Dari Sidang Bambang Tri Mulyono dan Gus Nur, Jaksa Jelaskan Terkait Ijazah Pak Jokowi itu Asli Atau Tidak?

99

JAKARTASATU, SOLO —Sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama dan ujaran kebencian yang digelar di Pengadilan Negeri Surakarta Ruang kelas 1A Kusuma Atmadja hari ini Selasa (3/01/2023). Mereka sebanyak 6 saksi dihadirkan dalam sidang lanjutan saksi yang dibawa oleh jaksa penuntut umum di sidang dengan terdakwa Bambang Tri Mulyono dan Sugi Nur Rahardja (Gus Nur) itu.

Agenda persidangan kali ini ada 6 saksi yang dihadirkan dari berbagai latar belakang. Mereka adalah Kepala Sekolah (Kapsek) SDN 111 Tirtoyoso Surakarta, Martharini Christiningsih, Kapsek SMPN 1 Surakarta Salim Ahmad, teman SMP Presiden Joko Widodo (Jokowi), Edy Kuncoro, Ketua Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) Bintang Saputra, Awaludin bin Sanusi, dan Koordinator Aliansi Merah Putih Fahmi.

Kasus awalnya dari podcast kedua terdakwa di akun YouTube Gus Nur 13 Official soal mubahalah menjadi dasar kesaksian. JPU mengajukan 23 saksi dalam persidangan ini yang akan pihaknya hadirkan. Sedangkan saksi ahli ada 7 orang. Sampai sidang ke 3 ini  sudah 12 saksi yang diperiksa. Aprilianto mengatakan saksi yang akan dihadirkan berikutnya adalah Kepsek SMAN 6 Surakarta dan sejumlah teman Jokowi.

“Bintang dan Awaludin ini memberikan dukungan kepada Polri untuk menindaklanjuti podcast itu, dan bersurat agar dipidanakan agar tidak menimbulkan keresahan,” kata JPU Apriyanto Kurniawan di Pengadilan Negeri (PN) Solo.

Sementara Martharini Christiningsih, Salim Ahmad, dan Edy Kuncoro dihadirkan untuk memberikan keterangan ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) asli atau tidak. Sedangkan Fahmi dihadirkan sebagai koordinator aksi unjuk rasa di Bareskrim Polri oleh Aliansi Merah Putih usai adanya konten kedua terdakwa.

“Yang 3 orang (2 Kepsek dan teman Jokowi) yang menjelaskan terkait ijazah pak Jokowi itu asli atau tidak, mulai dari SD-nya Pak Jokowi,” kata jaksa.

Kuasa hukum kedua terdakwa Eggi Sudjana mengatakan saksi yang dihadirkan JPU dianggapnya tidak berkualitas dalam kasus dugaan ijazah palsu Presiden Jokowi.

Dia menuturkan, dari 7 saksi yang sudah memberikan keterangan, kesaksiannya dianggap hanya asumtif semata. Mereka tidak bisa membuktikan keaslian ijazah Jokowi.

“Dari minggu lalu, saksi yang ditampilkan berkategori tidak berkualitas. Diukur dalam beberapa hal, seperti banyak lupa, tidak mengalami, tidak melihat, tidak mendengar, tidak mengetahui dalam kasus nya tentang ijazah asli Jokowi,” jelas Eggi.

Sidang akan dilanjut Selasa pekan depan dan kemungkinan masih pemeriksaan saksi. (FES/JAKSAT) Foto-foto Feko Supriyadi