Para Penyusun KUHP Baru Keblinger

73

Oleh Joni Sujarman (aktivis 98)

Dalam salah satu pasal di KUHP baru, tepatnya pasal 188 ayat 1 menyebutkan tentang pelarangan menyebarkan paham Selain Pancasila. Namun KUHP Baru tersebut hanya menyebut pelarangan menyebarkan Komunisme/ Marxism-Leninism. KUHP baru sama sekali tidak menyebut pelarangan menyebarkan paham Kapitalime.

Ini menunjukkan dan menjelaskan bahwa dalam pemikiran pembuat KUHP tersebut, bahwa ternyata Pancasila itu adalah bahasa lain dari Kapitalisme. Tegasnya, Kapitalisme yang disesuaikan dan diterapkan dengan karakter budaya Indonesia.

Padahal yang jelas-jelas terbukti anti Marxism itu adalah kolonial Belanda, Regime Fascism Soeharto Orde Baru.

Soekarno, sebagai penggali Pancasila, sandainya masih hidup, dan jika Soekarno baca KUHP baru dijamin bisa-bisa langsung stroke karena terancam masuk bui. Pasalnya, Soekarno sendiri mengakui kalau dia adalah Marxist. Karena begitu pentingnya soal Marxism, makanya ada Soekarno menulis soal Nasionalime, Islamisme, Marxisme. Tulisan ini pertama kali dimuat di surat kabar Suluh Indonesia Muda pada tahun 1926. Lalu tulisan ini dimuat juga dalam kumpulan karya Soekarno “Dibawah Bendera Revolusi” Jilid 1.

Begitu pula dengan para founding father Indonesia, hampir seluruh nya menganut paham Marxism. Baik itu Tan Malaka, Hatta, Sjarir, H.O.S Tjokroaminoto, dll.

Bahkan H.O.S Tjokroaminoto kalau saja menulis dan menerbitkan bukunya yang berjudul Islam dan Sosialisme hari ini mungkin beliau tidak saja batal dinobatkan jadi pahlawan nasional, tapi lebih dari itu juga bisa masuk bui.***