Ingin jadi The King Maker?

69
Hendrajit, Pengamat Geo Politik Dunia/ jaktsat.

Agenda tersamar Jokowi bukan ingin 3 periode, itu cuma tema. Tapi ingin jadi the king maker untuk  ikut atur atur dalam pencapresan 2024 nanti.

Sayangnya pidato Mega berdurasi 2 jam itu sama sekali tidak merespons agenda Jokowi. Tetap nenegaskan 2024 tetap pemilu. Juga tidak menyinggung siapa capres yang diusung PDIP. Entah itu Ganjar atawa yang lainnya.

Dari sebab Mega hingga detik ini belum memunculkan Ganjar sebagai capres atau calon lain, maka Anies sebagai capres usungan Nasdem pun jadi kehilangan relevansinya.

Malah secara tak terduga, kotak pandora tiba tiba membuka dirinya sendiri.

Nggak ada angin nggak ada hujan, Surya Paloh bilang siap mencabut pencalonan Anies asal diminta Jokowi ini. Lho, kenapa Paloh harus membawa bawa Jokowi untuk mencabut pencalonan Anies?

Bukankah selama ini terbangun persepsi bahwa Jokowi mendukung Ganjar? Sebaliknya, bukankah Zulvan Lindan anggota DPR dari Nasdem bilang Anies itu antitesis Jokowi? Jadi, apa pesan tersirat di balik kalimat bersayap Paloh?

Atas sebab Mega belum memunculkan Ganjar sebagai capres, maka Anies sebagai capres usungan Nasdem pun jadi kehilangan momentumnya sebagai obyek permainan tiktok.

Makanya tiba-tiba Paloh bilang siap mencabut pencalonan Anies asal diminta Jokowi ini menarik.

Dari keanehan alur cerita ini saya berkesimpulan, saya mulai bisa melihat isi kotak pandoranya.

Ketika Anies dan Ganjar gagal dijadikan mainan TikTok  istana seturut tidak dimunculkannya Ganjar sebagai capres usungan PDIP, maka naluri bisnis Surya Paloh yang berbicara. Mainan tidak gayung bersambut, malah melihat gelagat bisa boomerang.

Maka berkata Surya Paloh, siap mencabut pencalonan Anies kalau Jokowi yang minta. Meski dalam pernyataan itu Paloh berdalih demi keutuhan koalisi partai partai pro pemerintah, buat saya tetap saja nggak masuk akal. Dalih ini baru benar ketika Nasdem dan PDIP satu haluan politik dalam mengusung satu calon. Senyatanya PDIP belum mengambil sikap meski banyak yang yakin Mega pada dasarnya tetap mempertimbangkan Ganjar sebagai salah satu calon kuat.

Jadi menurut saya, alur keanehan cerita karena adanya komplikasi di dalam kaukus politik yang melibatkan Paloh, Jokowi, Luhut dan JK. Yang mana niat sesungguhnya bukan mau mengusung Anies, tapi sekadar sebagai sasaran antara agar kaukus politik ini punya harga tawar kuat sebagai King Maker.

Namun misi ini keguguran sebelum lahir. Sebab skenario king maker baru bisa berjalan ketika Anies dan Ganjar diumpan-lambungkan dalam kancah permainan. Sayangnya, Ganjar tetap diperam dalam kantong Mega.

Hendrajit, senior jurnalis dan GFI