Dirty Vote

By Hendrajit

Saya nonton Dirty Vote dengan benak pikiran terbuka menyerap berbagai kemungkinan temuan baru dan spektakuler. Jadi semacam hasil temuan investigasi.

Namun kesan saya ini semacam Risk Assesment Analyisis dan Early Warning Report dalam bentuk seminar yang difilmkan. Sehingga saya menunggu-nunggu kapan saat plot dramatik itu tiba. Ternyata tak kunjung tiba.

Sebagai karya film buat saya bagus bagus aja. Sebab Risk Assesment Analysis yang jadi muatan film itu, berguna untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang tak terduga.

Cuma sebagai film yang sifatnya dokumenter, maka sebagaimana juga film cerita, kesan saya plotnya lamban dan kurang meramu berbagai peristiwa sehingga menimbulkan efek dramatis. Sehingga opini pakar cukup dipetik pernyataan singkatnya yang dirasa cukup bernas. Lantas dikonfrontir dengan aneka peristiwa terkait judul film-nya. Bukannya para narasumber dibiarkan ngomong bertele-tele kayak curhat.

Selain itu gini. Ini film karya Dandy ini kan dokumenter jadi bayangan orang awam pun namanya dokumenter itu kan mewartakan peristiwa yang sudah terjadi. Padahal konotasi judul film ini mau memberi kesan seakan pemilu 14 Februari 2024 sudah berlangsung. Padahal kan baru akan. Bukannya peristiwa yang sudah lewat.

Lantas bagaimana kualitas filmnya itu sendiri?

Tentu saja saya tak berharap Dandy bikin sesuatu yang spektakuler kayak Oliver Stone waktu bikin JFK atau Michael Moore waktu bikin Fahrenheit 9/11. Tapi film yang penuh siaran kata ketimbang adonan ragam peristiwa yang bermuara pada judul film, menurut saya tidak tercapai.

Ini semacam seminar atau konferensi yang difilmkan, hanya saja topiknya memang menarik. Jadi film ini disikapi secara proporsional saja. Nggak usah eforia tapi juga nggak usah kebakaran jenggot.