Puan Maharani dan Megawati IG @puanmaharaniri
Puan Maharani dan Megawati IG @puanmaharaniri

Oleh : Memet Hakim
Pengamat Sosial

Mega memimpin partai PDIP yakni partai terbesar di negeri ini. Katanya partai wong cilik, tapi menghadapi 1 keluarga Jokowi saja tidak berdaya. Mega hampir kehilangan momentum yang baik.

Dikala kampus telah bersuara, mahasiswa telah bergabung, umat dan para tokoh telah bersatu, apalagi yang ditunggu. Masih menunggu Jokowi semakin membabi buta ?

Ketua DPR Puan Maharani, anaknya Megawati yang tersohor sebagai tukang mematikan “mike” di ruang sidang, sepertinya sangat berkuasa, tapi sama saja dengan ibunya tIdak berdaya menghadapi Jokowi.

“Puan sebagai Ketua DPR menerima para tokoh yang tergabung dalam Petisi 100 saja tidak berani, selalu cari alasan untuk menghindar.” Padahal ini kesempatan emas bagi Puan untuk memperlihatkan pembelaannya pada wong cilik, sesuai jargon partainya. Kesempatan pula untuk membantu paslonnya supaya lebih dipercaya rakyat banyak.

Pertanyaannya mengapa ibunya yg Ketua partai terbesar dan anaknya yang Ketua DPR tidak berdaya menghadapi seorang petugas partai ? Banyak analisis tentang hal ini, salah satunya yang sangat masuk akal, yakni Jokowi “memegang kartu kelemahan” mereka. PDIP terkenal dengan kadernya diduga yg terbanyak tersangkut korupsi. Hal ini sebenarnya wajar daja karena memang partainya terbesar. Inilah alasan paling masuk akal.

Partai lainpun diduga disandera dengan kasus yang serupa, sehingga tidak berkutik dan akhirnya seperti kerbau dicocok hidung. Apapun kemauan Jokowi pasti didukung.

Kasus Johni G Plate misalnya langsung dieksekusi, karena Nasdem memilih capres yang tidak disukai Jokowi. Keberanian SP untuk melawan, memang ada korban, tetapi sekarang Nasdem telah menjadi partai yg merdeka. Begitu pula PKB.
Nah apakah Mega & Puan dan keluarga begitu takutnya ditahan oleh petugas partainya sendiri ? Jawabnya harus tanya pada rumput yang bergoyang.

Menurut kalkulasi diatas kertas, “memakdzulkan Jokowi akan menguntungkan seluruh partai.” Seluruh partai akan terbebas dari sandera Jokowi, sehingga benar-benar dapat menentukan langkah sendiri. Jika Jokowi lengser, tentu tidak punya kuasa lagi untuk memerintahkan KPK atau aparat lainnya untuk menakut nakuti.

Pilihannya mau bebas merdeka atau mau jadi tawanan ? Mana yg lebih terhormat. Para pendukung partai tentu ingin melihat pimpinannya terbebas dari kekawatiran atau ancaman.

Menurut sumber yg layak dipercaya Gibran anaknya Jokowi akan dijadikan presiden setelah PS memerintah selama 2 tahun. Jika benar info ini, tentu saja mengerikan.

Resiko terburuk, jika ditangkap dan diperiksa KPK, kan prosesnya panjang, pilpres sudah dilalui pula. Presidennya sudah ganti dengan yang baru. Logikanya berani berbuat ya harus nerani bertanggung jawab.

Soal kenyamanan sebagai pimpinan DPR atau partai, toh cuma 10 bulan lagi sampai bulan Oktober 2024. Resiko pengorbanan 10 bulan dibanding kenikmatan yang telah diperoleh selama 48 bulan, gak ada artinya.

Jika rakyat tidak dapat berharap pada DPR, MPR tentu akan mencari jalannya sendiri. Jangan sampai ini terjadi, karena yang merugi adalah bangsa Indonesia sendiri. Rakyat hanya ingin pilpres berjalan dengan jurdil, tanpa kecurangan dan rekayasa. Rakyat sudah tidak mau lagi dipimpin oleh Jokowi yang tamak dan pelanggar etika dan konstitusi. Adakah yg salah dengan keinginan tersebut ?