YRII dan IPB Gelar seminar bertajuk Women and Girls at the Frontline of Climate Change

22

Yayasan Relief Islam Indonesia bekerjasama dengan Universitas Pertanian Bogor (IPB) mengadakan seminar internasional bertajuk ‘Women and Girls at the Frontline of Climate Change’ di hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Kamis (23/11/22).

Di Indonesia, perubahan iklim mengancam keselamatan, pendapatan dan pendidikan perempuan dan anak perempuan.

Kehidupan perempuan dan anak perempuan di Indonesia sangat terdampak oleh perubahan iklim, kata Islamic Relief dalam sebuah laporan penelitian tentang Adaptasi Perubahan Iklim dan Gender baru – baru ini. Bukti menunjukkan bagaimana perubahan iklim dalam bentuk banjir, kenaikan suhu, dan naiknya permukaan air laut menyebabkan hilangnya pendapatan dan hari-hari sekolah serta kesehatan mental yang buruk bagi perempuan dan anak perempuan, serta memaparkan mereka pada situasi berbahaya.

Wakil Gubernur NTB, Dr Hj. Sitti Rohmi Djalillah MPd, dalam acara seminar internasional bertajuk ‘Women and Grils at the Frontline of Climate Change’ ini mengatakan bahwa “di NTB pembangunan dibidang lingkungan itu menjadi hal yang kami letakkan pada porsi yang penting. Ada satu misi pada pembangunan di NTB Gemilang dan Ikhtiar Lestari yang merupakan pembangunan di bidang lingkungan dan hubungannya dengan pengaruh arus keutamaan gender”.

“Komposisi penduduk di NTB itu 50 % perempuan dan perempuan merupakan golongan yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim ini membawa dampak dalam berbagai aspek kehidupan perempuan baik dari sisi sosial, lingkungan, pangan, kesehatan, perekonomian”, papar wagub NTB.

Kemudian, ia menjelaskan potensi dampak bagi kaum perempuan yaitu menurunnya harapan hidup, penyediaan air bersih , rumah tangga, beban merawat keluarga yang sakit dan minimnya akses terhadap pelayanan kesehatan dll.

“Maka penting dan perlunya literasi, edukasi, gaya hidup, kesehatan dan ini sangat berpengaruh terhadap analisis gender dan resposif gender. Sehingga di NTB, porsi edukasi di dalam mensukseskan berbagai pembangunan di NTB menjadi hal yang sangat penting,” imbuhnya.

“Tantangan isue gender adalah yang utama pencapaian kesetaraan, keadilan dengan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan gender. Di satu sisi kaum perempuan terlibat secara umum dalam pengelolaan, pemeliharaan berbagai sumberdaya alam demgan tingkat interaksi yang tinggi terhadap lingkungan, kaum perempuan,” kata Sitti Rohmi Djalillah.

“Kami berharap dukungan bimbingan, krbijakan dan anggaran untuk penyelenggaraan kesetaraan gender, penyusunan program dan kegiatan untuk melaksanakan prinsip-prinsip dasar, memperkuat peran kaum laki-laki dan perempuan dalam oerwncanaan dan pelaksanaan terhadap mitigasi perubahan iklim,”tutupnya. (Yos/Jaksat)