TERIMA KASIH, MASYUMI

93

TERIMA KASIH, MASYUMI
OLEH Abdullah Hehamahua

“Terima kasih,” ucapan yang lazim dikenal dalam masyarakat manusia di bumi. Jika tidak berterima kasih, sama dengan menafikan segala nikmat yang dimiliki, baik dalam tubuh kita maupun di alam semesta dengan segala isinya. Itu sebabnya, Allah SWT dalam surah Ar Rahman menyebutkan 31 kali perkataan: “ nikmat Rabb manalagi yang kamu dustakan?”

Hari ini, banjir dan tanah longsor di mana-mana. Oktober 2022 ini saja, tujuh provinsi dilanda banjir dan tanah longsor: Aceh, Jateng, Jatim, Bali, Banten, Sumber, dan Sulsel. Sepuluh orang tewas. Ribuan hektar sawah gagal panen. Ribuan rumah tenggelam. Puluhan ribu penduduk harus mengungsi.

Penyebab musibah, penebangan pohon secara liar. Alih fungsi hutan yang tidak bertanggung jawab. KPK pernah tangkap tiga gubernur Riau berturut- turut. Penyebabnya, korupsi di antara Pengusaha hutan dengan gubernur. Dampaknya, 8,2 hektar hutan di wilayah ini rusak setiap menit.

Menurut sains, satu menit, manusia dewasa bernafas 12 – 24 kali dan menghirup 7- 8 liter udara. Sehari, seorang rata-rata menghirup udara, 11.000 liter. Setahun, udara yang dihirup, 9.5 ton, 23%-nya, oksgien. Satu pohon dapat menghasilkan, 118 kg oksigen setahun. Dalam setahun, untuk menghidupi satu manusia, dibutuhkan 7- 8 pohon. Maknanya, setiap orang, harus keluarkan Rp 91.965.500,- untuk kebutuhan oksigen dan nitrogen per hari. Jadi, setahun perlu Rp.33.567.407.500,- Bayi umur sehari perlu Rp 91.965.500. Bayi umur setahun perlu Rp 33.567.407.500,- Mahasiswa yang baru wisudah perlu Rp 805.617.780.000,- Jadi, Presiden Jokowi, jika ijazahnya tidak palsu, maka perlu delapan ratus lima milyar, enam ratus tujuh belas ribu, tujuh ratus delapan puluh ribu rupiah hanya untuk menghirup udara setiap detik, sejak lahir sampai wisuda.

Mengapa Harus Masyumi ?
Masyumi, partai yang menolak Nasakom (Nasional, Agama, dan Komunis). Sebab, ide Soekarno ini secara diametral bertentangan dengan sila pertama Pancasila dan pasal 29 ayat 1, UUD 45 (asli). Pasal ini berbunyi, “negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.” Jadi, Indonesia adalah negara tauhid. Bukan negara kapitalis, sekuler, apalagi komunisme. Umat beragama mesti berterima kasih ke Masyumi. Soekarno marah. Beliau paksakan Masyumi bubar.

Pimpinan Masyumi tahun 1960 menyatakan diri uzur. Membekukan diri. Pada waktu yang sama, Masyumi mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta. Bahkan, sampai ke MA. Tidak ada putusan apa pun. Pengadilan Jakarta dan MA, membisu.

Akhirnya, Orde lama tumbang, 1965. Soekarno dihalau dari istana, 1967. Beliau meninggal dunia dalam status tahanan kota. Buya Hamka, ulama Masyumi, menyolatkan jenazahnya. Sebab, Soekarno mewasiatkan agar jenazahnya dishalatkan Buya Hamka, ulama yang dipenjarakan olehnya. Mantan Pejabat MA bilang, surat Presiden Soekarno yang paksa Masyumi bubarkan diri, menyalahi konstitusi.

Soeharto tolak rehabilitasi Masyumi setelah tokoh-tokohnya bebas dari tahanan Soekarno, 1967. Padahal, Mohd. Natsir, PM pertama NKRI, keluar dari penjara, kirim surat ke kawannya, Fukuda yang waktu itu Menteri Keuangan Jepang. Mohd. Natsir minta Jepang bantu perekonomian Indonesia yang sangat terpuruk waktu itu, ulah PKI dan PNI. Berdasarkan surat Mohd. Natsir itulah, Jepang mendorong terbentuknya IGGI, negara-negara donor yang memberi bantuan utang ke pemerintah Soeharto. Namun, Soeharto tetap tidak mau berterima kasih ke Masyumi. Sebab, ketika Mohd. Roem terpilih sebagai Ketua Umum Parmusi, partai yang digagas tokoh-tokoh Masyumi, Soeharto tetap menolaknya. Sebab, kata Soeharto, Mohd. Roem adalah tokoh Masyumi.

Roda pedati berputar. Soeharto lengser, 1998. Biasa, unjuk rasa mahasiswa seperti proses pemakzulan Soekarno. Asas tunggal dicabut. Masyumi mendeklarasi diri kembali pada 18 Agustus 1998. Tahun 1999, Masyumi ikut Pemilu dan mendapat kursi di lembaga legislative.
Pemilu 2004, Masyumi masih dianggap common enemy sehingga dijegal untuk ikut Pemilu. Tahun 2024, Masyumi bertekad akan ikut bertarung kembali. Apakah masih ada sisa-sisa PKI dan orde baru yang berusaha menjegal Masyumi. Wait and see. !!!

Sumbangsi Masyumi
Sumbangan pertama Masyumi, Moh. Natsir sebagai anggota KNIP minta Ruslan Abdul Ghani, Sekretaris Kementerian Penerangan waktu itu agar sampaikan pesan ke KH Hasyim As’ari, Rois Akbar NU. Mohd. Natsir minta agar dikeluarkan fatwa jihad mengahadapi intervensi pasukan Sekutu dan tentara NICA, Belanda. Lahirlah resolusi jahid, 22 Oktober 1945 yang memicu umat Islam se-Jawa melawan tentara Sekutu dan Belanda. Dua jenderal pasukan Sekutu, dibunuh.

Sumbangan kedua Masyumi, Syafruddin Prawiranegara, seorang kader terbaiknya tampil sebagai Presiden. Sebab, sewaktu Soekarno dan Hatta ditangkap Belanda, Syafruddin Prawiranegara sebagai  pimpinan Masyumi membentuk pemerintahan sementara, PDRI. Pemerintahan inilah yang selamatkan harga diri Indonesia di mata dunia internasional. PBB terpicu oleh program  PDRI sehingga lahirlah pengakuan dunia internasional terhadap kedaulatan Indonesia, 19 Desember 1949.

Sumbangan ketiga Masyumi,, Mohammad Natsir, keliling 7Indonesia, melobi para sultan, raja, pimpinan negara-negara bagian serta pimpinan fraksi-fraksi di parlemen. Beliau, pada tanggal 3 April 1950, di parlemen, menyampaikan pidato yang phenomenal, terkenal dengan istilah Mosi Integral. Akhirnya, Negara Indoensia Serikat (RIS) berubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Rosihan Anwar, wartawoan senior waktu itu bertanya ke Soekarno. Siapa yang akan menjadi PM. Apakah Moh. Natsir. ?” “Siapa lagi kalau bukan Natsir,” jawab Soekarno.

Sumbangan keempat Masyumi, pelaksanaan Pemilu 1955 yang paling demokratis sepanjang sejarah. Salah satu indkatornya, 87,6% rakyat menggunakan hak pilihnya. Bandingkan dengan Pemilu 2019, hanya 81%. Padahal inilah jumlah terbanyak sesudah Pemilu 1955. Pemilu pertama yang dilaksanakan PM Burhanuddin Harahap tsb, menghasilkan 57 orang anggota parlemen untuk partainya, Masyumi. Jumlah ini sama dengan yang diperoleh PNI dari keseluruhan 257 kursi yang diperebutkan. Jumlah pemilih PNI sedikit lebih banyak dari Masyumi. Sebab, PNI menang di Jateng dan Bali, provinsi yang banyak penduduknya. Masyumi menang di 10 dari 14 daerah pemilihan: Jawa Barat (termasuk Banten), seluruh Sumatera, Kalimantan, NTB, Sulawesi (kecuali Sulut) dan Maluku (termasuk Maluku Utara, kecuali Maluku Tenggara).

Sumbangsih signifikan PM Burhanuddin Harahap, membubarkan Uni Indonesia Belanda, membentuk provinsi Aceh, dan menyetujui pembentukan Universitas Sumatera Utara. Tindakan paling heroik, Burhanuddin Harahap menangkap mantan Menteri Kehakiman, Djodi Gondokusumo karena terlibat korupsi. Beliau juga menyiapkan RUU Pemberantasan Korupsi dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Sayang, RUU ini ditolak oleh PNI dan koalisinya. Sebab, beberapa anggota mereka terlibat korupsi.

Sumbangan kelima Masyumi adalah perjanjian Roem -Roiyen yang dikomandoi Mohammad Roem, salah seorang pimpinan Masyumi. Perjanjian ini merupakan pemicu bagi berlangsungnya pengakuan kedaulatan Indonesia oleh dunia internasional melalui Konperensi Meja Bunda (KMB) di Denhaag, Belanda.

Milad ke-77 Masyumi

Hari ini, 7 November 2022, pukul 13.00, bertempat di Sekretariat DPP Masyumi, dilakukan tasyakuran secara sederhana. Ia diikuti secara online oleh 34 DPW, lebih dari empat ratus DPD, dan ribuan DPC. Sebab, 77 tahun yang lalu, di kota Yogyakarta, berlangsung Kongres Umat Islam pertama yang melahirkan Partai Politik Islam Indonesia Masyumi. Ketua Majelis Syura-nya adalah KH Hasyim Asry’ari, Rois Akbar NU dan Dr. Soekiman sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat.

Ketua Umum DPP, Dr. Ahmad Yani dalam pidato politiknya, antara lain mengatakan, sudah ada setengah juta anggota yang menyerahkan KTP mereka. Jumlah ini masih jauh dari tahun 1950. Masyumi waktu itu punya 10 juta anggota. Mungkin waktu itu, umat Islam belum fragmatis. Kini, masyarakat cenderung fragmatis. Bahkan, menurut Ketua Masyumi, ada partai yang tidak memenuhi syarat diloloskan KPU, Agustus lalu. Sebagai mantan Penasihat KPK, kusarankan KPK mengawal ketat KPU dan Bawaslu. Bila perlu, sekarang juga melacak berita tak sedap tentang KPU tersebut. Semoga !!!

(Depok, November 2022).