HENDRAJIT: Kalimat Dramatik Pidato Megawati Siratkan Adanya Konsesi, Tawar Menawar, Setara, Sejajar

96
Hendrajit, wartawan senior dan pengkaji geopolitik./YOS

Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) dan juga senior jurnalis Hendrajit membedah pidato ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Sukarnoputri. Pandangan Hendrajit memberikan gambaran yang tajam dramatik. Berkut hasil ungkapannya kepada Jurnalis JAKARTASATU.COM

JAKARTASATU.COM — PIDATO Ketua Umum PDIP Megawati di HUT PDI P yang ke 50 ada banyak kalimat yang menarik misalnya: Pak Jokowi Kalau Enggak Ada PDI-P, Kasihan Deh , “Pak Jokowi itu kayak gitu lho, mentang-mentang. Lah iya, padahal Pak Jokowi kalau enggak ada PDI Perjuangan juga, aduh, kasihan deh,” Selain itu Megawati juga mengingatkan, secara ketentuan, dukungan PDI-P merupakan syarat legal formal agar Jokowi bisa menjadi presiden.

Dari kacamata Hendrajit ungkapkan kalimat dramatik dari pidato Megawati di HUT PDIP ke 50. Kalimat-kalimat yang menarik dari pidato tersebut sebetulnya dramatik saja, tidak kemudian mengartikan top down tapi ada kesejajaran. Seperti misalnya kalimat dramatik petugas partai, yang diusung oleh partai. Nah ini kan sesungguhnya ada kesepakatan politik. Kesepakatan politik, di sini sejajar,” ujarnya saat ditemui di kantornya di Bilangan Kebayoran Baru Blok M Jakarta Selatan.

Dalam Wawancara khusus itu juga yang dilakukan pada 16 Januari lalu Hendrajit memberikan contohnya bahwa, Megawati menyebut-nyebut BPIP dalam pidato HUT PDIP ke 50, ia sebutkan saya akhirnya mau diminta untuk duduk di BPIP. Bahkan Megawati selain di BPIP diberi tempat di BRIN sebagai penasehat.

“Ini menyiratkan adanya konsesi, tawar menawar, setara, sejajar. Jadi bukan top – down semata,”jelasnya.

Selain itu Hendrajit membedakan kader tulen partai dan kader yang masuk ke untuk suatu kepentingan yang saat itu untuk pencapresan. Jokowi tidak sama seperti Hasto Kristyanto, Effendi Simbolon yang merupakan kader tulen. Jokowi datang dari luar partai yang ditarik masuk ke dalam partai, tentu ini ada perhitungan, pertimbangan- taktis. Jokowi bisa mendulang suara dengan partai terkait legislatif dan sekaligus capres 2014-2019, 2019-2024 nanti. Ada keuntungan di kedua belah pihak, mendulang suara untuk legislatif juga untuk Jokowi sendiri dalam pencapresan.” bebernya.

Jokowi pernah menggelar rapat di atas kapal perang di Natuna untuk menggertak China, apa gunanya/IST

Cara-cara untuk terarah menjadi King Maker kata Hendrajit adlaah kalimat-kalimat menarik dari pidato Megawati ini bisa kemudian, Jokowi menjadikannya proses menuju ke King Maker. Setelah dua kali Jokowi terpilih jadi Presiden, kemudian meningkat sebagai King Maker. Untuk menjadi King Maker ini kan bisa dengan cara-cara konslet dengan Mega dan PDIPnya.”

Kendati demikian menurut Hendrajit menarik ucapan Surya Paloh yang mengatakan mencabut dukungan kalau itu perintah Pak Jokowi.

“Kalau diasumsikan PDIP mengusung Ganjar, tapi kan dalam prakteknya , proses seakan-akan ganjar mau dicalonkan PDIP maka Nasdem memprovokasikan dengan menunculkan Anies Baswedan yang bisa jadi bukan untuk emdukung tepi untuk memancing kekuarnya dukungan Megawati untuk Ganjar. Tapi Megawati tidak terpancing.

KIB akan usung duet Airlangga-Anies? | IST
Airlangga-Anies | IST

Dalam perkembangannya jika memang Jokowi King Maker mestinya diam-diam Jokowi dukung Anies melalui Surya Paloh – Nasdem. Menjadi menarik ketika Paloh katakan saya siap mencabut dukungan kalau itu perintah Pak Jokowi. Ini menunjukkan adanya otoritas Jokowi.

Di sini menarik ucapan Surya Paloh tersirat kepentingan untuk jadikan Jokowi King Maker. Ini kan bisa mendukung terjadinya kriris tesis – antiseis Anies – Ganjar,”tegasnya.

Foto : Istimewa

Megawati dari sejak awal Surya Paloh memunculkan nama Anies Baswedan hingga saat pidato Megawati di ultah PDIP ke 50 tidak atau belum menyebutkan pencalonan Ganjar atau siapa calon yang mau diusung. Maka Mega selalu katakan nanti tunggu bulan Juni.

Analisa Hendrajit dalam acara HUT PDIP ke 50, Megawati tidak menyebut-nyebut nama capres yang mau diusung bahkan tidak menyebut-nyebut nama Ganjar. Sementara kehadiran diacara itu posisi duduknya di jajaran belakang sebagaimana kader lainnya. Ini tidak bisa disebut bahwa Ganjar sudah selesai. Dalam hal ini Megawati sebenarnya ada keberatan King Maker dengan skenario menghadapkan Anies – Ganjar. Dan ini bukan skenario Magawati.

Menurut pandangan Hendrajit bahwa Ganjar adalah sebuah kemungkinan, bisa juga kemungkinannya Ganjar -Anies yang bukan skenario luar tapi skenario yang membuat Mega nyaman.

Jika hal itu benar maka Jokowi bukan faktor yang bisa memaksakan manuver yang membuat diri Mega tidak kondusif.

Kembali ke soal Paloh yang terkesan akan mencabut dukungan, jika Anies punya kartu penambahan dukungan dari koalisi selain nasdem. Kalau PDIP bisa maju sendiri tanpa harus ada koalisi. Di lain pihak, masih tanda tanya bagaimana Demokrat, PKS, Koalisi PIB samapinsaat ini belum jelas haluan pokitiknya. Apakah ke Anies, ke Ganjar atau kocokan baru. Perkembangannya masih dinamis.

Tapi memang yang menarik itu ucapan Paloh yang menyebut seakan-akan tarik dukungan yang imagenya adalah dukungan dari Jokowi sementara kan Jokowi itu ke Ganjar. Seperti di acara GBK dengan menyebut rambut putih maka yang terbangun persepsi bahwa Jokowi dukung Ganjar.

“Dengan Paloh menyebut seperti terakhir ini, jadinya ada komplikasi. Dan Jokowi bersama Mega bisa saja tetap Ganjar dengan bargain baru. Maka Anies sudah tidak diperlukan lagi,”tutupnya. (YOS/JAKSAT)