Orasi Dosen Muda UII Pada Aksi Unjuk Sikap Civitas Academika UII Yogyakarta

JAKARTASATU.COM— Civitas Academika UII Yogyakarta beserta para alumni dan mahasiswa UII, ramai-ramai mengadakan unjuk sikap terhadap situasi terakhir yang berkembang di dunia perpolitikan nasional satu bulan paska pemungutan suara pada Pemilu 2024. Kamis, 14/3/2024.

Satu orasi menarik disampaikan oleh Karina Dewi, dosen prodi Hubungan Internasional UII yang membacakan pernyataan sikap dari perwakilan para dosen muda UII Yogyakarta. Kepada redaksi Karina membagikan naskah orasinya seperti di bawah ini :

Saudara-saudara,

Kami berdiri di sini, mewakili akademisi muda Universitas Islam Indonesia, bukan mewakili kepentingan kelompok politik tertentu, bukan untuk mendukung atau menentang paslon tertentu, namun sebagai ungkapan keprihatinan kami terhadap kondisi demokrasi di Indonesia yang kian sekarat sejak beberapa tahun terakhir. Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang selama ini dikenal sebagai sosok yang dicintai rakyat, justru menjadi garda depan dalam merusak nilai-nilai demokrasi. Hasilnya, di permukaan, demokrasi Indonesia seolah tidak ada masalah dan justru makin berdaya. Narasi Indonesia emas kian membahana.

“Padahal, rakyat dikecoh dengan muslihat nir etika oleh penguasa. Apakah kita akan diam?,” ujar Karina

Lanjut Karina Dewi, Kami berdiri di sini, sebagai ungkapan kegelisahan atas terjadinya abuse of power atau penyalahgunaan kewenangan oleh pemerintahan Presiden Jokowi dalam melanggengkan kekuasaan dan politik dinasti. Presiden Jokowi yang kian digdaya justru melemahkan aktivitas elektoral yang seharusnya berjalan dengan independen dan bersih. Tanpa rasa malu, Presiden Jokowi mengintervensi Mahkamah Konstitusi, demi sang putra sulung, Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden. Apakah kita akan diam?

Kami berdiri di sini, sebagai ikhtiar melawan upaya-upaya terstruktur yang menghilangkan fungsi checks and balances dalam pemerintahan. Partai politik tidak lagi bekerja dengan baik dan kehilangan independensi. Mereka justru menjelma menjadi pengincar kekuasaan, menjadi pemuja Presiden Jokowi demi mendapatkan jabatan, dan menjadi perantara para oligark demi pundi-pundi uang. Sejalan dengan kemunduran itu, kebebasan sipil terus memudar, ruang aman dan bebas untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah semakin berkurang, serta independensi lembaga peradilan semakin melemah. Apakah kita akan diam?

Saudara-saudara, kita tidak boleh diam. Kita harus melawan!

Kita harus melawan, mengembalikan penegakan hukum dan keadilan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, bukan hukum yang melanggengkan otoritarianisme penguasa. Indonesia adalah negara hukum, bukan negara kekuasaan, bukan negara milik Presiden Jokowi.

Kita harus melawan dan tidak boleh diam melihat berbagai muslihat nir etika Presiden Jokowi yang berujung pada pelemahan demokrasi. Sebagai warga negara, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga keutuhan demokrasi dan menegakkan supremasi hukum. Pantang bagi kita membiarkan kebijakan yang merugikan hak-hak rakyat dilakukan tanpa tanggung jawab. Tindakan untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan harus terus dilantangkan, tanpa pandang bulu.

Kita harus melawan dan saatnya kita bersatu untuk menguatkan demokrasi dan menegakkan prinsip-prinsip keadilan. Jangan biarkan Indonesia terjerumus ke dalam otoritarianisme dan praktik korupsi yang mengakar. Sejarah akan mencatat. Masa depan negara ini tergantung pada keberanian dan keteguhan kita dalam melawan segala bentuk ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan. Mari bersama-sama memperjuangkan Indonesia yang lebih baik, yang berdasarkan pada nilai-nilai demokrasi dan supremasi hukum.

Izinkan kami menutup dengan pesan Martin Luther King Jr. “The ultimate tragedy is not the oppression and cruelty by the bad people but the silence over that by the good people.” Tragedi sesungguhnya bukan opresi atau kekejaman dari orang-orang jahat namun orang-orang baik yang diam melihat itu.

Saudara-saudara, jangan diam. Bersama kita lawan. Selamatkan demokrasi Indonesia dari ancaman kematian!

(Yoss)