ATMOSFER POLITIK “PEMAKZULAN JOKO WIDODO”

MN LAPONG SH
Presedium PRRI

Apa yang kita lihat akhir akhir ini dari kampus civitas akademika yang telah bereaksi, mewanti wanti anti pemilu curang oleh cawe-cawe politik dinasti Joko Widodo, sedang mengingatkan bahwa demokrasi dan kehidupan berbangsa sedang tidak baik baik saja. Para guru besar sebenarnya ingin mengatakan bahwa situasi hari ini sudah keluar dari amban batas toleran terhadap sikap Joko Widodo dalam meletakkan ambisi kekuasaannya dalam kontestasi pemilu 2024. Kampus sebagai institusi pusat akal sehat sudah tidak bisa toleran dengan apa yang dipertunjukkan Joko Widodo sebagai seorang Presiden yang diikat oleh konstitusi.

Mahasiswa sebagai bagian terpenting institusi kampus bahkan sudah meneriakkan secara vulgar soal “Pemakzulan Joko Widodo” sebagai Presiden, karena dinilai telah memporak porandakan demokrasi dengan politik dinastinya, dan massifnya prilaku KKN dilingkaran keluarga presiden.

Seperti berlomba saja, jauh lebih awal puluhan perhimpunan ormas, LSM dan kumpulan aktivis yang tergabung dalam PETISI 100 secara konsisten sudah meneriakkan pula hal yang sama soal Pemakzulan Joko Widodo jauh sebelum Pemilu 14 Februari 2024.

Jika kita menoleh kebelakang sejak Mei dan Oktober 2019 hingga hari ini kelompok Buruh yang tak puas dengan UU Omnibuslaw seperti Federasi Buruh PPMI, Konfederasi Buruh Merdeka Indonesia, Federasi Buruh Serikat Aneka Sektor dan SBSI 92, dalam berbagai aksi turun kejalan sudah berteriak dan mengerek spanduk besar dengan Tulisan “Joko Widodo Mundur!.”

Bentuk ketidak puasan masyarakat – warga negara juga dapat dilihat dari percakapan dan status ribuan grup grup WAG dan media sosial lainnya yang tersebar seantero jagad, yang melihat hari ke hari situasi NKRI sedang tidak baik baik saja.

Ketidakpuasan publik terhadap situasi hari ini makin bergejolak dengan pelaksanaan Pemilu yang amburadul, ada intimidasi aparat, dan penggunaan aparat untuk pemenangan paslon yang didukung Joko Widodo, seperti tuduhkan AIMAN mantan Jurnalis Kompas TV yang menjadi Tim Pemenangan Ganjar Mahfud yang sekarang sibuk terperiksa aparat polisi.

Dirty Vote yang diartisi oleh 3 Pakar Tata Negara (Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar), yang tampil profesional sebagai Narator dalam film dokumenter tersebut, semakin menyudutkan posisi rezim Joko Widodo sebagai pelaksana Pemilu yang dinilai “curang TSM”. Bahkan menurut dugaan Jusuf Kalla mantan Wapres RI dua kali itu berkomentar, menyebutkan bahwa kecurangan yang ditampilkan dalam Dirty Vote itu baru sekitar 25 %. Nah lho semakin panas deh !?

Kecanggihan elektronik IT yang dimiliki oleh nitizen yang menyebarkan kejanggalan-kejanggalan praktek pemilu “abuse of power” apa lagi seusai pencoblosan 14 Februari 2024 kemaren baik yang terjadi di seluruh pelosok tanah air maupun yang terjadi di luar negeri, misalnya di KBRI. Pun beredar begitu cepat ke media sosial, para nitizen seakan berlomba di minta atau tidak ikut menyebarkan dan meramaikan media sosial layaknya sadar bahwa pemilu kali ini tidak baik-baik saja dan harus ikut dikawal demi menyelamatkan demokrasi yang sudah cenderung menjadi “democrasy.”

viralnya berbagai kecurangan di media sosial yang begitu cepat, menambah syahwat politik akal sehat membuat atmosfir politik jagad raya Indonesia menjadi panas dengan “Atmosfir Pemaksulan” Presiden Joko Widodo.

Viralnya pertemuan Bu Megawati dengan Surya Paloh, seakan memberi isi narasi politik Jusuf Kalla, apa lagi komentar Sri Sultan soal kritik para guru besar kampus yang bernarasi “Kampus Nggak Usah Takut.”

Jika narasi Sri Sultan diartikan sepotong sepotong, “Nggak Usah Takut.” Ini bisa menjadi call penanda bakal panasnya situasi politik sebagai proses awal seperti keinginan para pengeritik dan oposisi menuju pemakzulan presiden.

Jangan-jangan chaos politik yang di prediksi pakar intelijen dan mantan Ketua BIN Hendro Priyono, bener-bener bakal terjadi, sebagai situasi politik yang sedang hamil tua.

Kemana arah nasib bangsa ini besok? Kita semua sedang menunggu takdir waktu ilahi yang bergerak menorehkan sejarah bangsa ini oleh para pelaku suatu drama yang bermakna sebab akibat.

Aksi sama dengan reaksi, aksi yang di timbulkan menuai sama dengan reaksi balik yang ditimbulkan (Hukum gerak Newton)

Atmosfir Pemakzulan Jokowi hanyalah reaksi pantulan balik dari suatu aksi, kini sedang mencari arah jalannya, jadi atau tidak? Wallahualam Bissawab!

Seorang kawan aktivis mengirimi saya gambar anak kecil berdiri sambil menyandar pada dinding tembok, menunduk, merenung dengan bendera merah putih menutupi separuh badan, dengan narasi :

“Walau tidak berada dalam barisan yang ikut cawe-cawe pemilu 2024, bersyukur aku tidak ikut menyumbang kerusakan, kesengsaraan dan malapetaka bagi bangsa dan negara.

Rorotan Village, 15 Februari 2024