Manuver Istana menaklukkan PDI P

262
Uchok Sky Khadafi, Pengamat Anggaran Politik dan Direktur Center For Budget Analysis (CBA) / FOTO ATA

Oleh Uchok Sky Khadafi
Direktur CBA (Center For Budget Analisis)

Konon, Istana sedang mempersiapkan dua jago pasang capres. Dua pasang capres ini, bila sudah siap, akan pura-pura diaduh seperti “ngaduh” ayam jago sebagai tradisi judi di kalangan rakyat jelata.

Dari dua jago pasangan capres bikinan Istana ini, sudah mulai kelihatan siapa siapa saja mereka. Tentu bukan Anies Baswedan. Orang yang tidak disukai atau dibenci kalangan Istana.

Perkiraan, capres-capres istana yang akan muncul adalah Prabowo dari Gerindra dan Ganjar Pranowo kader PDI Perjuagan. Namun kedua capres ini belum berani melakukan deklarasi capres seperti Partai Nasdem mendeklarasi Anies. Mereka lagi menunggu sinyal dari Istana

Tidak beraninya capres capres mendeklarasi sebagai capres yang serius, disebabkan, pihak Istana masih menemukan kendala politik pada salah satu capres. Padahal, Jika dilihat dari komposisi capres yang sudah didesain Istana sudah Top dan mantap. Sudah ada dua kubu capres terbentuk yang siap bertanding di pilpres 2024

Satu capres yang didukung Istana adalah Prabowo, yang komposisi capresnya didukung Partai Gerindra dan PKB. Yang sebentar lagi, PKS akan ikut bergabung dengan mereka. Sedangkan Komposisi yang kedua, gabungan Partai Golkar, PAN, dan PPP atau yang bernama KIB (Koalisi Indonesia Bersatu). Koalisi ini, sebetulnya sudah bisa mendukung GP (Ganjar Pranowo) sebagai capres mereka.

Namun sepertinya, pihak Istana membaca bila hari ini GP dipaksakan diusung oleh KIB, maka formula kurang pas. Masa kader tulen PDI P diusung partai lain. Bisa bisa GP kalah telak melawan Prabowo di Pilpres 2024, karena tidak didukung massa bawah PDI P.

Maka untuk itu, pihak istana sampai sekarang masih sabar menunggu PDI P mencalonkan dan mendeklarasi GP sebagai Capres. Tetapi, sepertinya Pihak PDI P santai santai saja dengan manuver nakal istana, dan kampanye kampanye GP yang kebelet ingin jadi capres PDI P.

Salah satu Manuver Istana, atau bisa Juga disebut provokasi kepada Ketua umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, ketika Pidato Presiden Jokowi di ulang tahun Partai Perindo, menyebut bahwa jatah Presiden selanjutnya adalah Prabowo.

Konteks pernyataan Jokowi ini ingin mendorong PDI P agar segera mendeklarasikan GP sebagai capres. Kira kira formula seperti ini, Jokowi ada di kubu Prabowo, dan Megawati Soekarnoputri ada di GP. Dan Rombongan partai Politik di koalisi KIB akan merapat ke kubu PDI Perjuangan melawan koalisi Partai Gerindra – PKB.

Tetapi sayang, Ketum Megawati Soekarnoputri tidak terpancing apapun dengan ucapan Presiden Jokowi tersebut. Biarpun dikirim beribu ribu dukun, dan 7 kembang tujuh rupa, tetap saja Megawati Soekarnoputri tidak akan takluk oleh arahan dan rayuan Istana untuk mendukung GP jadi Capres PDI P.

Oleh karena, yang tidak dipahami pihak Istana adalah Megawati Soekarnoputri sedang menunggu wangsit atau bisikan dari Bung Karno. Siapa Presiden Indonesia selanjutnya. Itulah sisi lain Politik Indonesia, yang tidak bisa dilihat dari sisi rasional saja.