dari harapan ingin menjadikan kekuatan kemajuan yang madani.

Dan saya ingin kutip dialog inilah yang ingin disampaikan:

“Silakan tuan-tuan, kejarlah orang-orang itu.

Pintu sudah terbuka luas untuk tuan-tuan.

Dan lampu-lampu di jalan cukup terang.

Ingin kulihat kepengecutan dan kepalsuan mengejar kejujuran”.

(Dialog salah satu tokoh perempuan dalam drama Pakaian dan Kepalsuan).

Atas semua itu lantas saya sambil #ngopisiang arabica dari gunung puntang ini bertanyalah….ADA APA INDONESIAKU?

*) jurnalis