#NGOPI: KOPI ETHIOPIA & KOPI PRIANGAN SANG PRIMADONA

16
JAKARTASATU.COM — Cerita kopi dalam sejarah tak mungkin dilepaskan dari kopi Java. Meski sempat “dikubur” ceritanya. Kopi Java asal Parahyangan itu tetap jadi kenyataan yang hakiki dan Kopi Java yang ada di Jawa Barat kini popoler dan melengenda karena ternama di mananegara.
Tulisan ini hanya ingin melengkapi saja kisah yang sudah tertulis dimana pada Kamis, 22 Agustus 2019, sahabat kawan David Massabuau dan Dini Kusmana Massabuau Prancis memberikan kopi dari Ethiopia. Jadilah ini sejarah.
Open photoKOPI DUNIA AWALNYA ETHIOPHIA
Sejarah kopi konon bermula pada abad ke-9 di Ethiopia. Namun, budidaya dan perdagangan kopi baru mulai populer pada abad ke-15 oleh pedagang di jazirah Arab tepatnya di Yaman.
Kopi mencapai Eropa pada abad ke-17 namun tidak dapat tumbuh baik di sana. Bangsa-bangsa Eropa lantas menggunakan daerah jajahannya untuk membudidayakan tanaman kopi.
Indonesia, yang diduduki Belanda, memiliki andil yang besar dalam sejarah dan persebaran jenis kopi di dunia.
Untuk ulasan lebih lanjut, mari simak artikel sejarah kopi dunia & Indonesia berikut. Semoga dapat menambah wawasan Anda mengenai minuman primadona dunia ini.
Asal Usul Kopi
Sejarah kopi sangat erat kaitannya dengan peradaban kaum muslim era kekhalifahan. Peradaban muslim punya pengaruh yang besar bagi perkembangan peradaban dunia, baik dalam hal sains, teknologi, budaya, seni, sastra, hingga kuliner. Budaya minum kopi adalah salah satunya.
1. Budaya Minum Kopi Orang Muslim (Wikimedia Commons)
Konon, tanaman kopi pertama kali ditemukan di daratan Afrika, tepatnya di daerah yang merupakan bagian dari negara Ethiopia, yaitu Abyssinia. Masyarakat Ethiopia mulai mengkonsumsinya sejak abad ke-9. Pada saat itu kopi belum dikenal luas di dunia.
Biji kopi menjadi komersial setelah dibawa oleh para pedagang Arab ke Yaman pada pertengahan abad ke-15.
Kopi dipopulerkan menjadi minuman oleh orang-orang muslim. Istilah kopi juga lahir dari bahasa Arab, qahwah yang berarti kekuatan.
Berkat peradabannya yang lebih maju dari Afrika, Arab membudidayakan kopi sendiri dan mengekspornya ke penjuru dunia. Orang-orang muslim mulai menyebarluaskan kopi melalui Pelabuhan Mocha, Yaman. Mocha pun dikenal jadi jenis kopi.
Berdasarkan literatur sejarah kopi, minuman ini sempat menjadi komoditas utama di dunia Islam. Minuman kopi sangat populer di kalangan peziarah kota Mekah meskipun beberapa kali dinyatakan sebagai minuman terlarang.
Para peziarah meminumnya untuk mengusir kantuk dan tetap terjaga saat beribadah malam.
2. Era Kekhalifahan dan Penyebaran Kopi ke Eropa
Pada masa kekhalifahan Turki Utsmani di abad ke-15, kopi menjadi sajian utama di setiap perayaan. Melalui Turki inilah, minuman pahit berwarna hitam kecokelatan ini mulai dikenal dan disukai oleh orang-orang Eropa.
Perbedaan budaya dan bahasa membuat bangsa Turki menyebut qahwah menjadi kahveh. Mulai dari sinilah kemudian orang-orang Belanda mengenal dan menyebutnya koffie.
Orang-orang Kristen Eropa mengadopsi kebiasaan minum kopi karena erat kaitannya dengan kemegahan dan kekayaan orang-orang Turki Ustmani. Pada saat itu, kopi arabika merupakan primadona bahkan menjadi minuman kelas menengah di Inggris pada tahun 1600-an.
Kopi lantas menjadi komoditas penting di dunia. Orang-orang Eropa mencoba membudidayakannya sendiri. Namun, seringkali upaya tersebut gagal karena tanaman kopi tidak bisa tumbuh baik di sana.
Oleh karena tidak bisa tumbuh baik di negerinya, beberapa negara di Eropa membawa tanaman ini ke daerah lain. Biasanya mereka memanfaatkan negara koloni atau jajahannya.
Legenda tentang Asal Usul Minuman Kopi
Ada dua kisah legendaris tentang sejarah kopi. Legenda tersebut berkisah tentang Khaldi yang bertemu dengan kambing-kambing, dan Omar yang bekerja sebagai tabib. Dua mitos ini menceritakan awal manusia mulai mengonsumsi kopi.
Kedua kisah tersebut sangat terkenal dan mendunia. Siapa saja yang mencoba untuk menelusuri sejarah kopi akan bertemu dengan dua mitos ini.
1. Khaldi dan Kambing yang Menari (earthstoriez)
Cerita ini merupakan mitos yang lahir di Ethiopia. Seiring dengan persebaran kopi di dunia, kisah ini pun tersebar secara lisan hingga melegenda.
Konon, hiduplah seorang lelaki penggembala kambing bernama Khaldi pada kisaran tahun 850. Suatu hari, kambing-kambingnya melompat-lompat kegirangan seperti sedang menari. Usut punya usut, ia mendapati kambingnya telah memakan buah beri merah dari pohon yang asing.
Penasaran dengan yang dialami kambingnya, Khaldi mencoba buah tersebut. Setelah memakannya, ia menjadi bersemangat seperti kambing-kambingnya itu.
Khaldi menceritakan apa yang dialaminya kepada petapa atau biarawan. Si biarawan kemudian tertarik untuk mencoba buah ajaib itu. Ia pun bisa menjadi lebih kuat dan terjaga sepanjang malam tanpa mengantuk untuk berdoa.
Oleh karena buah tersebut terasa sangat pahit, maka biarawan itu mulai mengolahnya. Ia mencoba memanggang dan menyeduh buah tersebut. Sejak itulah kopi mulai dikenal sebagai minuman yang dapat menambah tenaga dan mengusir rasa kan.
2. Omar Si Tabib Sufi (earthstoriez)
Pada suatu hari, hidup seorang tabib penganut sufi di kota Mocha, Yaman. Ia bernama Ali bin Omar al Shadili dan biasa disapa Omar.
Omar dikenal sebagai tabib yang memadukan tindakan medis dengan doa. Hampir segala penyakit bisa ia sembuhkan dengan cara itu. Ia pun menjadi tabib terkenal dan terpercaya di kota Mocha.
Kepopuleran Omar tersebut tidak disukai oleh penguasa lokal. Segala upaya dilakukan untuk menjatuhkan Omar, seperti menggosipkannya telah bersekutu dengan setan untuk menyembuhkan pasiennya. Akhirnya masyarakat mengusir Omar dari Mocha.
Omar pergi menjauh dan tinggal di dalam gua di luar kota Mocha. Pada saat ia mulai kelaparan, ia menemukan semak yang penuh dengan buah beri berwarna merah.
Omar berpikir bahwa buah tersebut merupakan tanda Tuhan hendak menyelamatkannya. Ia pun memakan buah itu untuk mengusir rasa laparnya. Oleh karena rasa beri merah itu pahit, segala cara dilakukannya untuk mengolah buah itu hingga ke bijinya.
Usaha Omar tidak membuahkan hasil karena ia tetap tak bisa menikmati buah itu. Ia pun hanya meminum cairan dari biji buah itu untuk memuaskan rasa hausnya. Tidak disangka, cairan yang ia minum mampu menyegarkan tubuhnya.
Singkat cerita, banyak pasien datang ke gua dan meminta Omar untuk kembali menyembuhkan penyakit orang-orang. Omar pun mulai menggunakan air seduhan dari biji buah beri itu sebagai obat mujarab. Air itu pun terkenal dan disebut dengan nama Mocha.
Jenis-Jenis Tanaman Kopi
Terdapat lebih dari 100 spesies, atau jenis kopi yang dikenal. Namun kebanyakan rasanya tidak enak atau memiliki hasil panen yang kecil.
Hanya ada tiga jenis kopi yang menjadi komoditas populer di dunia yaitu Arabika (Coffea arabica), Robusta (Coffea canephora var. robusta), dan Liberika (Coffea liberica). Berikut adalah ulasan mengenai ketiga jenis kopi tersebut.
1. Arabika
Coffee arabilca atau yang biasa dikenal dengan arabika adalah kopi pertama yang ditemukan di Ethiopia dan oleh bangsa Arab disebarkan ke penjuru dunia. Nama arabika kemudian digunakan karena peran bangsa Arab dalam menyebarkan biji kopi tersebut.
Arabika juga merupakan jenis kopi pertama yang dibawa ke Indonesia oleh Belanda.
Tanaman arabika dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 1.000-2.000 meter dari permukaan laut. Pada dataran yang lebih rendah, tanaman ini sebenarnya masih bisa tumbuh. Namun, pertumbuhannya tidak akan optimal dan sangat mudah terserang hama.
Biji arabika mengandung kafein yang rendah sehingga rasa dan aromanya lebih menonjol. Ciri khas kopi arabika adalah rasanya yang asam dan warna seduhan yang tidak terlalu kental.
Jenis kopi arabika adalah yang paling diminati karena bisa menghasilkan beberapa varietas dengan aroma yang unik dan berbeda-beda. Bahkan, tanaman arabika yang sama dapat menghasilkan varietas kopi yang baru jika ditanam di daerah yang berbeda. Di Indonesia sendiri, kita bisa menemukan dan menikmati berbagai varietas arabika, mulai dari Aceh hingga Papua.
Oleh karena jenis dan rasanya yang beraneka ragam, arabika lebih banyak diminati daripada kopi robusta. Harganya pun lebih mahal karena perawatan tanaman arabika lebih sulit dibanding robusta. Sekitar 70% dari produksi kopi di dunia adalah jenis arabika.
2. Robusta
Tanaman kopi robusta ini bernama latin Coffea canephora var. robusta dan dipercaya pertama kali ditemukan di Kongo. Jenis ini sebetulnya merupakan subspesies atau varietas dari Coffea canephora.
Setidaknya ada dua varietas utama Coffea canephora, yaitu robusta dan nganda. Namun, di antara keduanya, robustalah yang lebih populer sehingga namanya sering digunakan untuk menyebut canephora.
Nama robusta diambil dari kata robust yang berarti kuat. Sayangnya, meski tanaman ini lebih kuat dan tahan terhadap gangguan hama dibanding arabika, kualitas buahnya lebih rendah.
Indonesia termasuk penghasil kopi robusta terbesar setelah Vietnam dan Brazil dalam perdagangan global. Lebih dari 80% perkebunan di Indonesia ditanami robusta.
Konon, dahulu robusta didatangkan ke Indonesia oleh Belanda untuk menggantikan produksi jenis kopi arabika karena perawatannya lebih gampang. Oleh karena inilah, tanaman kopi robusta lebih banyak ditemui di Indonesia daripada arabika.
Kopi robusta ini pernah mengantarkan Indonesia menjadi ladang pengekspor kopi terbesar di dunia.
Tanaman kopi robusta dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0-900 atau idealnya 400-800 meter dari permukaan laut. Suhu rata-rata yang dibutuhkan untuk tumbuh adalah sekitar 24-30 °C dengan curah hujan 1.500-3.000 mm per tahun.
Robusta memiliki rasa yang kuat, kasar, dan cenderung lebih pahit dibandingkan dengan arabika. Oleh karena itu, sangat cocok digunakan pada minuman kopi yang menggunakan campuran susu seperti latte, cappuccino, mochacino, dan olahan kopi susu lainnya. Selain itu, robusta juga banyak digunakan sebagai bahan baku kopi instan.
Biji kopi robusta memiliki harga yang lebih murah dari arabika. Hal ini disebabkan oleh perawatannya yang mudah dan sangat tahan dengan berbagai penyakit tumbuhan. Kopi robusta memenuhi sekitar 28% dari produksi kopi di dunia.
3. Liberika
Coffea liberica atau kopi liberika pertama ditemukan di negara Liberia. Banyak orang beranggapan bahwa tanaman ini berasal dari daerah tersebut. Padahal liberika juga ditemukan tumbuh liar di daerah Afrika lainnya.
Pohon liberika bisa mencapai tinggi 18 meter. Ukuran buahnya lebih besar dibanding arabika dan robusta. Meski buahnya besar, bobot buah keringnya hanya 10% dari bobot basahnya.
Penyusutan bobot ketika dipanen ini tentu kurang disukai oleh para petani. Ongkos panen menjadi lebih mahal. Hal ini membuat petani enggan mengembangkan kopi liberika sehingga produksi dan persebarannya tidak seramai arabika dan robusta.
Meskipun masih dibudidayakan di beberapa daerah, tingkat produksi liberika adalah yang paling rendah dari jenis lainnya. Produksi liberika kiranya hanya sekitar 1-2% dari produksi kopi dunia.
Excelsa
Ada satu varian kopi liberika populer yang pada mulanya dianggap sebagai satu spesies sendiri, yaitu excelsa. Seorang botanis asal Prancis, Jean Paul Antoine Lebrun mengklasifikasikan excelsa sebagai salah satu varietas dari liberika. Pada 2006, excelsa diakui dan diresmikan dengan nama ilmiah Coffea liberica var. dewerei.
Sejarah Kopi di Indonesia
Banyak orang menyangka kopi adalah komoditi asli Indonesia, padahal kopi bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman kopi berasal dari Ethiopia yang kemudian disebarkan oleh orang-orang Arab hingga menembus pasar Eropa dan Asia. Kopi masuk ke Indonesia pada saat masa kolonial Belanda yang menjajah dan melancarkan Sistem Tanam Paksa.
1. Masuknya Belanda ke Indonesia
Sejarah kopi di Indonesia bermula pada tahun 1696. Pada saat itu, Belanda atas nama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mendarat di Jawa membawa kopi dari Malabar, India. Kopi yang pertama kali dibawa itu merupakan jenis arabika.
Belanda berusaha membudidayakan tanaman kopi tersebut di Batavia, tapi gagal karena gempa dan banjir. Mereka tidak menyerah dan mendatangkan kembali bibit-bibit baru. Sebagian ditanam di tanah priangan dan dikenallah Java kopi.
Perkembangan budidaya yang cepat membuat Belanda membuka ladang-ladang baru di Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor, dan pulau-pulau lainnya di Hindia Belanda yang saat ini dikenal sebagai Indonesia.
Pada tahun 1700-an, kopi menjadi komoditas andalan VOC. Penjualan biji kopi dari Hindia Belanda (Indonesia) meledak hingga melebihi ekspor dari Mocha, Yaman ke beberapa negara di Eropa. Belanda pun memonopoli pasar kopi dunia pada waktu itu.
Pada saat itu, salah satu pusat produksi kopi dunia ada di Pulau Jawa. Secangkir kopi kemudian lebih populer disebut dengan cup of Java atau secangkir Jawa.
2. Robusta Menggantikan Arabika sebagai Komoditas Utama
( Wikimedia Commons)
Tahun 1876, hama Karat Daun menyerang hampir seluruh perkebunan kopi di Indonesia. Belanda kemudian mendatangkan jenis kopi lain, yaitu liberika. Namun, nasibnya sama, habis diserang karat daun.
Serangan hama tidak membuat Belanda kehilangan akal. Pada tahun 1900, mereka mendatangkan jenis kopi robusta yang lebih mudah perawatannya serta lebih tahan terhadap hama. Produksinya yang sangat tinggi membuat Indonesia sempat menjadi ladang pengekspor terbesar di dunia.
3. Kebangkitan Perkebunan Kopi Indonesia
Pasca kemerdekaan, setelah pemerintah Hindia Belanda meninggalkan Indonesia, laju perkebunan kopi pun sedikit terhambat. Namun, berkat kegigihan para petani dan nasionalisasi perkebunan eks pemerintahan Hindia Belanda, akhirnya perkebunan kopi lambat laun mulai bangkit dan berkembang.
Setidaknya ada satu novel karya Douwes Dekker berjudul Max Havelaar yang membantu mengubah opini masyarakat tentang Sistem Tanam Paksa. Noveltersebut berkisah tentang seorang pedagang kopi dan sekaligus kritik terhadap kesewenang-wenangan pemerintahan Hindia Belanda terhadap rakyat.
Oleh karena peran novel itu, maka ada salah satu produk coffee blend dari Indonesia yang menggunakan kata Havelaar sebagai nama produknya.
Tahun 2000-an, kopi Indonesia kembali melejit. Indonesia masuk dalam negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia.
Keanekaragaman cita rasa kopi yang tumbuh di berbagai daerah di Indonesia diakui oleh mancanegara.
Perkembangan Budaya Minum Kopi
Seiring berkembangnya zaman, budaya minum kopi pun berkembang. Setidaknya ada tiga gelombang yang menunjukkan jenis-jenis minuman kopi yang populer di dunia.
Pada sebuah artikel di Wrecking Ball Coffee Roasters tahun 2002, Trish Rothgeb mendefinisikan ada tiga pergerakan dalam dunia kopi. Ia menyebutnya dengan istilah gelombang atau waves.
1. Gelombang Pertama
Gelombang pertama dikenal dengan sebutan First Wave Coffee. Berawal di tahun 1800-an di mana kopi disiapkan untuk harga yang terjangkau dan mudah disajikan. Era ini memusatkan pada inovasi kemasan dan kepraktisan penyajian, yaitu kopi instan.
Kopi instan sangat mudah diterima masyarakat karena tak memerlukan alat yang ribet. Bahkan digunakan pula oleh para tentara pada Perang Dunia Pertama tahun 1917 sebagai minuman sehari-hari.
2. Gelombang Kedua
Munculnya gelombang kedua atau dikenal dengan Second Wave Coffee ini dikarenakan kopi instan dianggap buruk. Para peminum kopi menginginkan kopi yang nikmat serta pengetahuan tentang apa yang mereka minum itu. Boleh dibilang, gelombang ini merupakan kritik terhadap kopi instan pada gelombang pertama.
Era ini bermula tahun 1960-an dan kemudian mulai dikenal istilah-istilah dan sajian-sajian minuman kopi yang baru. Hal ini seiring dengan mulai bermunculan coffee shop yang menawarkan minuman kopi dengan gaya baru, yaitu espresso, latte, cappucino, frapucino, dan lain-lain. Orang-orang yang semula menikmati kopi secara instan di rumah maupun di kantor mulai berpindah ke coffee shop. Di coffee shop, orang-orang tak hanya datang untuk menikmati kopinya saja. Melainkan juga untuk mengobrol bersama teman terdekat atau membahas masalah pekerjaan.
3. Gelombang Ketiga
Istilah Third Wave Coffee muncul pada awal tahun 2000-an. Kemunculannya bersamaan dengan munculnya istilah First Wave dan Second Wave dalam pemetaan budaya minum kopi masyarakat dunia.
Gelombang ketiga atau Third Wave Coffee ini ditandai dengan mulai tertariknya para peminum kopi terhadap perjalanan kopi sejak dipanen hingga tersaji menjadi sebuah minuman. Orang-orang mulai merasa bahwa secangkir kopi memiliki cultural experience yang panjang dan sarat makna.
Perjalanan tersebut meliputi di mana asalnya ditanam, proses pengolahan biji, serta cara penyajiannya menjadi sebuah minuman.
Pada fase ini, muncul istilah origin, di mana digunakan sebagai identitas daerah atau kebun tempat jenis kopi tersebut tumbuh. Hal ini dilakukan agar kopi-kopi bisa lebih dikenali secara spesifik karena satu varietas kopi bisa melahirkan varietas dan cita rasa yang berbeda jika ditanam di daerah yang berbeda. Kualitas dan rasa kopi benar-benar diperhatikan secara dalam dan lebih mendetil.
Indonesia sendiri memiliki beberapa daerah penghasil kopi yang terkenal dan mendunia. Di antaranya ada Gayo dan Mandailing di Sumatra, Preanger di Jawa, Kintamani di Bali, bahkan hingga Flores dan Papua. Daerah-daerah tersebut memiliki jenis-jenis kopi dengan cita rasa yang unik dan berbeda.
Bukan Sekadar Minuman, Melainkan Kisah Peminumnya
Hampir di semua tempat, orang-orang menghadirkan kopi sebagai pelengkap beraktivitas. Mulai dari bangun pagi, di tengah-tengah pekerjaan, hingga pada saat bercakap hangat dengan kawan atau kolega. Bisa di rumah, di kantor, maupun gang-gang sempit di sudut kota.
Minuman legendaris ini bukan sekadar sebagai penghilang rasa dahaga saja, melainkan berisi kisah para peminumnya. Setiap orang memberikan makna tersendiri pada kopi yang ada di cangkirnya. Demikian pula cara menikmatinya yang tentu berbeda-beda.
Mungkin orang zaman dahulu tak menyangka tanaman misterius ini bisa menjelma jadi minuman yang populer sejagat raya.
Oleh karenanya, sangat baik bagi kita untuk mengetahui sejarah kopi untuk lebih mengenal dan memahami minuman hitam pahit ini. Toh mempelajari sejarah sama saja dengan menghargai kopi itu sendiri, demikian kami
lansir dari laman sasamecoffee.com/kopipedia
The Road To Java Coffee
Saat saya berjumpa Prawoto Indarto penulis buku The Road To Java Coffee maka saya makin terbuka sejarah panjang tentang kopi. Indah nian cerita itu. Kopi juga mewarnai sejarah bangsa Indonesia, itu kini memang makin digemari ditanah air. Kedai kopi hampir hadir di seluruh pelosok negeri.
Kopi adalah cerita indah dan meski hitam ia mencatat kisah Panjang sejarah. The Road To Java Coffee telah membuka pisau bedah yang tajam. Sebuah buku yang tuntas mengupas seluk beluk dan sejarah kopi di Indonesia terutama di Pulau Jawa.
Prawoto Indarto kini juga sibuk menyiapkan buka soal the. Prawoto adalah sosok yang sangat ow profile, rendah hati dan sebagaimana layaknya orang jawa ia kalem san santun.
Siang itu CSR Indonesia seperti didongengkan soal kopi dan the di tanah air ini. Inilah kisahnya.
Menurutnya kopi berawal pada sekitar abad 16, ketika VOC mendapat hak atau membuka kantor perdagangan di dua kota pelabuhan di Yaman yaitu Mocha dan Eden. Dimana dari dua kota pelabuhan ini kopi diedarkan ke seluruh jazirah Arab.
Belanda merasa memilki peluang untuk memasarkan kopi ke seluruh Asia dan juga Eropa yang sangat menguntungkan. Belanda mulai berpikir untuk memiliki kebun kopi sendiri sehingga dapat keuntungan berlipat.
Tahun 1658an Belanda yang menguasai Ceylon (Srilangka) dan menemukan satu kebun kopi dari para pedagang Arab. Dari situlah awal mula Belanda menemukan sistem budidaya tanaman kopi secara akurat dan sekitar 1696 dan tanaman kopi mulai dibawa ke Jawa. Ini yang belum banyak diketahui orang.
Tanaman kopi pertama kali ditaman oleh Belanda di Batavia di daerah yang namanya Kedawung, tapi gagal. Dan pada 1699 kembali ditanam di daerah bantaran sungai Ciliwung, Mister Cornelis, kampung Melayu dan beberapa tempat lain dan ini berhasil tumbuh dengan baik, termasuk di daerah Jawa Barat.
Pada 1706 benih dan hasil tanaman kopi dari daerah tersebut dibawa ke Amsterdam untuk diteliti dan ternyata hasilnya bagus. Lantas Amsterdam memerintahkan agar Gubernur Jenderal VOC menanam kopi di Pulau Jawa.
Untuk merealisasikan rencana itu kemudian Gubernur VOC mengumpulkan para bupati Priangan. Untuk menanam kopi ini butuh sumberdaya yang cukup banyak, sementara orang-orang VOC jumlahnya terbatas.
Periode pengumpulan ini yang disebut dengan koffee stelsel, dimana disitu disebutkan dengan tegas bahwa bupati Priangan harus menanam kopi dan ketika panen nanti hasilnya akan dibeli dengan harga yang telah ditentukan oleh VOC. Jadi Koffe stelsel ini murni perjanjian dagang antara VOC dan bupati Priangan. Inilah awal mula kopi ditanam di pulau Jawa dan sejak itu kopi menjadi komoditi yang mendunia, terutama sejak adanya tanam paksa.
Dikisahkan Prawoto bahwa Kopi Jawa pada eranya mengalami jaman keemasan dan menguasai pasaran kopi dunia kemudian menurun. Ceritanya, sekitar tahun 1870 di Pulau Jawa diserang satu hama yang membuat semua perkebunan kopi hancur, hanya satu tersisa di daerah Ijen, Jawa Timur, kemudian Belanda membawa benih kopi jenis Liberika tapi gagal. Pada tahun 1900 mulai ditanam lagi benih jenis Robusta, dan mulai saat itu terjadi pengalihan varitas tanaman kopi di Pulau Jawa dari yang semula dominan
Arabika beralih ke Robusta.
Apa beda Arabika dan Robusta?
Berangkat dari Ceylon tadi, jadi ahli tanaman kopi dari Belanda setelah berhasil menganalisa tanaman kopi dia menamakan dengan varitas kopi Arabika. Jadi kata kopi itu diambil dari kata kaffa, bahasa arab yang artinya kopi.
Sementara Arabika, karena tanaman kopi di Ceylon yang ditanam oleh orang Arab, sehingga dikira dari jazirah Arab, padahal bukan, tapi dari Ethiopia. Sementara Robusta adalah berasal dari Kongo, tapi Belanda mengambil dari Belgia. Di Indonesia saat dominan Robusta. Sementara 80 persen jenis kopi di dunia adalah jenis Arabika. Robusta didominasi oleh Indonesia dan Vietnam.
Indonesia dari segi kualitas sebenarnya Indonesia sangat potensial, karena tanahnya sangat cocok atau ideal untuk tanaman kopi. Oleh karenanya daerah Specialty Coffee yang paling banyak itu ada di Indonesia, saat ini ada 8 atau 9 daerah Specialty Coffee, mulai Aceh, Mandailing , Jawa, Bali, Flores, Toraja dan beberapa daerah lain.
Apa itu Specialty Coffee? Kopi ini adalah trend dan di pasar kopi dunia dimana produk itu harus special, artinya dari segi biji harus tanpa cacat dari aromanya dari proses pemetikannya juga harus memiliki SOP sendiri.
“Harus dari buah yang benar-benar matang dan merah, prosesnya juga harus benar dan sempurna. Jadi harus serba special. Saat ini di Indonesia mulai diarahkan untuk semakin banyak memroduksi specialty coffee karena di tingkat petani sangat menguntungkan, harganya jauh lebih tinggi dibandingkan kopi regular,” jelas Prawoto.
Saat Java Coffe dari Jawa Barat juara tahun 2014 maka para petani mengaku semua Specialty Coffee dimana sebelumnya sebelumnya adalah dominan Arabika, tapi Specialty Coffee kini ke robusta.
“Satu yang menarik dari specialty ini adalah adanya sertifikasi untuk masalah cita rasa, jadi ada ilmu tentang cita rasa yang akan menentukan specialty coffee ini, jadi tidak sembarangan, harus ada ahli yang menguji dan bersertifikat,”bebernya.
Pusat cita rasa kopi dunia saat ini ada di Amerika. Hingga saat ini pasar terbesar kopi dunia ada di Amerika. Di Amerika itu kopi sudah menjadi tradisi yang sangat kuat mulai dari level industri hingga masyarakatnya.
Tapi Prawoto memandang bahwa kita butuh waktu yang Panjang disaat gejala booming kopi saat ini terjadi. Masih banyak yang harus dibenahi, di sini kebun kopi kebanyakan masih sambilan. “Pada waktu itu kopi belum begitu menguntungkan petani, berbeda dengan Vietnam misalnya di Vietnam kebun kopinya benar-benar disupport pemerintah dan kebun kopi menjadi penghasilan utama para petani sehingga mereka benar-benar merawat. sementara di sini masih sebagai pekerjaan sambilan.
Itu juga yang menyebabkan mengapa produktivitas kopi di Vietnam jauh melebihi Indonesia. Di Vietnem satu hektar sudah mencapai 3 ton lebih, sementara kita baru 1 hingga 1,2 ton,”jelasnya.
Harusnya kini pemangku kepentingan industri kopi, mulai dari petani, pedagang, industri dan pemerintah harus menyamakan persepsi mengenai perkembangan industri kopi Indonesia ke depan. Jadi poinnya adalah kita memiliki peluang bagus dan terbuka untuk unggul di pasar kopi dunia. Jika ingin menikmati kopi-kopi asli jenis yang tersebut diatas, maka datang saja ke TOKOBIJIKOPIDUNIA #by 234Coffee di Kebagusan Raya 32 Jakartaselatan atau Hubungi 08999 234 234
Aendra Medita
www.CSR-INDONESIA.COM -dbd