Aksi simpati
Aksi simpati "PEMILU DAMAI, TANPA KECURANGAN" Jaringan Rakyat Kota Jakarta (JRKJ)

BERUSAHA dengan berbagai cara, tentu berbeda menghalalkan segala cara. Hari ini kurang dari 24 jam terakhir menjadi spasi krusial. Esok sudah tiba saat pencoblosan Pemilu 2024. Rabu, 14 Februari tahun naga.

Di sebuah grup WA, muncul pesan simpatik sore tadi. “Saudara-saudaraku yang sedang berjuang, semoga hari esok membawa kemenangan. Apa pun hasilnya, kita syukuri — semua karunia Allah Swt”. Ya, esok hari merupakan ettape terakhir. Langkah panjang perjuangan sudah dilalui.

Sekurangnya dua hal krusial. Menanti harapan jumlah suara, setelah masa kampanye 75 hari. Mengantar do’a untuk bisa terpilih. Dari sebutan caleg (calon legislatif) menjadi aleg (anggota legislatif). Krusial kedua, jurus pamungkas atau masih ingin menyerang di injury time. Waktu yang terluka. Lebih pada pilihan langkah untuk “memastikan” hasil akhir. Meski tiada kepastian di sana. Semua serba teka-teki.

Spasi pendek itu lazim disebut “serangan fajar”. Serbuan berlaku di antara lewat tengah malam hingga fajar, sebelum waktu pencoblosan. Dimaksudkan, menguatkan atau bahkan merubah peta pilihan kepada caleg tertentu. Sebuah cara penggiringan menuju bilik suara.

Nilai transaksi “serangan fajar” biasanya melebihi standar sebelumnya. Konon rerata 100 ribu, maka gerakan separuh malam terakhir bisa meningkat berlipat hingga minimal 300 rb. Per seorang per satu suara. Wow..!

Hasil akhir tak bisa dipastikan 100 prosen. Bila mengacu teori lost agent, hanya sepertiga harapan suara. Duapertiga lainnya tercecer di tikungan. Itu cuma kalkulasi, bergantung pada keyakinan si pelaku.

Cukup banyak caleg yang ikut kontestasi, semata pemenuhan kuota. Mirip _go show_ dalam mendapatkan tiket perjalanan atau hotel. Bukan berangkat dari proses penjaringan, apalagi seleksi berjenjang alias ketat. Karuan, hasil akhir tak sulit diprediksi.

Pada kondisi seperti di atas, menjadikan tingkat persaingan antarcaleg tak cukup berlangsung. Bahkan diharapkan oleh sementara caleg yang punya kesiapan logistik melebihi umumnya. Itu pula yang termonitor di lapangan. Sebatas marak atribut kampanye. Minim penampakkan tingkat kompetisi. Masih bertalu di permukaan. Konon, lebih ramai di belakang layar. Deal or no deal ?!

– Imam Wahyudi (iW)
jurnalis senior di Bandung