Gerakan Penyelamat Demokrasi Dan Kedaulatan Rakyat, Adhie Massardi : Buah Semangka Berdaun Sirih Jangan Pilih Pemimpin Tak Beretika

JAKARTASATU.COM— Sejumlah tokoh nasional yang tergabung dalam Gerakan Penyelamat Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat menyampaikan peringatan kepada Presiden Jokowi, Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), TNI dan Polri agar menjaga proses demokrasi melalui penyelenggaraan Pemilu benar-benar berlangsung jujur dan adil (jurdil). Jakarta, Jum’at 9/2/2024

Penyelamat Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat berkumpul untuk menyatakan perlawanan terhadap perusak demokrasi. Melihat terjadi kerusakan demokrasi yang massif. Kejahatan terhadap demokrasi yang dilakukan Joko Widodo hingga timbulkan reaksi dari kalangan akademisi, ahli-ahli hukum,  budayawan, tokoh – tokoh agama-agama, dll

Dalam awal pembukaan pertemuan Adhie Massardi berpantun: Buah Semangka Berdaun Sirih, Jangan Pilih Pemimpin Tak Beretika. Selanjutnya Adhie sebutkan kerusakan demokrasi dengan pelanggaran berat etika telah menjadi sorotan  di dalam dan luar negeri.

“Menabrak etika itu sama dengan merusak agama. Etika merupakan puncak agama. Etika hubungan antara umat  manusia dengan penciptanya. Etika dalam agama bagaimana komunikasi  humanis hubngan dengan seluruh alam,” ujar Adhie

Adhie mengemukakan puncak etika ini adalah demokrasi. Di dalam pemilu ini kenapa etika penting dalam pemilu. Karena etikalah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk , mana yang layak dan tidak layak, mana yang halal dan mana yang buruk.

“Agama merupakan puncak peradaban tapi ketika peradaban dibunuh maka hancur dan mati peradaban manusia,” tandas Adhie

Lebih lanjut Adhie ungkapkan pemilu ini memilih orang-orang yang beretika , yang berperadaban. Sementara apa yang terjadi sekarang ini ? Dengan keterlibatan Presiden dan jajaran pejabat negara dalam pemenangan capres-cawapres 02 (PRABOWO-GIBRAN), kami melihat adanya potensi penyalahgunaan kekuasaan untuk pemenangan itu. Mengingat pergantian kekuasaan dalam kerangka demokrasi, sangat tergantung pada pemilihan umum yang jujur, adil, bebas dan rahasia, maka kami memandang perlu mengingatkan presiden, pemerintah dan penyelamat negara untuk menjauhi tindakan-tindakan kecurangan.

Pemilu harus jurdil, menghasilkan suara rakyat, menghasilkan tokoh yang dipilih oleh rakyat, bukan melalui kecurangan atau konspirasi,” kata Adhi Massardie, Jubir Gerakan Penyelamat Demokrasi dan Keadilan Rakyat, dalam konperensi pers di NAM Center, Kemayoran, Jakarta, Jumat (9/2/2024) sore.

Mantan Jubir Presiden Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi meminta pemerintah memperhatikan suara-suara yang disampaikan kalangan kampus, masyarakat sipil, tokoh-tokoh nasional, bahkan tokoh-tokoh agama terhadap pelaksanaan demokrasi di tanah air yang cenderung menyimpang.

Adhi meminta meminta menghentikan dulu iklan ‘Pemilu Damai’ sebelum azas Jurdil betul-betul dilaksanakan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat.

“Kekuasaan itu milik rakyat, bukan Presiden atau Pemerintah,” tegas Adhi .

Ditempat yang sama, tokoh nasional Bachtiar Chamsyah yang merupakan tokoh sentral dalam pertemuan ini menyinggung maraknya suara kerisauan dari kalangan kampus itu.

Mantan Menteri Sosial (Mensos) Bachtiar Chamsyah mengatakan, kondisi saat ini seperti tahun 1966 saat Bung Karno yang saat itu sudah ditetapkan sebagai Presiden seumur hidup akan jatuh.

“Kondisi yang sama juga terjadi pada 1998 saat Pak Harto hampir-hampir seperti presiden seumur hidup,” jelasnya.

“Kampus-kampus bergejolak itu artinya ada kondisi berbahaya bagi masa depan bangsa,” tutur Bahtiar.

Bachtiar Chamsyah menuturkakan keinginan setiap kepemimpinan untuk berkuasa selamanya, berkuasa seumur hidup di negara manapun akan menimbulkan reaksi penolakan dari rakyatnya. Yang terakhir bagaimana terjadi gerakan reformasi 98 itu akibat dari Presiden Soeharto ingin berkuasa selamanya hal mana terjadi ketika Bung Karno yang ingin berkuasa seumur hidup

Sementara mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko menyoroti kekuasaan Presiden Jokowi yang kelewatan, mengatur perubahan konstitusi untuk mempertahankan kekuasaannya melalui pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai Cawapres.

“Kami akan selamatkan demokrasi dan kedaulatan rakyat,” tegas Soenarko seraya menambahkan, pihaknya akan melakukan segala cara untuk menegakkan kedaulatan rakyat.

Soenarko menyebut Jokowi tidak tahu malu jika tidak mendengar keprihatinan publik yang disampaikan kalangan kampus dan tokoh-tokoh masyarakat.

Adhi menambahkan, dirinya merasa akan ada ‘goro-goro’ atas sikap cuek Presiden Jokowi terhadap suara keprihatinan kalangan kampus, tokoh-tokoh nasional, dan para pemimpin agama.

Jika terjadi sesuatu, Adhi Massardi mengingatkan tugas TNI dan Polri adalah mengamankan Presiden bukan kekuasaan.

Tokoh hadir dalam kesempatan itu antara lain Ahmad Yani (Pengacara), Prof. Hafidz Abbas (mantan Ketua Komnas HAM), dan Syahganda Nainggolan (SMC), Edy Mulyadi (Aktivis), dan Hendry Harmen. (S-4).  (Yoss)