BEM SI Demo Tolak dan Batalkan Pengesahan KUHP

19

JAKARTASATU.COM — Sejumlah elemen mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melakukan aksi demonstrasi dan memperingatkan pemerintah bahwa Indonesia adalah negara hukum.

Hendaknya pemerintahan terkait pada konstitusi dan menolak dan batalkan pengesahan KUHP Hapus pasal-pasal yang bermasalah dalam KUHP.

Massa BEM SI long march dari Gambir menuju patung kuda dengan aksinya membawa keranda dan delman dimana dipasang foto Presiden Jokowi di depannya.

Koordinator Pusat BEM SI, Yuza Agusti, mengatakan keranda menyimbolkan demokrasi sudah mati, dan delman serta kuda yang dibawa sebagai bentuk simbolik yang

“Artinya pemerintah sekarang banyak ditunggangi oleh oligarki,” ujarnya di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat kepada wartawan Selasa (20/12/2022).

Polisi mengerahkan ratusan personel untuk mengamankan aksi demonstrasi mahasiswa dari BEM Seluruh Indonesia (SI) di patung kuda ini.

“Kita coba bawa simbolik nih di belakang kuda sama keranda jadi kuda, delman ini memang menandakan ya bagaimana cara kepemimpinan Jokowi seperti ini sebenarnya gitu. Yang coba untuk menjalankan bukan dia sendiri ternyata oligarki yang ada di belakangnya,” ujar Yuza.

Sedangkan terkait keranda yang dibawa, Yuza menyebut itu sebagai simbol demokrasi yang telah mati. “Itu sebenarnya cuma jadi gambaran bahwa sebenarnya seperti sebuah mayat yang sebenarnya sudah mati lah, sari demokrasinya. Untuk sebenarnya untuk gambar Jokowi itu sebenarnya sebagai gambaran aja,” kata dia.

Selain itu Yuza menyampaikan rencana pihak mahasiswa sedang menyiapkan aksi-aksi ke depannya, diantaranya soal penolakan KUHP. Pihak mahasiswa bukan hanya menyiapkan aksi demonstrasi, tapi juga menyiapkan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Sekarang kita lagi merencanakan hal tersebut tapi kemungkinan enggak cuman aksi massa ya, karena perencanaan KUHP ini kan baru berlaku 3 tahun lagi, masih banyak revisi-revisi yang bisa diusahakan,” ungkap Yuza.

Yuza menjelaskan gabungan mahasiswa pada aksi kali ini dari perwakilan dari 20 kampus yang berbeda. Mahasiswa itu berasal dari wilayah di Jabodetabek, Banten, hingga Jawa Tengah.

“Jabodetabek, Bogor lah, terus dari Banten juga ada buat ikut sekarang. 20 (kampus) cuman memang dikit-dikit kalau ada perwakilannya, bahkan ada yang dari Jawa Tengah,” pungkas Yuza.

Aksi BEM SI diisi dengan orasi-orasi dari perwakilan kampus, pembacaan puisi, menyanyikan lagu naik delamam dengan lirik demokrasi telah mati.

Aksi ditutup dengan pembacaan tuntutan oleh Koordinator Pusat BEM SI, Yuza Agusti,
Ada lima tuntutan yang disampaikan pendemo, yakni:

1. Memperingatkan pemerintah bahwa Indonesia adalah negara hukum dan pemerintahan terkait pada konstitusi
2. Tolak dan batalkan pengesahan KUHP
3. Hapus pasal-pasal yang bermasalah dalam KUHP
4. Berikan jaminan kepastian hukum dengan asas hukum yang berkeadilan guna terwujudnya penegakan hukum yang tidak tumpah-tindih
5. Hentikan praktik-praktik yang bersifat otoritarian dan junjung tinggi kembali demokrasi.

(YOS/JAKSAT)