Hilirisasi, Pembangunan Berkelanjutan dan Penyelamatan Lingkungan

Oleh : Salamuddin Daeng

Bagaimana caranya memompa ekonomi nasional namun pada saat yang sama kita menyelamatkan lingkungan? Dua masalah seolah olah bertengan oleh adanya anggapan kalau mau memajukan ekonomi maka harus mengorbankan lingkungan terutama hutan. Padahal itu anggapan yang keliru dalam konteks Indonesia. Negara ini bisa maju sekaligus bisa menyelamatkan lingkungkungan hidup.

Caranya adalah melakukan hilirisasi sumber daya alam untuk menghasilkan komoditi ekspor dengan nilai tambah yang semakin besar. Kebijakan ini akan menghasilkan pendapatan negara yang makin tinggi dan menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha yang makin luas.

Apakah itu akan menyelamatkan lingkungan? Tentu saja! Dengan hilirisasi maka eksploitasi SDA bisa dibatasi. Apa yang membatasi yakni kebutuhan industri nasional itu sendiri. Indonesia hanya akan melakukan eksploitasi SDA sesuai dengan jumlah kebutuhan industrinya. Jadi pengerukan kekayaan alam bisa dibatasi, ijinnya bisa dibatasi, kapastitas produksimya bisa dibatasi, sesuai dengan kapasitas industri dan daya dukung lingkungan.

Apa yang terjadi selama ini? Sebelum usaha industrialisasi atau hilirisasi dijalankan? Indonesia melakukan eksploitasi dan memproduksi bahan mentah untuk ekspor, kapasitasnya tidak terbatas, ekspor yang sebesar besarmya untuk mendapatkan devisa. Padahal semakin besar produksi, makin ekspor harga makin jatuh. Komoditas ekspor Indonesia dikontrol asing, harganya diatur negara industri, ya ujung ujungnya harganya murah. Lalu Indonesia terus memperbesar eksploitasi SDA dan ujung ujungnya lingkungan rusak.

Memberi Pada Dunia

Apa yang tejadi di Indonesia selama ratusan tahun sebenarnya harus disadari bahwa negara ini telah memberi banyak apa yang dimiliki bagi pembangunan dunia, bagi kemajuan industri di negera negara barat, bahkam bagi kejayaan mereka dalam keuangan dan perdagangan. Sehingga apa yang terjadi di Indonesia sekarang, semisal kerusakan lingkungan, maka pihak global, perusahaan multunasional dan negara Industri maju harus ikut juga bertanggung jawab terutama dalam usaha usaha pemulihan lingkungan di masa mendatang sesuai dengan perjanjian internasional.

Coba kita lihat datanya bagaimana kontribusi Indonesia terhasap perdagangan komoditas. Indonesia merupakan produsen tembaga ke-9 terbesar di dunia, urutan pertama produsen nikel terbesar di dunia, urutanke-13 produsen bauxite di dunia, urutan ke-2 produksi timah di dunia, urutan ke-6 produksi emas di dunia, urutan ke-16 produksi perak di dunia, urutan ke-11 produksi gas alam di dunia, urutan ke-4 produsen batu bara di dunia, produksi CPO (minyak sawit) terbesar atau urutan 1 di dunia, urutan ke-8 penghasil kertas di dunia, urutan ke-22 penghasil minyak di dunia, urutan ke-2 produsen kayu di dunia, dan lain sebagainya.

Indonesia memiliki cadangan besar dalam gas alam, batu bara, minyak, tembaga, emas, timah, bauxite, nikel, timber, serta kekayaan hayati dan biodiversitas yang besar. Sekarang Indonesia mendapat julukan sebagai climate super power. Jadi dengan kekayaan alam oksigen kita yang melimpah, bisa menjadi kunci bagi penyelamatan iklim global. Penyelamatan iklim ini sedang didorong melalui strategi investasi, perdagangan dan keuangan iklim. Skema yang digunakan adalah transisi energi, penurunan emisi dan perdagangan karbon. Semuanya menguntungkan Indonesia.

Sekarang Indonesia akan terus memberi pada dunia baik memberi komoditas perdagangan bernilai tambah, juga memberi oksigen pada dunia dengan melakukan usaha usaha significant di bidang lingkungan hidup, terutama melakukan usaha reforestasi. Usaha ini menuntut komitmen bersama global untuk mendukung agenda pembangunan berkelanjutan Indonesia melalui usaha hilirisasi sumber daya alam.

Meyakinkan Barat

Saat ini kita menghadapi tantangan besar baik dari dalam maupun dari luar negeri. Tantanganya adalah membangun kembali Industri nasional. Pihak luar tidak mengendakinya karena mereka meletakkan Indonesia adalah penyedia bahan mentah murah untuk menopang industri di negara maju. Sementara dari dalam negeri belum satu pandangan dalam usaha hilirisasi dikarenakan kepentingan ekonomi dan politik yang berbeda beda. Masih banyak pihak yang menikmati ekspor bahan mentah atau raw material meskipun itu merugikan bangsa dan negara.

Namun tantangan yang paling besar memang datang dari dunia barat. Eropa mengajak sekutu sekutumya menggugat Indonesia ke WTO. Indonesia dianggap melanggar prinsip perdaganan bebas. Pembatasan ekspor bahan mentah sumber daya alam yang dilakukan Indonesia dipandang sebagai gangguan bagi pasar bebas dan dipandang sebagai bentuk pembatasan perdagangan. Menghadapi hal tersebut Indonesia telah mengajukan upaya banding.

Pihak Eropa kurang menyadari bahwa usaha Indonesia melakukan pembatasan ekspor adalah usaha untuk membangun industri di dalam negeri. Usaha ini sebenarnya adalah strategi kunci dalam menahan laju eksploitasi bahan mentah untuk ekspor yang jika dibiarkan maka laju kerusakan lingkung Indoneaia tidak akan terkendali. Bayangkan saja bahan mentah Indonesia menjadi rebutan perusahaan multinasional? Dari perusahaan besar sampai perusahaan menengah. Betapa parah kerusakan lingkungan pada akhirnya.

Perlu diketahui bahwa sumber daya alam Indonesia terutama mineral dan bahan tambang itu sebagian besarnya ada di kawasan hutan. Jika usaha membatasi ekspor SDA bahan mentah tidak dilakukan maka itu akan berkorelasi dengan meningkatkan deforestasi di Indonesia. Jika itu terus berlanjut maka dampak dari kerusakaan hutan tidak hanya akan dialami Indonesia, akan tetapi oleh seluruh dunia, mengingat Indonesia adalah paru paru dunia.

Dengan kebijakan Industri nasional atau hilirisasi maka seharusnya negara negara Eropa dapat datang ke Indonesia untuk melakulan investasi dalam rangka membangun Industri. Jadi dengan demikian maka perusahaan perusahaan Eropa dapat mengirim barang barang yang bernilai tambah tinggi ke negeri negeri mereka. Indonesia tentu sangat membuka diri bagi investasi dari negara manapun di atas prinsip azas perlakuan yang sama sebegaimana yang diatur dalam UU penanamam modal Indonesia.

Pembangunan Berkelanjutan

Usaha menahan laju kerusakan lingkungan di Indonesia dan di seluruh dunia adalah dengan mendorong agenda pembangunan berkelanjutan. Usaha semacam itu di Indonesia dapat dilakukan dengan mengurangi laju deforestasi, menurunkan emisi dan membangun lingkungan industri nasional yang ramah lingkungan. Hanya dengan membangun industri nasional, maka Indonesia dapat menahan laju kerusakan lingkungan terutama hutan, menciptakan pekejerjaan masyarakat dan menambah kas negara atau uang pemerintah. Industri atau pengolahan adalah kata kunci dalam menahan laju kerusakan lingkungan tersebut.

Usaha membangun industri nasional bukan usaha yang baru. Sejak lama sejak Indonesia merdeka telah berencana untuk bertransformasi menjadi negara industri. Namun usaha tersebut selalu mengalami hambatan politik yakni pergantian kekuasaan dari era Sukarno, lalu digantikan Suharto, lalu berganti era reformasi yang kesemuanya selalu mendistorsi usaha negara untuk menjadi negara industri. Rencana rencana yang digagas pemerintahan sebelumnya tidak dapat berlanjut pada pemerintahan baru atau pemerintahan berikutnya. Keberlanjutan telah menjadi sesuatu yang sangat sulit.

Usaha meletakkan dasar dasar yang kuat bagi hilirisasi sumber daya alam yang dilakulan pemerintahan saat ini adalah hal yang harus berlanjut dan tidak dapat dihentikan. Bukan hanya sebatas hilirisasi sumber daya alam tambang yang berada di bawah payung hukum UU Mineral dan Batubara (Minerba), namun juga diperluas kepada komoditas lainnya. Indoneaia telah melakukan hilirisasasi sawit dan akan berlanjut ke gasifikaai batbara. Salah satu pasangan capres cawaprea yakni pasangam 02 dari tiga pasangan kandidat yang bertarung telah menetapkan rencana tertulis akan melakukan hilirisasi 21 komoditas strategis. Ini tentu langkah yang perlu didukung bagi pembangunan ekonomi dan penyelamatan lingkungan secara menyeluruh.

Jika melihat sejarah maka usaha membangun industrialisai akan terpulang pada usaha Indonesia mengatasi hambatan politik. Konsolidasi politik melalui persatuan nasional bagi pembangunan industri nasional melalui hilirisasi harus menjadi agenda bersama elite politik. Mereka harus rela mengorbankan kepentingan pribadi dan golongan bagi agenda nasional ini, tidak hanya sebagai usaha memompa ekonomi namun juga sebagai usaha mendukung pembangunan berkelanjutan, menyelamatkan lingkungan hidup Indonesia bagi penyematan iklim global. Mudah mudahan.