RIGHT OR WRONG IS MY COUNTRY

47
Memet Hakim, Pengamat sosial | JAKSAT

RIGHT OR WRONG IS MY COUNTRY

Judul diatas diucapkan Winston Churcill, Perdana Mentri Inggris semasa Perang Dunia II. Ini merupakan semboyan nasionalisme yang dipegang hingga kini. Semboyan yang berarti “benar atau salah adalah negaraku”. Saya hanya mengabdi pada negaraku saja. Itu sih semboyan dan sikap yang dipegang pemimpin Inggris

Pimpinan memiliki pemahaman bahwa ia harus memimpin berdasarkan pengangkatan, dalam artian suka atau tidak suka bawahannya ia tetap menjadi orang yang memimpin suatu jabatan. Makna pemimpin adalah ia memimpin berdasarkan pengakuan oleh bawahan, dalam artian memang yang pantas memimpin.

Nah presiden itu merupakan pimpinan yg dipilih oleh sebagian rakyat, tapi berkuasa seolah olah untuk seluruh rakyat. Menteri juga sama seperti itu, ditunjuk untuk mengurusi bidang tertentu, sesuai kemauan presiden.

Kalo DPR bagaimana ? Ini berbeda tentunya, disebut Yang Mulia, karena kedudukannya mulia sekali sebagai pilihan rakyat (boleh beli suara), harusnya berfikir dan bertindak atas nama rakyat, tapi kenyataannya bertindak dan berpikir atas nama partai. Lebih tepat sebenarnya disebut Yang Munafik, karena perilakunya. Bahkan dalam kasus tertentu justru membela yang menyakiti rakyat Dalam bahasa kasarnya manusia seperti ini disebut penghianat, melanggar amanah yang diberikan rakyatnya. Tidak semua memang, hanya bisa disebut mayoritas.

DPD lain lagi, anggota DPD mewakili daerah, jumlah pemilihnya juga lebih besar dari para DPR. Kalaupun ada anggota partai disini, sama sekali tidak mewakili partai. Sikap anggota DPD lebih luwes, makanya kadang sejalan dengan keinginan Presiden kadang sejalan dengan keinginan rakyat.

Bagainama dengan MPR baru ini, anggota MPR adalah anggota DPR plus DPD, jadi suaranya bermuara ke partai juga, karena jumlah anggota DPR yang paling dominan. Itulah sebabnya kita perlu MPR yang sesuai dengan UUD 45 yang jumlah utusan golongan, utusan daerah dan partai seimbang, sehingga kedaulatan dipegang oleh rakyat bukan oleh partai.

Bagaimana sikap pimpinan negara
Indonesia
, tampaknya mereka memegang motto RIGHT OR WRONG IS FOR CHINA, mengerikan sekali. Lihat saja proyek IKN, reklamasi, Kereta Api Cepat Bandung-Jakarta, investor bebas pajak, Omnibus law, Perpu Cipta kerja, Second home base policy, turn key. Project, pembangunan bandara di kota2 kecil, ebijakan KTP dan lain sebagainya. Semuanya terlihat seolah menyediakan penduduk & tentara RRC datang dan pindah ke Indonesia. Selain itu jika ada masalah seperti di Morowali tka China dibela abis-abisan, tk lokal dibantai begitu rupa. Selain itu tka dan investor China yang bebas pajak ini menjadi arogan, apalagi Polisi dan TNI ikut membela China. Entah rakyat Indonesia ini siapa yang bela.

Nah dari uraian diatas, apa yang bisa dibanggakan dari para pimpinan kita ? Yang jelas China dalam berdagang tidak mengenal etika, suap, tekan, ancam, bunuh itu merupakan cara mereka, mereka tidak mengenal agama, jadi tidak takut pada Allah. Para petinggi kita yang sudah kena perangkap sulit bisa keluar lagi dari lingkaran tersebut. Sangat berbeda dengan sikap dagang kaum pribumi yang memiliki etika yang baik dan takut kepada Allah. Artinya pimpinan negara kita memang positip menghamba pada RRC dan menekan rakyat jelata. Pimpinan seperti ini tidak pantas jadi Pemimpin Indonesia.

Pimpinan Indonesia sudah menjadi tawanan RRC, tidak bisa keluar lagi, makanya mati-matian ingin bertahan 1 periode lagi menjadi 3 periode. Celakanya partai2 yang hanya memikirkan isi perut saja, rame2 mendukung, bahkan Kepala Desa dengan iming-iming periode jabatan 6 tahun diperpanjang menjadi 9 tahun ikut mendukung, padahal 6 tahun juga udah kelamaan.

Bagaimana yang lainnya, seperti para menterinya, Ketua partai ? Mereka berlomba menggaruk kekayaan rakyat dan ikut menghamba pada pemimpin bangsa lain. Sungguh berbanding terbalik kondisinya. Bahkan snggota dpr (sengaja huruf kecil, sekecil manfaatnya buat rakyat), saat pileg rame2 minta dukungan rakyat, setelah jadi mereka menghianati rakyat dengan disepakatinya berbagai undang2 yang menusahkan rakyat. Setelah jadi anggota dpr mereka setia pada partai dan apa saja yg jadi duit, termasuk ikut mengabdi pada bangsa lain. Sungguh ini penghianatan atau kemunafikan yang bukan main.

Bagaimana dengan aparat ? Lihat saja perilakunya, sudah jauh menyimpang dari yang didambakan oleh rakyat. Kesetiaan mereka hanya untuk kekuasaan dan harta. Bagaimana dg TNI , rasanya sama saja, mereka rame2 menjadi penjilat supaya bisa cepat naik pangkat. Sumpah setia pada Negara sudah dilupakan, tinggal yang sisa setia pada atasan dan uang. Lihat saja investor Cina yang merugikan negara justru dilindungi. Faham komunis yang dulu diperangi oleh para seniornya dengan korban darah dan jiwa, sekarang justru menjadi teman, sehingga harus dibela.

Pada konsdisi seperti ini, banyak komponen rakyat seperti Mahasiswa, Buruh, Emak2 dan Umat yang demo untuk mengoreksi kebijakan penguasa, tapi dimana para petinggi partai dan partai berada ? Belum pernah terdengar ada pemimpin partai atau dpr
yg menjadi pemimpin demo bersama rakyatnya, mereka justru hadir saat memutuskan UU yg merugikan rakyat. Pasti tidak semua seperti itu, tapi mayoritasnya memang seperti itu.

Ingin rasanya mendengar Pang5 TNI mengusir tka yang kurang ajar dan memerangi komunis yang sudah merayap kesemua lini. Ingin rasanya TNI kembali ke jati dirinya, menjaga negara seutuhnya bersama rakyat. TNI mandiri, tidak membebek pada instansi lain. Ingin rasanya polisi bersikap seperti waktu dipimpin oleh Jendral Hoegeng. Gunakanlah right or wrong is my country sebagai penyemangat anggota TNI dan Rakyatnya.

Bandung, 24 Januari, 2023
Memet Hakim
Pengamat Sosial