Tito, Audit Satgasus & Buku Merah Putih

101
Imam Wahyudi, wartawan senior /ist

Tito, Audit Satgasus
& Buku Merah Putih

Kasus Ferdy Sambo buka-bukaan. Kadung terkuak dan terbuka. Tak sekadar menjawab tuntutan publik murka.

Komitmen Kapolri perlu diapresiasi. Bertekad mereformasi institusi polri. Bersifat menyeluruh. Pesan tanpa ragu. Yang ragu, angkat tangan! Tegas, tangkas, lugas, tuntas. Begitu pesan tersirat. Sikat!

Nyata bergulir. Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo tak ragu. Tercatat 97 anggotanya terlibat kasus Sambo. Setara satu kompi. Tak gentar. Maju!

Proses penyidikan Sambo dkk berproses. Tak dinyana, muncul Tragedi Kanjuruhan. Kapolda Jatim, Irjen Nico Afitan mendadak dibuat meriang. Baru sehari “lolos” dari dugaan tiga kapolda terlibat kasus Sambo. Dia harus copot jabatan. Nico dianggap ikut bertanggungjawab. Tragedi sepakbola yang menelan korban 135 suporter tewas

Giliran Teddy Minahasa yang diplot gantikan Nico, pun terjerat kasus “barbuk” narkoba. Sesama Pati berpangkat jenderal lapis tiga. Irjen, begitu. Promosi dari Kapolda Sumbar, Teddy cuma empat hari “menjabat” Kapolda Jatim. Baru di atas kertas. Belum sertijab pula. Keburu dicokok dan lanjut ditarik lagi penetapan jabatan baru itu.

Bak gayung bersambut. Bersinambung antarperistiwa melibatkan polisi berbintang. Karuan memunculkan spekulasi “perang antarbintang”. Di tubuh institusi polri. Begitu pula sinyalemen Menko Polhukam, Mahfud MD. Toh, tak ada yang membantah. Tak pula ada klarifikasi kapolri.
***
Di antara sengkarut tiga bintang, publik tak henti bertanya. Ada apa di internal Polri? Adakah “persaingan” bertubi? Sejumlah pihak menengarai dampak kebijakan “dwi fungsi polri” ala Jokowi. Mengarah sebutan “police state”. Sederet pati polri menempati jabatan publik nonpolri. Pemicu virus yang tak segan memapar.

Rangkaian cerita menukik ke Satgasus Merah Putih. Satuan tugas khusus yang diinisiasi Tito Karnavian, 20 Februari 2017. Dalam rangka agenda capres 2019. Toh, melewati sifat “temporary”. Berlanjut. Kapolri Tito menjabat 14 Juli 2005 – 23 Oktober 2019. Selanjutnya digantikan Idham Aziz hingga 27 Januari 2021. Sebelum dijabat kini, Jenderal Listyo Sigit. Sudah lebih lima tahun, panji Satgasus berkibar. Di antara kibaran bendera utama Polri. Selama tiga periodisasi jabatan kapolri.

Satgasus Merah Putih mendadak dibubarkan. Dipicu kasus Sambo yang notabene ketuanya sejak 20 Mei 2020. Jabatan itu berakhir 06 September 2022. Sudah lebih dulu berperkara. Tentu, selain jabatan prestisius lain. Kepala Divisi Profesi & Pengamanan (Propam) Polri. Kedua jabatan itu rontok seketika. Ditambah bonus PDTH dari anggota polri. Berlanjut persidangan dakwaan 340 (338) di peradilan umum.

Kapolri membubarkan Satgasus Merah Putih. Sebuah lembaga nonstruktural polri di lembaga polri. Momentum pembubaran, menyusul kasus Sambo. Diduga pula, saling berkait. Sambung menyambung dalam satu muara.

Publik tengah menanti perlakuan audit satgasus. Tak berhenti pada pembubaran. Ditengarai satu lingkaran. Di antaranya Kaisar Sambo dan Skema 303 serta deteksi PPATK. Pusat Pelaporan & Analisis Keuangan itu menyebut adanya dana judi “online”. Senilai rp 155 triliun yang diduga mengalir ke pejabat polisi. Dengan kata lain, ketiganya terkait nama institusi polri.

Dukungan moral publik di tangan kapolri. Mengembalikan kepercayaan publik yang kadung melorot. Tak berhenti di kasus Ferdy (Sambo) hingga Teddy (Minahasa). Perlakuan audit Satgasus Merah Putih. Lanjut Skema 303 dan aliran dana judi “on line” deteksi PPATK.

Menunda dan menunda, justru berdampak tak tuntas. Bahkan memicu, dugaan minor lanjutan. Ketidakhadiran Tito dan Idham dalam temu mantan kapolri, memunculkan spekulasi. Mengingatkan kedua mantan kapolri itu berperan dalam Satgasus Merah Putih.

Bersamaan itu muncul lagi cerita Buku Merah Putih di KPK. Ditengarai peran Tito Karnavian. Mantan penyidik KPK, Novel Baswedan menyebut ada lembar dokumen yang hilang. Terkait kasus impor daging sapi. Diduga dilakukan oknum penyidik, konon atas perintah Tito. Ada Satgasus Merah Putih, ada Buku Merah Putih. Pada keduanya ada nama Tito.

Kapolri kali ini memang tengah diuji. Tak cuma langkah berani. Tapi sekaligus presisi. Demi bakti untuk negeri. Publik menanti.***

imam wahyudi (iW)
jurnalis senior di bandung.-