Pelajaran Berharga dari Pangeran Diponegoro dan Raden Mas Tirto Adhi Surjo

21

Ada pelajaran berharga dan hikmah ketika kita menelisik kembali riwayat hidup Raden Mas Mustahar atau kelak dikenal dengan Pangeran Diponegoro dan Raden Mas Tirto Adhi Surjo yang kelak sejarah mengenang beliau sebagai pionir dan pemrakarsa awal Pers Nasional pada 1901-1903. Bahwa orang yang menjauh atau berjarak dengan lingkungan dekatnya, justru mengasah bakat2 atau keutamaan yang dimiliki leluhurnya.

Tentang Diponegoro sudah sering saya tulis jadi tak perlu saya singgung kali ini. Tirto Adhi Surjo, lahir dan tumbuh berkembang, antara 1880 hingga wafat pada 1918, sehingga fase antara 1902-1910, jadi dalam rentang usia antara 22 hingga 30 tahun, punya cara pandang yang berbeda dengan umumnya orang orang yang sejaman. Bukan saja bakat khususnya tapi juga kualitas jiwanya. Bahkan karakter politiknya, ketika seturut kiprahnya sebagai saudagar dan jurnalis, kemudian terjun ke kancah pergerakan memotori berdirinya Sarekat Dagang Islam.

Usut punya usut, sama halnya dengan Diponegoro yang sebetulnya tulen darah biru, Tirto tidak diasuh langsung orang tuanya melainkan neneknya, Raden Ayu Tirtonoto. Kebetulan kakeknya, Raden Mas Tumenggung Tirtonoto, pernah jadi bupati Bojonegoro, yang waktu masih di bawah karesidenan Rembang.

Riset mendalam dan penuh ketelitian oleh Pramudya Ananta Toer, dalam bukunya bertajuk Sang Pemula, terungkap bahwa Tirtonoto masih turunan langsung Pangeran Sambernyowo alias Raden Mas Said. Kelak jadi Raja Mangkunegara I Solo.

Dari sini saja nyata terlihat Tirto memang turunan orang2 yang berjiwa pejuang dan punya dorongan kuat menegakkan keadilan. Tak peduli kalau akhirnya bukan saja berhadapan dengan saudara2nya sendiri, bahkan dengan kolonial Belanda sekalipun. Kakek Tirto gegara sesuatu hal akhirnya dicopot sebagai bupati Bojonegoro karena dianggap pembangkang.

Neneknya, Raden Ayu Tirtonoto, putri Kanjeng Pangeran Aryo Hadinegoro, Solo, juga termasuk berjiwa pemberontak. Bahkan gegara sikap keras neneknya ketika bertengkar dengan pejabat tinggi Belanda ketika menuntut hak suaminya yang baru saja wafat, namun pihak Belanda menolak, maka Raden Ayu Tirtonoto sempat.ngucap di depan Gubernur Jenderal Belanda Otto van Rees:

“Jika benar Pemerintah bersanggup begitu, maka anak cucu hamba akan hamba suruh mencari pahala dalam kemiskinan, artinya tidak dengan pertolongan, hanya dengan tenaganya sendiri.”

Tidak semua cucu Raden Ayu Tirtonoto bergerak di dunia swasta seperti kelak ditempuh Tirto Adhi ketika merintis awal mula pers perjuangan sebagai Pengawal Pikiran Umum. Ada juga yang tetap berkarir sebagai pegawai tinggi Belanda seperti kakak kandungnya, Raden Mas Said.

Pengaruh neneknya terhadap jiwa Tirto, apalagi setelah insiden dengan gubernur jenderal Otto van Rees, rupanya sangat merasuk dan kelak jadi benih benih terbentuknya etos orang merdeka: percaya diri sendiri, berdiri di atas kaki sendiri, tidak takut pada kemiskinan, tidak takut tidak berpangkat. Unsur-unsur pembentukan pribadi yang tidak dikenal oleh saudara2 Tirto lainnya dari kasta kraton.

Tirto yang merintis awal mula pers nasional sebagai pembentuk.opini publik bermula dari koran berkala Pembrita.Sunda, lalu mencapai puncaknya ketika menerbitkan Medan Priayi. Sampai akhirnya belanda menilai Tirto lewat pers telah menelanjangi praktik2 sistem penjajahan buah persekongkolan penjajah dengan kasta feodal yang notabene Tirto berasal.

Seperti ungkapan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya memang benar. Pangeran Sambernyowo atau Mangkunegara I awalnya bersekutu dengan Pangeraran Mangkubumi, kelak jadi Sultan HB I Yogyakarta, melawan raja mataram Amangjurat II yang bersekutu dengan belanda. Ketika solo dan yogya dibelah pada 1755, pada 1757 Raden Mas Said lantaran berselisih paham dengan HB I, akhirnya dapat kraton Mangkunegaran Solo, bergelar Mangkunegara I.

Namun lepas soal politik kraton, kalau Tirto Adhi kelak menjadi sosok anomali yang keluar pakem kaum feodal, memang ada gen pejuang juga berasal dari para leluhurnya.

Gegara ulah Tirto Adhi bikin onar mengusik tatanan penjajahan dan feodalisme yang saling membutuhkan, pria yang pernah sekolah kedokteran ini sempat dibuang ke Lampung, dan kali kedua ke Ambon.

Namun ada satu catatan sampingan yang mengusik saya pribadi bahwa Tirto yang bangsawan tulen jawa tapi berjiwa pemberontak ternyata punya ikatan khusus dengan Maluku Utara, khususnya kepulauan Bacan. Tirto berjodoh dengan Prince Fatimah, putri raja Bacan.

Menariknya, meski Pram mengakui bahwa data data terkait hubungan emosional Tirto Adhi dengan Maluku sangat terbatas, namun sastrawan yang pernah jadi jurnalis ini secara jeli melihat bahwa sekembalinya dari maluku, tulisan2 Tirto makin galak dan tajam. Apa yang mengusik benak Tirto selama di maluku ? Mungkin ini bisa jadi penelitian tersendiri yang tak kalah menarik.

Yang jelas buat saya pribadi, yang pernah berkunjung ke Ternate dan Halmahera Utara, dan bertemu kawan2 dari maluku utara, saya merasa seperti bertemu orang-orang jawa.

Hendrajit