Keteladan Pemimpin

36

Oleh Yudi Latif

Saudaraku, pada momen genting yg menguji keberlangsungan bangsa, para pemimpin politik dihadapkan pada gugatan Mencius. “Adakah perbedaan antara membunuh manusia dgn belati dan membunuhnya dgn salah urus?” Tidak, jawab sang raja. Jika demikian, ujar Mencius, pastikan rumah tangga kerajaan tak menggelar pesta mewah dan mengoleksi kuda gemuk-gemuk, sementara rakyat sekarat kelaparan. Manakala pemimpin negara lebih memperhatikan rakyatnya ketimbang diri mereka sendiri, rakyat akan mengetahuinya dan membuat mereka setia pd pemimpinnya yg menjadikan negara kuat.

Dengan meluasnya tendensi “timokrasi” (kekuasaan gila popularitas), tata kelola negara dan perilaku pemimpin, bahkan dlm suasana negeri yg masih dirundung kerawanan dan bencana, cenderung mengedepankan kepentingan oligarkis, kehebatan permukaan dan unjuk kemewahan, ketimbang meringankan derita rakyat.

Begitu kuat daya pukau kekuasaan dlm mengubah watak seseorang dgn mengikis kemampuan mawas diri. Padahal, dgn mawas diri akan tersadar, kesusahan warga meraih kebahagiaan hidup disebabkan tabiat elit negeri yg tertawan ambisi kekuasaan, keserakahan dan gila hormat yg tak kenal cukup.

Sa’di berkisah, ”Seorang raja yg rakus bertanya kepada seseorang yg taat tentang jenis ibadah apa yg paling baik. Dia menjawab, “Untuk Anda, yg paling baik adalah tidur setengah hari sehingga tak merugikan atau melukai rakyat meski untuk sesaat’.”

Politik bisa membawa banyak perbedaan utk kebaikan maupun keburukan. Politik bisa jadi sumber kebahagiaan manakala para pemimpin bisa jadi simpul tali kasih, rasa solidaritas dan saling menghormati.

Pemimpin hrs menyadari bahwa jabatan kehormatan itu menuntut tanggung jawab melayani rakyat utk membuatnya hidup berkembang. “Apa yg kuharap dari anakku, sudahkah kuberikan teladan baginya. Apa yg kuharap dari rakyatku, sudahkah kupenuhi harapan mereka,” ujar Confusius.

Kepemimpinan negara itu pusat teladan, ibarat mata air yg darinya mengalir sungai-sungai kehidupan yg memasok air ke hilir. Mutu air di hulu akan memengaruhi mutu kehidupan di hilir.

Jernihkan mata air keteladan dgn meluruskan niat integritas. Niscaya Tuhan akan menunjuki jalan lurus.***